Press "Enter" to skip to content

Gunakan Attribut #2019GantiPresiden Saat CFD, Akankah Terulang?

  • 32
  •  
  •  
  •  
    32
    Shares
Gunakan Kaus & Topi #2019GantiPresiden Saat CFD, Akankah Terulang?

Seperti yang telah diduga sebelumnya, ajakan untuk memakai kaos dan topi beratribut #2019GantiPresiden saat Car Free Day (CFD) yang dihembuskan di sosial media,  disambut oleh masyarakat di sejumlah wilayah di tanah air, termasuk di Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta, pada hari Minggu 29/4/2018.

Mereka yang mengenakan kaos dan topi #2019GantiPresiden, ada yang berjalan kaki dan ada juga yang bersepeda. Mereka membentuk kumpulan-kumpulan kecil di sejumlah titik di kawasan bundaran HI sambil melakukan berbagai aktifitas. Beberapa dari kumpulan kecil tersebut sesekali juga terdengar meneriakkan “Ganti Presiden!”.

Pemandangan yang berbeda dari aktifitas CFD dibandingkan minggu-minggu sebelumnya tersebut, sudah barang tentu mengundang perhatian. Apalagi ada aroma politik yang bersentuhan langsung dengan penguasa.

Itu sebabnya muncul pertanyaan dari berbagai pihak, akankah penggunaan kaos dan topi beratribut #2019GantiPresiden terulang kembali pada CFD di waktu-waktu mendatang atau justru akan dilarang atau bahkan berkembang ke berbagai kegiatan lain yang dilakukan oleh masyarakat?

Menanggapi aktifitas CFD yang tidak seperti biasanya tersebut, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno menegaskan bahwa CFD di Jakarta harus bebas dari berbagai macam aktifitas politik. Karena jika ada salah satu relawan tokoh politik menggelar aktifitas bernuansa politik pada CFD pada minggu ini, maka pada minggu yang akan datang akan dibalas oleh relawan dari tokoh politik yang lain, begitu seterusnya.

“Car Free Day itu milik bersama, jadi saya harap masyarakat dapat  memastikan kalau kedapan tidak ada friksi di antara kelompok masyarakat, dan kami memastikan bahwa Car Free Day bebas dari politik sebagaimana Peraturan Gubernur Nomor 12 Tahun 2016,” kata Sandiaga Uno.

Aktifitas spontan dari masyarakat yang mengenakan kaos dan topi #2019GantiPresiden saat CFD, menurut anggota Badan Pengawas Pemilu ((Banwaslu), Rahmat Bagja, bukan merupakan bentuk kampanye hitam karena tidak mnyerang presiden secara pribadi.

“Kalau ganti presiden atau save presiden itu kan logis. Jadi tidak ada masalah. Itu merupakan kebebasan  yang tidak dapat dikatakan kudeta atau gerakan bersenjata,” kata Bagja sambil mengingatkan agar tidak menyerang pribadi presiden. “Silahkan kalau mau ganti presiden, tapi prosesnya nanti di Pemilu,” papar Bagja.

Baca juga: Daimca Polling, Prabowo-TGB 77%, Jokowi 3,8%, AHY Stabil 1%

Pendapat yang hampir sama juga disampaikan Ketua Banwaslu DKI Jakarta, M. Jufri. Menurutnya, pihak Banwaslu tidak dapat mengambil tindakan terhadap warga yang memakai kaos dan topi beratribut #2019GantiPresiden saat CFD di kawasan Thamrin karena atribut yang mereka pakai tidak menyebutkan nama calon presiden.

“Karena belum ada nama presidennya, maka belum menjadi objek pengawasan kami,” ungkap Jufri. Ditambahkannya bahwa Banwaslu tidak dapat mengambil tindakan, jika tidak terdapat lambang partai dalam atribut aksi. Itu sebabnya Banwaslu tidak dapat berbuat apa-apa meski tercium aroma politik pada saat pelaksanaan CFD di Bundaran HI, 29-4-2018 kemarin. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.