Press "Enter" to skip to content

Projo, “Jokowi bubarkan PETRAL, negara hemat 250 milyar/hari!”

  • 9
  •  
  •  
  •  
  •  
    9
    Shares
Illustrasi Pendukung Jokowi

Seorang pendukung Jokowi dalam akun twitternya baru-baru ini menuliskan 47 prestasi kepemimpinan Jokowi untuk memakmurkan rakyat dan kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Prestasi pertama Presiden Republik Indonesia asal Solo itu disebutkan adalah keberhasilan membubarkan PETRAL yang bisa menghemat anggaran 250 milyar rupiah per hari.

Sudirman Said Pertamakali Usung Ide Bubarkan Petral Namun Disingkirkan
Seperti diketahui rencana pembubaran PT Pertamina Energy TradingLtd (Petral) sudah mulai didengungkan pada tahun 2006 saat kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sudirman Said, yang saat itu menjabat sebagai staf ahli Direktur Utama Pertamina sangat aktif melakukan tugas pembenahan fungsi sekretaris perusahaan dan Supply Chain Management.

Aksinya merilis gerakan melikuidasi Petral dan menggantikan fungsi Petral dengan Integrated Supply Chain (ISC) menemui hambatan besar. Petral saat itu terlalu kuat. Sudirman Said pada tahun 2009 disingkirkan dari Pertamina. Ia resmi dicopot oleh Direktur Pertamina Karen Agustiawan 20 Maret 2009 dari posisinya sebagai Senior Vice President Integrated Supply Chain.

Sudirman Said Kembali Gaungkan Bubarkan Petral Saat Menjadi Mentri ESDM

Namun desakan itu muncul kembali pada perioda 2015 lalu ketika Sudirman Said terpilih menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) era kepemimpinan Presiden Jokowi.

Seperti yang dilansir oleh Tribunnews, politisi yang terkenal dengan kegigihannya melawan korupsi ini, mengatakan pembubaran Petral bukanlah hal yang sulit karena yang dibutuhkan pemerintah adalah keberanian dan komitmen untuk mewujudkan tata kelola migas yang bersih. Hal itu dilakukannya begitu mendapat mandat sebagai Mentri ESDM.

Faisal Basri yang ditunjuk memimpin Komite Reformasi Tata Kelola Migas diberikan waktu enam bulan untuk melakukan kajian yang salah satunya adalah memberikan rekomendasi pembubaran Pertamina Energy Trading Limited (Petral) setelah lebih dulu mengganti sejumlah petinggi, yang sejak era Orde Baru bak sarang penyamun.

Petral Bubar, Mafia Gas Tidak Terungkap
Rabu 13 Mai 2015, PT Pertamina secara resmi menghentikan operasional Petral. Akan tetapi hingga saat ini baik Faisal Basri maupun pemerintah masih belum mau mengungkap siapa saja pihak-pihak atau jaringan yang bermain dalam skandal Petral. Tempo pernah memberitakan, Juru bicara Pertamina, Wianda Pusponegoro, mengakui adanya penguasaan kontrak migas oleh jaringan tertentu. “Hal ini menambah panjang rantai suplai sehingga harga beli minyak kurang kompetitif,” katanya. Namun Wianda enggan menyebutkan pihak ketiga yang disebut-sebut dalam audit itu.

Baca juga:

Partai Solidaritas Indonesia, partai anak-anak muda dengan dana tak terbatas?

Tengku Zulkarnain, 250 Milyar perhari = 91,25 Trilliun pertahun

Menanggapi klaim pendukung Presiden Jokowi yang menuliskan negara melakukan penghematan sebesar 250 Milyar perhari pasca pembubaran Petral, Ustad Tengku Zulkarnain dalam akun twitternya menanggapi dengan sebuah penghitungan sederhana. Uang yang bisanya dikeluarkan semasa Petral masih berdiri jika dikalkulasikan, setahun mencapai angka 91,25 trilliun.

Pada kenyataannya, setelah Petral dibubarkan Mai 2015 lalu, berdasarkan rilis detiknews, kondisi keuntungan Pertamina ditahun 2016 adalah sebesar 41,8 trilliun. Kemudian meski harga minyak dunia naik, laba bersih malah turun menjadi menjadi hanya 36,4 trilliun rupiah sepanjang tahun 2017.

Meski memaparkan hitungan sederhana, tanggapan Ustad Tengku Zulkarnain ramai mendapat bullian yang seharusnya bisa dihindari dengan beradu data dan argumen yang baik. Presiden Jokowi pernah mengungkapkan “Anak Indonesia Tak Cukup Hanya Pintar Namun Harus Paham Sopan Santun”.  Sayang hal itu berbanding terbalik dengan apa yang terjadi saat ini di media sosial.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *