Press "Enter" to skip to content

Latar Belakang yang Mengobarkan Perang Candu di China

  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares
Latar Belakang yang Mengobarkan Perang Candu di China

Perang Candu menjadi sejarah kelam yang tidak akan pernah dapat dilupakan oleh bangsa China, karena meski hanya berlangsung dua tahap dan dalam kurun waktu yang tidak begitu lama (Perang Candu I Tahun 1839 – 1842, Perang Candu II Tahun 1856 – 1860), namun dampak yang ditimbulkan masih dirasakan hingga dua abad kemudian.

Candu atau opium sebenarnya sudah dikenal oleh bangsa China, jauh sebelum Bangsa Barat masuk ke Negeri Tirai Bambu, tepatnya pada abad ke-7 – 8 yang dibawa para pedagang dari Turki, Arab dan India yang berada di bawah kepemimpinan Daulah Mughal. Saat itu candu disebut fu-shau-kao yang artinya obat panjang umur atau obat kebahagiaan, karena awalnya candu hanya dimanfaatkan sebagai obat-obatan.

Saat India dikuasai Inggris, perdagangan candu di China semakin masif karena mendatangkan devisa yang besar bagi Inggris. Terlebih pada masa itu di Eropa terjadi Revolusi Industri dan Inggris terkena dampak langsung dari revolusi tersebut, sehingga merasa perlu untuk mencari pasar baru bagi barang-barang industri yang dihasilkannya.

Di sisi lain, dibawah kekuasaan Dinasti Qing, Pemerintah China hanya membuka satu pelabuhan yaitu di Guangzhou (Kanton) dalam proses perdagangan internasional dan barang-barang dari China seperti rempah-rempah, sutera, teh dan kerajinan porselin yang berkualitas menjadi komoditas yang laku keras di Eropa utamanya di Inggris. Sebaliknya, Inggris tidak memiliki komoditas yang memiliki nilai jual tinggi di daratan China.

Tertutupnya perdagangan China dan ambisi Inggris untuk dapat mengusai pasar China itulah yang membuat para pedagang Inggris merencanakan strategi kotor dengan memasukkan candu secara illegal ke negeri China.

Penggunaan candu yang sebenarnya sudah dilarang oleh Dinasti Qing sejak tahun 1729, tidak dapat terbendung saat bangsa Eropa menyelundupkannya melalui jalur China Selatan. Hal tersebut disebabkan karena Pusat Pemerintahan terletak jauh di sebelah utara, sehingga pengawasan terhadap para pedagang dan pejabat yang korup sulit untuk dapat dilakukan dengan maksimal.

Hal itulah yang membuat penyelundupan candu di China Selatan dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Pada tahun 1730, tercatat sebanyak 15 ton candu yang diselundupkan. Tiga tahun kemudian meningkat menjadi 75 ton. Begitu juga dengan tahun-tahun berikutnya, jumlah candu yang masuk semakin meningkat karena jumlah para pecandu juga mengalami peningkatan.

Awalnya kondisi tersebut kurang begitu diperhatikan oleh penguasa. Tapi begitu ada salah seorang pangeran yang menjadi pecandu, terbukalah mata Kaisar Daoguang akan dampak negatif dari candu, sehingga pada tahun 1810 kembali menegaskan larangan penggunan candu.

Namun larangan tersebut tidak membuat penyelundupan candu mengalami penurunan, tapi justru semakin meningkat karena minimnya tindakan yang dilakukan pemerintah. Sehingga pada tahun 1820, jumlah candu yang diselundupkan tercatat sebanyak 900 ton dalam satu tahun.

Penghisap Opium di China pada Masa Dinasti Qing

Ketika angka penyelundupan candu mencapai 1.400 ton di tahun 1838 dan kondisi masyarakat semakin memprihatinkan, barulah pemerintah China mengeluarkan undang-undang dengan menjatuhkan hukuman mati kepada para penyelundup candu.

Selanjutnya, untuk mengatasi penyelundupan candu di wilayah Kanton, Kaisar mengangkat Lin-Zexu pada bulan Maret 1839, sebagai pejabat yang memiliki kekuasan penuh untuk menangani persoalan candu.

Pejabat inipun dengan berani mendatangi gudang tempat penyimpanan candu milik Inggris dan meminta kepada Inggris untuk menyerahkan candu tersebut. Namun permintaan tersebut ditolak oleh Kepala Perdagangan Inggris, Charles Elliot, sehingga Lin melakukan pengepungan terhadap gudang yang dipakai untuk menyimpan candu.

Baca juga: Jatuhnya Hongkong ke Tangan Inggris Akibat Perang Candu I

Di dalam gudang tersebut terdapat 300 pekerja yang tidak mau menyerahkan diri, hingga pengepungan dilakukan selama 40 hari. Karena persediaan makanan di dalam gudang habis, para pekerja yang kelaparan itupun akhirnya menyerah.

Tidak hanya itu, Lin juga menenggelamkan 22.291 peti candu ke dalam laut, memaksa Inggris menandatangani surat perjanjian untuk tidak lagi membawa candu ke China secara illegal dan puncaknya pada bulan Mei 1839 dengan mengusir para pejabat East India Company dari Kanton.

Tindakan yang dilakukan Lin-Zexu tersebut memantik amarah Inggris dan menganggap Pemerintah China telah melakukan penyitaan property milik pribadi. Karena itulah Inggris mengirimkan kapal-kapal perang dan mengepung pelabuhan untuk mengancam Pemerintah China.

Ancaman yang dilakukan armada perang Inggris tersebut, tidak membuat takut Pemerintah China. Dengan tegas China juga menolak membayar kompensasi serta melarang masyarakat untuk menjalin perdagangan dengan bangsa Eropa.

Dampak dari sikap Pemerintah China tersebut membuat salah satu kapal perang China pada bulan November 1839 dihujani tembakan meriam oleh kapal perang Inggris yang didatangkan dari India, meskipun pada saat itu belum ada pernyataan perang. Peristiwa penembakan kapal China itulah yang menyulut berkobarnya Perang Candu I (1839 – 1842) antara Inggris dengan China. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *