Press "Enter" to skip to content

Masa-masa Kejayaan Garam Madura

  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares
Ruang untuk Mengemas Garang di Pabrik Garam Kalianget, Madura, Tahun 1925

Keputusan pemerintah untuk mngimpor 3,7 juta ton garam industri menjadi fenomena yang sangat ironis, mengingat Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia yakni sepanjang 54.716 km. Namun apadaya jumlah produksi garam lokal memang masih belum memenuhi kuantitas maupun kualitas sebagaimana yang diharapkan.

Hingga kini pasokan garam dalam negeri masih bertumpu pada para petani garam Madura yang memasok sekitar 60 persen dari kebutuhan garam lokal. Jumlah itupun bisa berkurang karena proses pembuatan garam dilakukan secara tradisional yang sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca.

Dengan masih digunakannya sistem tradisional oleh para petani garam sebenarnya sangat disayangkan, mengingat industri garam telah berkembang di Pulau Madura selama lebih dari 5 abad. Bahkan, garam Madura sempat mengalami kejayaan pada masa pemerintah kolonial Belanda, tepatnya semenjak berdiri Jawatan Regie Garam di tahun 1921.

Kala itu lebih dari 11.000 hektar lahan dimanfaatkan untuk tambak garam. Sehingga produksi garam di Madura tidak hanya mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri, tapi juga diekspor hingga ke negeri Belanda.

Begitu pentingnya keberlangsungan industri garam di Madura dan begitu besarnya keuntungan yang diperoleh pemerintah kolonial dari para petani garam, membuat Belanda yang menguasai Madura sejak tahun 1705 mendirikan benteng pertahanan, pelabuhan, jalur kereta api serta gedung-gedung megah di kawasan Kalianget.

Masa-masa kejayaan garam Madura tersebut hingga kini masih dapat disaksikan lewat bangunan-bangunan megah berarsitktur Belanda yang kondisinya saat ini sudah tidak terawat.

Bangunan-bangunan yang mulai berdiri sejak tahun 1914 tersebut beberapa diantaranya adalah gedung sentral yang dimanfaatkan sebagai  pembangkit tenaga listrik, gedung produksi garam, gedung pendingin, cerobong asap serta prumahan karyawan.

Tidak hanya sebatas bangunan yang berkaitan langsung dengan proses produksi garam saja yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda, tapi juga sejumlah fasilitas pendukung lainnya, seperti gedung bioskop dengan ukuran yang cukup luas, kolam renang, lapangan sepak bola, lapangan basket, lapangan bulu tangkis, lapangan tenis dan sejumlah fasilitas yang lain.

Untuk ukuran saat sekarang, bangunan-bangunan tersebut memang bukan hal yang istimewah. Tapi pada kurun waktu 1900an, Kalianget ibarat kota metropolitan pada saat ini, karena berbagai fasilitas mewah yang tidak dapat dijumpai di tempat-tempat lain, semuanya tersedia di sini.

Hanya saja, meski pada masa itu garam Madura mencapai kejayaannya, namun dari sisi ekonomi kurang begitu berdampak pada masyarakat sekitar. Monopoli garam yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda mulai dari produksi hingga distribusi, membuat garam yang dihasilkan para petani dibeli dengan harga tetap.

Baca juga: Sejarah Dimulainya Tambak Garam di Madura

Bahkan setelah Belanda mendirikan perusahaan garam, seluruh produksi diambil alih oleh perusahaan dan para petani garam hanya dijadikan sebagai buruh dengan upah yang tidak jauh berbeda dengan buruh-buruh di perkebunan. Sehingga masa-masa kejayaan garam Madura hanya dinikmati oleh pemerintah kolonial Belanda. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *