Press "Enter" to skip to content

Social Media atau Media Mainstream?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Social media yang saat ini masih didominasi oleh facebook secara signifikant telah menjadi media tanpa batas tanpa kendali semenjak pengguna internet meningkat pesat yang tidak lagi tergantung pada notebook, laptop, dan pc yang bersifat statis dan tidak portable. Smartphone dan  mobile gadget telah memudahkan pengguna internet memiliki akses kesetiap sumber berita.

Kenapa sosial media menjadi pilihan utama?

Media besar atau media mainstream pada umumnya menampilkan berita yang textual dan normatif. Kebenaran atau ketidakbenaran berita yang ditampilkan bergantung kepada idealisme pewarta dan media yang bersangkutan. Berpegang pada idealisme dan kode etik jurnalistik atau media tersebut memang diperuntukkan untuk subjektiv, berpolitik, dan terkadang secara sadar atau tidak sadar menampilkan berita yang tidak berimbang atau bahkan tidak berdasar.

Sosial media yang bersumber dari individual menjadi alternativ media yang dipercaya dikarenakan pada sifatnya yang lebih aktual dan murni. Beberapa tokoh nasional misalnya Fahri Hamzah yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI memiliki fan page di facebook yang hingga saat ini diikuti sekitar 360 ribu facebooker. Setiap postingan dan analisanya, suka tidak suka telah memberikan nuansa yang berbeda dibandingkan dengan cara penyajian berita di media mainstream.

Presiden Jokowi juga memiliki fan page yang terhitung hingga saat ini diikuti oleh 8 juta facebooker. Setiap postingan dari tim fan page atau barangkali Presiden Jokowi sendiri sering diambil sebagai sumber untuk diberitakan di beberapa media untuk kemudian dipoles sedemikian rupa dengan bahasa yang lebih normatif.

Pengikut fan page biasanya akan lebih cepat mendapatkan informasi langsung dari setiap postingan yang dipublikasi dari pada hasil polesan media karena lebih bersifat langsung, aktual dan interaktif.  Terkadang bahkan terjadi komunikasi dua arah antara pemilik fan page dan pengikut yang berkomentar untuk setiap postingan.

Hal ini yang tidak dimiliki oleh media mainstream biasa. Komunikasi yang terjadi bersifat satu arah. Benar tidak benarnya berita yang disampaikan, pembaca umumnya hanya bisa berkomentar tanpa pernah mendapatkan penjelasan langsung dari pembuat berita atau media yang bersangkutan.  Media mainstream non-social media barangkali sudah saatnya berevolusi dengan memberikan peluang kepada pembaca untuk berinteraksi dengan pembuat berita.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *