Press "Enter" to skip to content

Bubarnya Kerajaan Mataram, Masuknya Bangsa Asing dan Pengkhianatan (III)

  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares
VOC – Kapitalisme Belanda Menguasai Nusantara

Kerajaan Mataram Islam mulai mengalami keguncangan yang berakibat fatal, bubarnya Kerajaan Mataram. Kematian Amangkurat II menjadi angin segar bagi VOC. Pihak Belanda memanfaatkan situasi panas, yakni pertentangan dalam keluarga mengenai tahta sebagai alat untuk menaklukkan Mataram Islam.

Bisa dibilang hal tersebut menjadi keuntungan bagi VOC yang memang ingin mengusai Mataram. Dengan taktik adu domba yang biasa dilakukan Belanda, kerajaan Mataram mengalami perpecahan.

Kedua anak Amangkurat II saling memperebutkan tahta. Sebenarnya, menurut aturan yang berlaku jika seorang raja mangkat maka pewaris tahta jatuh ke tangan sang putra sulung. Namun, adik Amangkurat II, Pangeran Puger tidak menerima hal tersebut. Alhasil, meletuslah konflik antarsaudara.

Keping-Keping Kehancuran Mataram

Pangeran Puger meminta bantuan Belanda dengan imbalan uang dan sejumlah wilayah. Kesepakatan tersebut berhasil melenyapkan Sunan Mas. Ia diasingkan ke negeri nan jauh, Sri Langka. Pangeran Puger pun naik tahta yang seharusnya milik sang kakak dengan gelar Sunan Paku Buwono I.

Kejadian perebutan tahta pun berulang ketika Paku Buwono I wafat. Lagi-lagi Belanda menggunakan taktik sama, yakni menawarkan bantuan yang menguntungkan pihaknya. Paku Buwono II pun menjadi raja dengan pemerintahan yang terus menerus diguncang prahara.

Dalam masa pemerintahannya, cucu Sunan Mas, Raden Mas Garendi yang datang menuntut haknya sebagai penguasa Kerajaan Mataram yang sah harus merasakan kepahitan yang sama dengan sang kakek. Ia diusir VOC atas permintaan Paku Buwono II dengan harga yang sangat mahal, yakni mengakui kekuasaan Belanda di Mataram, memberikan hak mengeluarkan mata uang sendiri di seluruh Pulau Jawa, dan membiayai pembangunan markas militer di wilayah Mataram.

Akibat kesepakatan tersebut, pemerintahan Paku Buwono II diambang kehancuran. Paku Buwono II yang tidak sanggup mengatasi seluruh kemelut tersebut memilih untuk pindah ke Surakarta.

Setelah wafat, ia digantikan oleh putranya, Paku Buwono III yang dilantik oleh Belanda sebagai penerus kerajaan sesuai dengan kesepakatan. Namun, beberapa hari sebelum pengukuhannya, Pangeran Mangkubumi telah lebih dulu mengukuhkan diri sebagai pengganti sang kakak dengan gelar Hamengku Buwono.

Paku Buwono III kewalahan, di barat Pangeran Mangkubumi siap melancarkan serangan, di timur Raden Mas Said yang diasingkan ke Sri Langka pun melancarkan perlawanan bersama orang Tiongkok dan rakyat Mataram terhadap VOC dan Paku Buwono.

Bubarnya Kerajaan Mataram dan Politik Adu Domba VOC

Perpecahan antara Pangeran Mangkubumi dengan Raden Mas Said di tahun 1752 menjadi keuntungan tersendiri bagi Belanda. Sultan Hamengku Buwono yang bersedia bekerja sama dengan VOC demi pengakuan atas hak waris sebagai penerus tahta Kerajaan Mataram.

Makam Raja-Raja Mataram

Kesepakatan tersebut menghasilkan perjanjian Giyanti, yang isinya:

  1. Mataram Barat, yakni Kesultanan Yogyakarta diberikan kepada Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I.
  2. Mataram Timur, yakni Kasunanan Surakarta diberikan pada Paku Buwono III.

Seakan tak puas telah memorak-porandakan Kerajaan Mataram, Belanda masih saja menggunakan akal liciknya demi keuntungannya sendiri. Dengan perjanjian tersebut, Sultan Hamengku Buwono I pun harus memerangi Raden Mas Said.

Peperangan yang tiada akhir mengakibatkan kerugian yang sangat besar hingga pihak Belanda kemudian memberikan penawaran pada Raden Mas Said, yakni mendukung kekuasaannya.

Raden Mas Said pun melakukan perjanjian Salatiga, yang isinya:

  1. Surakarta Utara diberikan kepada Mas Said dengan gelar Mangkunegara I, kerajaannya dinamakan Mangkunegaran.
  2. Surakarta Selatan diberikan kepada Paku Buwoni III, kerajaannya dinamakan Kasunanan Surakarta.

Di tahun 1813, Kesultanan Yogyakarta pun terbagi menjadi dua. Di mana sebagian wilayah dikuasai oleh Sultan Hamengku Buwono dan sebagian lainnya dikuasai oleh Paku Alam.

Baca juga: Laksamana Malahayati, awal perlawanan Nusantara terhadap penjajahan kapitalisme Belanda!

Dengan demikian, tidak ada lagi Kerajaan Mataram Islam yang besar, ditakuti para musuh, dan kokoh seperti pada masa kepemimpinan Sultan Agung. Bubarnya Kerajaan Mataram ditandai dengan terpecahnya kesatuan utuh menjadi empat bagian, yakni keraton Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman. (selesai/efs)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.