Press "Enter" to skip to content

Jose Mourinho Tactics, Good or Evil?

  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares
José Mourinho – Catenaccio Era Modern

Mengamati perjalanan panjang Jose Mourinho sejauh ini hingga mendarat di Old Trafford. Keberhasilan masa lalu Mou di FC Porto, Chelsea, Treble bersama Inter Milan, dan terakhir Madrid, apakah akan ia akan membawanya ke Manchester United? Dengan cara apa? Strategi yang dikembangkan Mourinho bukanlah tipe yang disukai fans, media, apalagi penikmat indahnya sepakbola menyerang saat ini. Apakah Mou harus ber-evolusi?


Mou dan Korban Media
Para fans sepakbola dan sebagian pundit media mengatakan kalau taktik yang diusung Mourinho membosankan. Anti sepakbola dan bahkan bisa membunuh jenis olah raga paling populer sejagad ini.

Tidak ada yang perlu ditakutkan sebetulnya. Taktik yang diusung pelatih asal Portugal ini bukan metoda baru. Italia, era Arrigo Sacchi bahkan telah memperkenalkan sepak bola gerendel yang membawa negeri Spaghetti itu menguasai jagad persepakbolaan dunia, khususnya eropa di era 90an.

Pada era  dimana media belum seaggresif saat ini. Metoda Catenaccio, aka gerendel alias kunci kura-kura, merupakan strategi paling top. Setiap pelatih, setiap manager tidak pernah dipertanyakan kenapa harus begini dan kenapa tidak harus begitu. Sepanjang itu bekerja dan menghasilkan hasil memuaskan, cukup dan no more words.

Sepakbola harus cantik dan menyerang
Sejak kapan ide dan trend ini bermula. Kita bisa lihat, bagaimana jumlah gol yang gila-gilaan yang terjadi saat ini. Parade satu dekade Christiano Ronaldo dan Leonel Messi yang sanggup menghasilkan rata-rata 50 gol permusim! Sekarang disamping mereka merdua, ada Sergio Aguero, Harry Kane, dan terakhir yang paling sensasional, Mohamed Salah!
Filosofi sepakbola menyerang yang mengasikkan, permainan cantik yang mendominasi penguasaan bola dari kaki ke kaki di lapangan tengah, serta tusukan mematikan berujung gol dari penyerang. Siapa yang tidak silau?


Liga Italia kala itu yang popular dengan Catenaccionya tidak akan pernah mengizinkan jumlah gol yang gila-gilaan itu terjadi.  Striker-striker tangguh nan mengerikan masa itu jarang yang bisa tembus 25 gol permusim. Sebut saja Gabriel Batistuta hanya mampu melesakkan 26 gol untuk Fiorentina pada musim 1994/1995. Bahkan, ketika Catenaccio masih murni, pemain selevel Diego Maradona pun hanya cukup melesakkan 15 gol untuk menjadi top scorer bersama Napoli pada era 1987/1988.

Mourinho si Anti Mainstream
Ada yang berubahkan dengan sepakbola saat ini? Tentu tidak. Sepakbola ibarat sebuah koin yang memiliki dua sisi. Sisi menyerang dan sisi bertahan. Adalah Mourinho yang memilih untuk mengambil sisi yang saat ini tidak dipopularkan oleh media.

Entah kapan trend ini dimulai. Fans, media, dan juga dari sisi nilai jual, tim sepakbola yang menganut filosofi menyerang dan menampilkan permainan yang cantik akan mendapat lebih banyak tempat.


Sepakbola cantik dan menyerang ibarat sisi baik yang harus dianut oleh setiap pelatih saat ini. Sebaliknya, sepakbola membosankan, pragmatis yang hanya berorientasi pada hasil akhir seperti sebuah kejahatan yang harus dihukum pancung atau dilempar ke kawah bekas tambang Freeport.

Sepakbola bukan peragaan busana
Jose Mourinho memenangkan Piala Champion pertamakalinya bersama FC Porto musim 2003/2004 ketika mengalahkan AS Monaco 3-0. Kemudian pada musim 2009/2010 bersama Inter Milan dengan mengalahkan Bayern Munich 2-0 di Final. Musim itu menjadi musim yang luar biasa buat Inter dan Mou. Saat itu Mou menjadi pelatih pertama yang mempersembahkan treble di Italia. Namun demikian, kemenangan Mou di final piala Champion saat itu menjadi bahan olok-olok pengamat dan fans tim sepakbola yang dikalahkannya.

“Berikan aku striker mahal, akan kujadikan ia bek yang tangguh”, demikian olok-olok pembenci Mou.

Tidak ada yang bisa menolak berkata tidak. Fakta memang menunjukkan betapa Mou memerintahkan semua pemainnya untuk turun membantu pertahanan guna mempertahankan keunggulan. Bagi yang menyaksikan pertandingan final Champion 2010, betapa Munich saat itu betul-betul menguasai separuh lapangan. Mengurung, mengapit, berputar-putar mencari celah untuk bisa melepaskan umpan tusuk atau bahkan tembakan ke arah gawang.


Semua sia-sia. Samuel Eto’o dan Diego Milito pun harus turut berjuang silih berganti menjadi pagar di kotak enambelas. Counter-attack yang effektif. Munich pulang dengan kepala tertunduk. Fans Inter Milan bersorak. Score  2-0 cukup untuk membawa pulang si Kuping Besar. Media mulai bermain. Inter Milan tidak pantas menang. Jose Mourinho tidak peduli. Sepakbola bukan peragaan busana. Hasil akhir lebih menentukan.

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *