Press "Enter" to skip to content

Bubarnya Kerajaan Mataram, Masuknya Bangsa Asing dan Pengkhianatan (II)

  • 13
  •  
  •  
  •  
  •  
    13
    Shares
Sultan Agung Menggempur Batavia yang dikuasai VOC

Berkat jasa Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma, Kerajaan Mataram menjadi kerajaan terbesar. Ia pun dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional sesuai dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.

Semasa hidupnya, Sultan Agung yang dikenal sebagai penguasa Kerajaan Mataram Islam yang antipati terhadap penjajah Belanda. Hal ini dibuktikan dari penolakan yang dilakukan Sultan Agung di tahun 1614, saat VOC mengirimkan dutanya untuk bekerja sama.

Lima tahun kemudian, VOC menaklukkan Jayakarta yang kemudian diubah namanya menjadi Batavia. Melihat wilayah incarannya dikuasai VOC membuat Sultan Agung menyadari bahwa kekuatan VOC sangat besar. Ia pun berencana memanfaatkan kekuataan tersebut untuk keuntungannya, yakni dalam menghadapi Surabaya dan Banten.

Kerajaan Mataram dan VOC

Di tahun 1621, Kerajaan Mataram akhirnya menjalin kerja sama dengan VOC. Namun, hubungan keduanya putus saat VOC menolak memberikan bantuan kepada Sultan Agung yang hendak menyerang Surabaya.

Meski dari pertempuran tersebut Mataram Islam meraih kemenangan, tetapi berdampak buruk bagi penduduknya. Kerajaan Mataram Islam mengalami krisis lantaran perang yang berkepanjangan. Sultan Agung dengan tegas menolak meminta bantuan Belanda.

Tercatat, sejak tahun 1625 hingga tahun 1627, jumlah penduduk Kerajaan Mataram merosot tajam. Hal ini terjadi lantaran dua per tiga penduduknya tewas terkena wabah penyakit yang melanda seluruh daerah kekuasaan Mataram Islam.

Sebelumnya: Bubarnya Kerajaan Mataram, Masuknya Bangsa Asing dan Pengkhianatan (I)

Di tengah krisis tersebut, Adipati Pragola, sepupu Sultan Agung melakukan pemberontakan, tepatnya di tahun 1627. Pemberontakan yang dilakukan Adipati Pragola dapat ditumpas dengan harga yang sangat mahal.

Setahun kemudian, Sultan Agung menyerang Batavia dan mengalami kekalahan. Pada penyerangan kedua, yakni tahun 1629 menjadi awal mula keruntuhan Kerajaan Mataram Islam.

Masuknya Asing dan Pembunuhan Para Ulama

Di tahun 1645, Sultan Agung mangkat. Di saat kerajaan hampir jatuh, puteranya yang bernama Amangkurat I mengambil alih. Berbeda dengan ayahandanya, Amangkurat memerintah dengan diktaktor. Petaka demi petaka muncul, diawali dengan memindahkan ibu kota kerajaan dan melakukan perjanjian dengan VOC.

VOC Kapitalis Belanda masuk melalui jalur Raja yang berkuasa dan memecah Mataram

Amangkurat I mengizinkan VOC untuk melakukan pembukaan pos dagang di wilayah Mataram. Sebagai imbalannya, Mataram diperbolehkan berdagang ke pulau yang masuk dalam kekuasaan VOC.

Baca juga: Laksamana Malahayati, Wanita Tangguh nan Pemberani dari Tanah Rencong

Sedikit demi sedikit VOC yang memiliki niat licik berhasil menancapkan taringnya di kerajaan Mataram Islam. Bahkan tragedi pembantaian terhadap tokoh berpengaruh pun tak lepas dari pengaruh jahat pihak Belanda.

Lantaran hal tersebut, adik Amangkurat I, Raden Mas Alit yang merasa terancam melancarkan serangan, menentang tindakan kakaknya yang membunuh tokoh senior. Pemberontakan tersebut berujung kematian Mas Alit.

Sakit hati karena sang adik tidak memihaknya dan fakta bahwa Mas Alit mendapatkan banyak dukungan membuatnya gelap mata. Amangkurat I melakukan tindakan keji, pembantaian terhadap lima ribu hingga enam ribu ulama dalam waktu singkat.

Sebelum dibantai, para ulama dan keluarganya dikumpulkan di alun-alun Plered lalu dibunuh hingga tak bersisa. Tak hak itu saja, Amangkurat I pun tega membunuh mertuanya sendiri dan selirnya dengan kejam hanya karena kesalahpahaman.

Tindakan keji yang dilakukan oleh Amangkurat I menuai berbagai reaksi keras dari banyak kalangan. Kekejaman Amangkurat I pun masih dikenang hingga kini. Ia dicap sebagai pemimpin paling brutal di zamannya.

Akibat tindakan tersebut, kerajaan Mataram guncang. Tidak ada pemuka agama, semua tindakan yang diambil Amangkurat I semakin membuat kerajaan terpuruk. Amangkurat I berbuat sekehendak hatinya.

Para Pengkhianat dan Awal Keruntuhan

Sebenarnya, pengkhianatan telah terjadi sejak Sultan Agung masih memimpin kerjaan. Kala itu Tumenggung Endronoto membocorkan rahasia mengenai siasat yang akan digunakan oleh pasukan Sultan Agung padahal ia merupakan salah satu pimpinan prajurit yang menyerang Batavia, tetapi berkhianat. Akibatnya, kerajaan Mataram mengalami kekalahan.

Pengkhianatan pun dilakukan oleh anak Amangkurat I, Raden Anom yang keluar dari aliansi Raden Kajoran dan Trunojoyo untuk melawan kediktaktoran sang ayah. Raden Anom takut tidak diberi tahta oleh Amangkurat I.

Di saat Trunojoyo berhasil mengepung pusat pemerintahan Mataram Islam, Amangkurat I dan Raden Anom melarikan diri ke Batavia. Namun, di tengah perjalanan Amangkurat I menghembuskan napas terakhirnya.

Raden Anom pun diangkat sebagai raja dengan gelar Amangkurat II. Layaknya sang ayah, Amangkurat II setuju dengan perjanjian Jepara di tahun 1677. Sayangnya, keputusan tersebut justru menghancurkan Kerajaan Mataram dan memperkuat cengkraman Belanda atasnya. Tidak hanya di bidang ekonomi, tetapi bidang politik juga.

Amangkurat II yang naik tahta dengan bantuan VOC diam-diam mencari sekutu untuk membinasakan VOC, tetapi diketahui oleh pihak Belanda. Belanda yang marah meminta Amangkurat II melunasi seluruh utangnya. Di tahun 1703, Amangkurat II meninggal dunia. (bersambung/efs)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *