Press "Enter" to skip to content

Fenomena Mahasiswa Jerman Jual Bagasi, Legalkah?

  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares
 Jual Bagasi
Illustrasi Fenomena Jual Bagasi

Kamu pernah dengar istilah mahasiwa jual bagasi? Kalau kamu kuliah di dalam negeri, istilah ini pasti asing terdengar. Lain cerita bagi mereka yang berkesempatan mengecap bangku perkuliahan di luar negeri, khususnya Jerman.

Bagi mereka, jual bagasi menjadi sebuah fenomena sendiri. Meski sebenarnya, jual beli bagasi tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa Jerman saja. Bisa dibilang segelintir mahasiswa di negara lain pun melakukan hal serupa.

Malahan, ada pelaku jual beli bagasi yang tidak berstatus sebagai mahasiswa. Hal ini dibuktikan dari maraknya kasus jual beli bagasi penerbangan Indonesia-Australia.

Lantas, apa sebenarnya yang menjadi latar belakang fenomena jual beli bagasi?

Awal Mula Fenomena Mahasiswa Jual Bagasi

Konon, fenomena mahasiswa jual bagasi ini diawali oleh para tetua atau masyarakat Indonesia yang sudah lama bermukim di Negeri Angela Merkel ini.

Mulanya, mereka menitipkan barang, surat, atau souvenir untuk keluarga di kampung halaman melalui mahasiswa yang dikenal baik. Pasalnya, mengirim paket lewat DHL jatuhnya lebih mahal, waktu sampai pun relatif lama.

Lagipula, kebanyakan mahasiswa yang pulang kampung memiliki jatah 30 kg bagasi. Umumnya, mereka tidak menggunakan jatah tersebut secara maksimal karena tak banyak barang yang dibawa. Sangat mubazir jika tidak dimanfaatkan dengan baik.

Yang awalnya hanya satu atau dua orang, lambat laun semakin banyak mahasiswa yang ikut-ikutan memanfaatkan kelebihan bagasi ini. Kebiasaan tersebut berlanjut. Bahkan kerap dijadikan ladang usaha kecil-kecilan demi meraup Euro. Toh jual beli bagasi saling menguntungkan.

Hal inilah yang menyebabkan maraknya perdagangan bagasi antara mahasiswa Jerman dengan konsumen yang membutuhkan jasanya. Kebanyakan pelaku menjual bagasi melalui akun media sosial seperti Facebook lewat group PPI Jerman, misalnya.

Hampir setiap hari, ada saja yang memposting iklan jual bagasi. Harganya pun bervariasi, rata-rata sekitar 10 Euro per kilogram. Di musim panas, ada juga mahasiswa yang banting harga hingga 7 sampai 8 Euro per kilogram.

Manfaat Jual Bagasi

Bagi konsumen, hadirnya penyedia jasa jual bagasi memudahkan pihaknya untuk mengirimkan barang apalagi jika ada dokumen yang harus segera sampai. Dari pengalaman, mengirimkan dokumen via ekspedisi kirim barang, seperti DHL bisa memakan waktu berminggu-minggu. Padahal biaya pengirimannya mahal, mencapai 70 Euro.

Hal tersebut sangat tidak direkomendasikan apalagi jika dokumen yang dikirim adalah undangan jaminan untuk membuat visa. Lain cerita jika menitipkan dokumen lewat jalur penyedia jasa bagasi, hanya satu minggu saja dokumen sudah sampai ke tujuan.

Dengan adanya fenomena ini pun menguntungkan para penjual, baik yang tinggal di Jerman maupun Indonesia. Tidak sedikit dari mereka yang menitipkan barang belanjaan, seperti buku bacaan, kain batik, tas bermerek, sarung bahkan congklak.

Meski menggiurkan, tetapi pernah ada kasus barang hilang, penjual membawa kabur barang dan uang kemudian menghilang. Ada juga kasus barang rusak akibat dibanting atau dicongkel petugas bandara.

Ada juga penjual yang melupakan kewajibannya untuk mengirimkan barang karena sibuk menikmati liburan di kampung halaman, temu kangen bersama keluarga dan sahabat.

Legalkah Jual Beli Bagasi?

Jika ditilik dari peraturan penerbangan, fenomena ini tidak melanggar karena setiap penumpang telah mendapatkan jatah bagasi 30 kg. Apakah ia akan menggunakan jatah bagasi secara keseluruhan, sebagian, atau tidak sama sekali merupakan hak penumpang.

Yang dilarang dan melanggar peraturan adalah pengiriman bagasi tanpa disertai penumpang. Jika ada penumpang yang membawa barang milik orang lain hal tersebut tidak dikategorikan sebagai pelanggaran. Pihak maskapai penerbangan pun tak bisa melarang.

Sementara dari sisi konsumen, ada dua kemungkinan yang didapat. Sisi pertama adalah keuntungan dan sisi kedua adalah kerugian. Nah, agar kamu lebih memahami hal tersebut, simak kelebihan dan kekurangan jual beli bagasi di bawah ini.

Kelebihan

  • Lebih murah, hanya 10 Euro per kilogram dan sudah termasuk biaya pengiriman lewat Tiki ke tujuan akhir
  • Lebih cepat
  • Praktis

Kekurangan

  • Tidak ada garansi, barang hilang bukan tanggung jawab penyedia jasa
  • Dapat menimbulkan rasa was-was, terutama jika konsumen tidak mengenal baik penjual
  • Barang rusak
  • Lupa dikirim ke alamat tujuan akhir
  • Penjual tidak amanah

Baca juga: Ini Tip-tip bagi kamu yang sedang mencari kerja di Jerman!

Nah, apakah kamu tertarik? Jika iya, pilih penyedia jasa tepercaya yang sudah kamu kenal. Bisa juga dengan meminta rekomendasi pada teman-temanmu yang sudah pernah menggunakan jasa serupa.

Pastikan mencatat percakapan dan simpan semua nomor hape, WhatsApp, dan e-mail penyedia jasa untuk berjaga-jaga jika ada kasus barang lenyap tanpa jejak. Ada baiknya kamu juga meminta nomor dan alamat tinggalnya di Indonesia. Dengan cara ini kamu bisa meminimalkan risiko kehilangan barang. Kamu juga bisa lebih mudah memonitor perkembangan barang milikmu. (efs)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *