Press "Enter" to skip to content

Misteri Impor Ratusan Juta Ton Sabu Cina: Siapa Pemasok, Siapa Pemesan?

  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share
Narkoba Cina, Import atau Selundupan? (Foto Istimewa)

Indonesia target perang candu jaringan Cina daratan. Tercatat sepanjang 2016 lalu, Republika,  pernah melaporkan bahwa ada sejumlah 250 ton narkoba asal Cina masuk ke Indonesia.  Meski belum ada laporan untuk tahun 2017, namun ditengarai jumlah masuknya narkoba asal Cina ke Indonesia bertambah, mengingat semakin terang-terangannya sindikat narkoba Cina di Indonesia memasukkan barang terlarang itu.|

Badan Narkotika Nasional Indonesia pernah menyebutkan bahwa Perang Candu di China tahun 1840 – 1842 adalah bukti nyata bahwa narkoba sangat ampuh digunakan sebagai alat terselubung untuk menguasai negara lain. Saat itu, kerajaan Inggris berupaya memasukkan Opium untuk diperdagangkan supaya generasi muda Cina saat itu rusak dan mudah diperalat. Kekaisaran Cina melalui Daoguang Emperor melakukan perlawanan sepanjang rentang tahun 1839-1842 yang terkenal dengan istilah perang candu pertama.

Sungguh sangat memalukan, ketika Cina saat itu begitu menentang Opium/Candu sebagai bentuk penjajah kerajaan Inggris untuk merusak dan menguasai bangsanya, saat ini justru menjadi senjata yang digunakan oleh Cina untuk menguasai, mengancurkan kekuatan dan kedaulatan negara lain, dalam hal ini, Indonesia. Candu, narkoba, dan sejenisnya digunakan sebagai proxy war, alat untuk melemahkan, sebelum menghancurkan secara fisik melalui sebuah peperangan.

Drs. Sulistiandriatmoko, M.Si, Kabg Humas BNN pernah menulis negara Indonesia seperti tertidur menghadapi kejadian ini. Negara produsen narkoba sudah dengan sangat matang perencanaannya menguasai Indonesia, tetapi tragisnya bangsa Indonesia sendiri tidak merasakan apa-apa atau tidak menyadari adanya serangan tersebut. Adanya supply narkoba yang begitu besar hingga ratusan ton pertahun, laporan tertangkapnya narkoba yang dicoba dimasukkan ke Indonesia oleh lembaga seperti Polri, BNN, dan Bea Cukai, sejatinya hanyalah seperti memadamkan api yang sedang membara. Sedangkan sumber api dan pemantik apinya seperti tidak pernah tersentuh.


Masuknya narkoba di Indonesia setidak-tidaknya juga menunjukkan hal yang lain. Disamping Indonesia adalah target untuk dilemahkan dan dikuasasi, pasar narkoba di Indonesia juga bisa dibilang besar, karena biasanya pesanan jumlah narkoba yang besar menunjukkan juga adanya permintaan pasar yang luas.

Setelah berhasil berkali-kali memadamkan api -menciduk masuknya narkoba ke Indonesia – timbul pertanyaan besar. Sejauh manakah sekarang BNN yang bekerjasama dengan TNI dan Bea Cukai melakukan investigasi tentang siapa saja mafia narkoba yang memesan narkoba asal Cina di Indonesia? Jaringan ini harus diungkap dan dimusnahkan. Melakukan rehabilitasi terhadap korban narkoba ibarat hanya memadamkan riak-riak api saja. Sumber api dan pemantik apilah yang harus dikejar dan dimusnahkan.

Masuknya narkoba asal Cina ini sepertinya sudah bukan kategori selundupan lagi, karena dilakukan dalam jumlah besar atas pesanan sekelompok jaringan tertentu. Reuter bahkan pernah menuliskan, narkoba asal Cina bahkan bisa dipesan secara online lewat situs Alibaba, meskipun Alibaba pernah melarang hal tersebut untuk dilakukan di jaringan e-commerse nya sehubungan dengan kebijakan pemerintah Cina.

Presiden Jokowi pada tahun 2015 yang lalu pernah menyatakan kalau Indonesia darurat Narkoba, meski kenyataannya makin banyak narkoba yang masuk ke negeri ini. Aksi nyata untuk memutus, merusak, dan memusnahkan jaringan pengimport narkoba di Indonesia harus segera dilakukan. BNN melalui bantuan yang luar biasa dari TNI sudah saatnya untuk mengejar para pengimpor narkoba asal Cina ini untuk menyelamatkan kedaulatan dan ketahanan nasional negeri ini dari pelemahan secara sistematis melalui narkoba asal Cina.[br]

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.