Press "Enter" to skip to content

Sejarah Dimulainya Tambak Garam di Madura

  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares
Sejarah Dimulainya Tambak Garam di Madura

Silang pendapat antara Kementrian Kelautan dan Kemaritiman dengan Kementrian Perindustrian terkait masalah impor garam industri, akhirnya berakhir dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2018 yang memberikan kewengan penuh kepada Kementrian Perindustrian terkait Pengendalian Impor Komoditas Perikanan dan Komoditas Pergaraman sebagai Bahan Baku dan bahan Penolong Industri.

Dengan dikeluarkannya PP tersebut usulan dari menteri KKP pun menjadi mentah dan impor garam industri merujuk kepada data yang disampaikan Kemenperin yaitu sebesar 3,7 juta ton atau 1,53 ton lebih besar dari data yang diusung Kementrian KKP.

Terlepas dari polemik seputar impor garam industri, persoalan ketidakmampuan petambak garam lokal dalam memasok kebutuhan garam industri, layak untuk dicermarti mengingat Indonesia adalah negara maritim yang memiliki banyak pulau. Dengan keterbatasan produksi garam selama ini, menunjukkan bahwa area pinggir pantai masih belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai lahan untuk memproduksi garam.

Hal itu pula yang membuat posisi Pulau Madura sebagai pamasok utama garam di tanah air  selama lebih dari 500 tahun masih belum tergeser, sehingga pulau yang menjadi bagian dari Provinsi Jawa Timur ini identik dengan sebutan Pulau Garam. Lantas bagaimana sejarah dimulainya tambak garam di Pulau Madura?

Konon, munculnya petambak garam di Madura berawal pada abad ke-15 saat para prajurit kerajaan di Bali menyerang Pulau Madura. Serangan tersebut mengemban misi balas dendam, karena beberapa tahun sebelumnya, Joko Tole yang berasal dari Madura diutus oleh Majapahit untuk melawan Kerajaan Blambangan yang ada di Banyuwangi.

Petani Garam di Kalianget Tahun 1914-1925

Dalam perang tersebut Blambangan berhasil ditaklukkan, dan kerajaan-kerajaan di Bali yang menganggap Blambangan sebagai sekutu mereka tidak terima, sehingga melakukan misi balas dendam dengan menyerang Pulau Madura.

Namun sayang, serangan terhadap keturunan Joko Tole tersebut mengalami kegagalan. Para prajurit Bali berhasil dipukul mundur oleh prajurit Madura dan melarikan diri di darah Gir Papas. Setelah terdesak, mereka pun akhirnya meminta pengampunan kepada penguasa Madura.

Pangeran Wetan yang berkuasa di Madura pada saat itu, tidak saja memberikan pengampunan, tapi juga memberikan lahan, sehingga prajurit-prajurit dari Bali itupun tidak kembali ke kampung halamannya, melainkan membangun lahan yang dihadiahkan kepada mereka.

Diantara pemimpin perang prajurit Bali, salah satu diantaranya ada yang bernama Anggasuto. Dialah yang pertama kali memiliki gagasan  mengkristalisasi air laut untuk dijadikan butir-butir garam dengan memanfaatkan lahan di pinggir pantai dan terik matahari yang mnyengat.

Karena garam memiliki peran penting sebagai salah satu bumbu utama makanan, membuat produksi garam yang dilakukan Anggasuto pun berkembang dengan pesat. Dia juga mengajarkan prajurit-prajuritnya yang sudah tidak lagi berperang untuk menjadi petani garam. Anak keturunan Anggasuta dan prajurit Bali itulah yang sampai sekarang mewarisi pekerjaan yang diwariskan nenek moyang mereka.

Versi lain ada yang menyebutkan bahwa Anggasuto bukanlah pimpinan prajurit Bali, melainkan seorang ulama keturunan Arab (Parsi) yang menyebarkan Agama Islam di Pulau Madura. Saat menyusuri daerah Gir Papas, dia mendapatkan kakinya dipnuhi kristal-kristal garam.

Baca juga: Bubarnya Kerajaan Mataram, Masuknya Bangsa Asing dan Pengkhianatan

Peristiwa tersebut membuatnya terinspirasi untuk mengajarkan cara membuat garam pada penduduk Gir Papas, agar masyrakat dapat lebih tertarik untuk belajar dan memeluk Agama Islam, sebagaimana misi utama yang dia emban. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *