Press "Enter" to skip to content

Panik, Ada Yang Coba Gembosi Gerindra dan PKS!

  • 5
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares
Koalisi Gerindra – PKS

Partai Gerindra yang notabene telah menjadi pihak oposisi pemerintah pasca pemilu 2014 lalu kini tengah diterpa isu tak sedap jelang Pilpres 2019 nanti. Setelah muncul isu mengenai Prabowo Subianto yang akan menjadi Cawapres sang incubment Presiden Joko Widodo dalam Pilpres 2019 mendatang kini Gerindra diterpa isu mengenai kondisi koalisinya dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kabarnya tak lagi kondusif.

Namun Gerindra melalui akun twitter resminya membantah isu-isu tak sedap tersebut.

Gerindra mengatakan bahwa isu tersebut sengaja dimunculkan ke permukaan untuk menggiring opini publik dan membuat koalisi Gerindra-PKS tak kondusif lagi.

Dalam menanggapi isu mengenai Prabowo Subianto, Gerindra sendiri dengan tegas telah menyatakan jika akan mengusung kembali Ketua Umumnya tersebut dalam Pilpres nanti.

Pernyataan tersebut otomatis hampir menutup kemungkinan adanya opsi duet Jokowi-Prabowo.

Sementara mengenai kondisi koalisi Gerindra-PKS, dalam cuitan tersebut partai berlambang burung garuda tersebut juga membantah terkait adanya isu tak sedap dalam koalisi mereka.

Baca Juga : Jika Jokowi Berpasangan dengan Prabowo, Apa yang Terjadi ?

Kabar tak sedap mengenai kondisi koalisi Gerindra-PKS tersebut berakar dari beberapa pernyataan dari Presiden Jokowi yang mengaku telah mengadakan pertemuan secara tertutup terhadap koalisi oposisinya tersebut.

Hal tersebut tentu mengindikasikan bahwa elit pemerintahan sedang mencoba untuk menggoyang koalisi Gerindra-PKS.

Meskipun PKS telah menyatakan secara resmi untuk menolak bergabung dengan kubu petahana namun upaya untuk melakukan lobi-lobi politik ke PKS bukanlah sebuah langkah yang patut di apresiasi.

Hal itu karena lobi tersebut dapat berimbas pada terganjalnya langkah Gerindra untuk maju dalam Pilpres 2019 nanti karena terganjal UU Pilpres mengenai Presidential Threeshold. Alhasil sang petahana kemungkinan besar akan maju dalam Pilpres sebagai calon tunggal.

Jika Calon Tunggal dalam Pilpres 2019 nanti benar-benar terealisasi maka bisa dikatakan hal tersebut adalah sebuah kemunduran bagi demokrasi kita.

Salah satu indikator bagaimana sebuah Demokrasi berjalan dengan baik adalah adanya oposisi yang kuat dalam pemilu serta menjalankan fungsi oposisi sebagai kontrol terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.

Sejak era Reformasi Demokrasi di Indonesia telah mengalami beberapa perkembangan yang sangat berarti terutama mengenai hadirnya oposisi pasca Pemilu 2004.

Partai Gerindra sebagai pihak oposisi tentu diharapkan dapat terus melanjutkan iklim sehat Demokrasi Indonesia dalam pemilu nanti.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.