Press "Enter" to skip to content

Bubarnya Kerajaan Mataram, Masuknya Bangsa Asing dan Pengkhianatan (I)

  • 16
  •  
  •  
  •  
    16
    Shares
Kesultanan Mataram – Kejayaan – Kapitalisme Asing – Pengkhianatan – Perlawanan – Kehancuran

Kerajaan Mataram menjadi salah satu dari kerajaan penting yang mengambil tempat dari sejarah panjang terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia di Nusantara. Kerajaan Mataram adalah kerajaan kuat. Namun, hancur luluh lantak ketika bekerja sama dengan bangsa asing yang datang menjajah Nusantara.

Lantas bagaimana sebuah kerajaan besar nan hebat hancur? Berikut kisahnya.

Sejarah Berdirinya Kerjaan Mataram Islam

Berbicara mengenai sejarah kerjaan Mataram Islam, tak dapat lepas dari cerita tentang kepahlawanan dan kisah tentang pengkhianatan.

Kerajaan Mataram Islam berdiri sejak tahun 1582 di kota Gede, Yogyakarta. Mulanya, kerajaan ini adalah hadiah yang diberikan oleh Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir pada Ki Ageng Pemanahan atas jasanya yang berhasil menaklukkan Arya Panangsang.

Ki Ageng Pemanahan kemudian membangun wilayah kerajaannya sebagai pemukiman penduduk dan persawahan. Saat itu, kehadiran Ki Ageng Pemahanan dianggap sebagai ancaman, tetapi ada pula sebagian lain yang menanggapi positif keberadaannya, seperti Ki Ageng Karanglo.

Ki Ageng Pemahanan terus melakukan pembangunan dengan pusat kerajaannya berada di Plered. Ia pun memiliki strategi yang ampuh untuk menundukkan siapa saja yang berani menentang keberadaannya.

Di tahun 1575, Ki Ageng Pemahanan wafat. Ia digantikan oleh putranya, Pangeran Ngabehi Loring Pasar atau yang dikenal dengan nama Danang Sutawijaya. Sepeninggalan ayahanda tercinta, Sutawijaya bertekad untuk melanjutkan keinginan Ki Ageng Pemahanan, ia pun berencana membebaskan diri dari kekuasaan kerajaan Pajang.

Keinginannya tersebut membuat hubungan antara Mataram dan Pajang memanas yang berujung peperangan. Dalam peperangan tersebut kerajaan Pajang mengalami kekalahan, Sultan Hadiwijaya wafat. Sementara Sutawijaya mengangkat dirinya sendiri sebagai raja Mataram bergelar Panembahan Senopati.

Kejayaan Kerajaan Mataram Islam

Awalnya, wilayah kerajaan Mataram hanya berada di sekitar wilayah Jawa Tengah, mewarisi wilayah kekuasaan kerajaan Pajang. Namun, setelah kerajaan Mataram dipimpin oleh Raden Mas Rangsang, putra tertua Mas Jolang, wilayah kekuasaannya semakin luas.

Raden Mas Rangsang atau Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma memiliki nama asli Raden Mas Jatmika. Ia memerintah kerajaan Mataram Islam setelah ayahandanya wafat akibat kecelakaan saat berburu di hutan Krapyak di tahun 1613.

Wilayah Kekuasaan Kerajaan Mataram

Pada masa pemerintahan Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma, Mataram berkembang sebagai kerajaan terbesar di Pulau Jawa dan Nusantara. Hampir seluruh wilayah di Pulau Jawa, kecuali Blambangan, Banten, dan Batavia yang dikuasai oleh militer Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Baca juga : Laksamana Malahayati, Wanita Tangguh nan Pemberani dari Tanah Rencong

Sultan Agung dikenal sebagai seorang raja yang cerdas, tangkas, dan taat menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim. Bahkan, seorang saudagar asal Eropa mengatakan bahwa Sultan Agung merupakan sosok yang tidak bisa dianggap remeh.

Selama masa pemerintahannya, Sultan Agung mewajibkan para pembesar kerajaan untuk melaksanakan salat di masjid. Para tawanan pun diharuskan untuk melakukan khitan. Jika ada tawanan yang menolak, ia akan dihukum mati.

Para ulama di masa ini sangat dihormati malahan Sultan Agung kerap meminta wejangan. Ia sangat tegas, keingintahuannya besar, tidak mudah percaya, dan selalu waspada. Sifat inilah yang menjadikannya sebagai Raja Mataram paling disegani. (efs)

Baca juga: Bubarnya Kerajaan Mataram, Masuknya Bangsa Asing dan Pengkhianatan (II)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.