Press "Enter" to skip to content

PSI Usung Sistem Baru Dalam Seleksi Bakal Caleg

  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares
PSI Usung Sistem Baru Dalam Seleksi Bakal Caleg

Sebanyak 105 peserta mengikuti tes wawancara terbuka seleksi bakal caleg PSI yang digelar di Kantor DPP PSI, Jakarta pada 22/4/2018. Menariknya, para peserta  yang hadir dalam kesempatan tersebut banyak yang terdiri dari kaum perempuan dan penyandang disabilitas alias berkebutuhan khusus.

Lebih menarik lagi, para panelis yang menyeleksi bakal calon legislatif tersebut bukan dari kalangan elite partai melainkan unsur-unsur dari luar partai yang dianggap memiliki kompetensi untuk menentukan layak tidaknya seseorang ditetapkan sebagai calon legislatif.

Para panelis dari luar PSI tersebut terdiri atas: mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof. Dr. Mahfud MD, Dosen Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, Bivitri Susanti dan mantan Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu.

Dilibatkannya pihak luar sebagai panelis untuk menyeleksi para peserta, menurut Ketua Umum PSI, Grace Natalie, sengaja dilakukan karena partainya ingin mengusung tradisi politik yang baru. Karena dengan proses pemilihan bakal caleg yang transparan, diyakini akan menjadi kunci bagi terwujudnya politik yang sehat.

“Melalui sistem perekrutan tersebut, kami berharap dapat memilih calon wakil rakyat yang kelak dapat membuat regulasi yang bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat. Karena itu dibutuhkan transparansi dari nama-nama yang mendapatkan rekomendasi untuk menjadi calon anggota legislatif,” terang Grace.

Upaya yang dilakukan oleh PSI tersebut mendapat dukungan penuh dari Mahfud MD karena hal tersebut merupakan salah satu cara agar politik di Indonesia bebas dari korupsi. “Karena merupakan partai baru, kami tentu mendukung, agar nantinya DPR dan perpolitikan mendapatkan darah baru yang segar, karena darah yang ada sekarang sudah kotor,” papar Mahfud.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini juga berharap, agar selain proses seleksi bakal caleg yang trasnparan, PSI juga membuat sistem pengawasan yang ketat pada saat calon yang diusung terpilih dan menduduki jabatan sebagai anggota DPR.

Harapan tersebut disampaikan karena selama ini semua partai senantiasa menggelorakan semangat anti korupsi, tapi begitu menduduki kursi parlemen, kader-kader partai tersebut tersangkut kasus korupsi dan dipenjara.

Terkait dengan sistem baru yang diusung PSI dalam merekrut bakal caleg, menurut Bivitri Susanti dapat mengusik kenyamanan partai-partai lain, karena cara tersebut memang berbeda dari cara yang selama ini dilakukan oleh partai-partai lain.

Baca juga: Perpres TKA Asing Merugikan, Yusril Ihza Mahendra Turun Tangan

Setidaknya ada 3 unsur yang membedakan sistem perekrutan bakal caleg yang dilakukan oleh PSI dari parta-partai lain. Perbedaan yang pertama adalah bakal caleg tidak dipilih oleh elite partai sehingga lebih mempertimbangkan faktor elektabilitas dibandingkan dengan integritas.

Kedua, jika di partai lain tidak ada indikator untuk mengukur kompetensi calon legislatif, maka caleg PSI dipilih sesuai dengan kriteria-kriteria yang dipersyaratkan.

Perbedaan ketiga menurut Bivitri adalah terbukanya kesempatan yang seluas-luasnya bagi kaum perempuan dan penyandang disabilitas untuk dipilih menjadi bakal calon legislatif dari PSI. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.