Press "Enter" to skip to content

Perang Candu II Jadikan China Wilayah Dagang Terbuka

  • 11
  •  
  •  
  •  
  •  
    11
    Shares
Perang Candu II Jadikan China Wilayah Dagang Terbuka

Ambisi imperialisme Eropa ke negeri China membuat hak-hak dagang istimewa yang telah mereka dapatkan dari Pemerintah China dirasa msih belum cukup sehingga negara-negara Eropa tersebut bernafsu untuk memperluas kekuasaan mereka. Hal itulah yang mngobarkan Perang Candu Jilid II yang berlangsung pada tahun 1856 – 1860.

Tuntutan pertama dilayangkan Pihak Inggris pada tahun 1854 yang menginginkan agar wilayah yang tercantum dalam Perjanjian Nanjing diperluas. Tidak hanya itu, Inggris juga meminta agar seluruh daratan China dijadikan wilayah dagang terbuka bagi Inggris melalui East India Company, diperbolehkannya duta besar Inggris membuka kantor di Beijing dan dilegalkannya perdagangan candu.

Tidak hanya Inggris, tuntutan yang sama juga  disampaikan oleh Amerika dan Prancis. Karena berada di pihak yang dirugikan, Pemerintah Dinasti Qing pun menolak tuntutan ketiga negara tersebut, sehingga membuat hubungan antara China dengan negara-negara Barat kembali memanas.

Berkobarnya Perang Candu II, secara spesifik dipicu penangkapan kapal bernama “Arrow” oleh pejabat Dinasti Qing, karena dicurigai menyelundupkan sesuatu. Kapal yang dikapteni orang Inggris tersebut telah diregistrasi di Hongkong, dan sudah menjadi kebiasan, kapal-kapal yang hendak menyelundupkan sesuatu selalu diregistrasi terlebih dahulu di Hongkong agar dapat berlayar dengan menggunakan bendera Inggris sehingga dapat terhindar dari jeratan hukum China.

Karena kapalnya ditangkap, Kapten Kapal Arrow pun melaporkannya ke konsulat Inggris, dan konsul Inggris,  Harry Parkes merespon laporan tersebut dengan mendatangi pejabat China untuk memprotes tindakan mereka.

Meskipun diprotes, 12 awak kapal Arrow tetap ditahan dengan tuduhan penyelundupan. Sementara pihak Inggris bersikeras bahwa Kapal Arrow telah diregistrasi di Hongkong, sehingga hukum khusus harus diberlakukan kepada mereka dan awak kapal harus dibebaskan.

Protes yang dilakukan konsul Inggris tersebut tidak digubris oleh China, sehingga Parker pun kemudian melayangkan surat ke Gubernur Ye Mingchen dengan tuduhan bahwa  bendera Inggris telah dihina oleh para pejabat China. Selain itu, konsul Inggris juga menuduh China melanggar perjanjian ekstrateritorial.

Pada waktu yang sama, Parker juga berkirim surat kepada Admiral Sir Michael Seymour dan Gubernur Sir John Bowring yang ada di Hongkong dengan meminta Inggris agar menuntut permintaan maaf dari China.

Mendengar tuntutan dari Pihak Inggris, Gubernur Ye menjawab alasan penangkapan awak kapal serta menyampaikan penyesalan atas terjadinya kesalahpahaman. Dia juga menjelaskan bahwa tidak ada niat sedikitpun untuk menghina bendera Inggris dan menawarkan pembebasan 12 orang awak kapal yang ditahan pada 12 Oktober 1856.

Namun tawaran tersebut ditolak oleh Parker dan dia menuntut agar Gubernur Ye menyampaikan permintaan maaf secara tertulis mewakili Pemerintah Cina serta membebaskan awak kapal dengan segera.

Polemik tersebut terus berlanjut. Pada 21 Oktober 1856, Parker kembali menuntut permintaan maaf China. Esok harinya para tahananpun diserahkan ke konsulat Inggris oleh Gubernur Ye. Namun Inggris menanggapinya dengan dingin. Sementara Gubernur Ye tetap bersikeras tidak mau menyampaikan permintaan maaf secara tertulis.

Dampak Perang Candu II Wilayah China Dibagi-bagi oleh Negara-negara Eropa

Karena China tetap tidak mau meminta maaf, Inggris dengan arogansinya pada tahun 1857 mengerahkan angkatan perangnya dan menggempur Kanton. Tidak berapa lama kemudian Prancis ikut bergabung dengan tentara Inggris disebabkan karena salah seorang misionaris Prancis yang bernama August Chapdelaine dijatuhi hukuman mati oleh Pemerintah China.

Serbuan tentara Inggris dan Prancis membuat Kanton berhasil ditaklukkan. Selanjutnya bala tentara dari Eropa tersebut bergerak menuju Beijing. Hal tersebut membuat Kaisar Xianfeng mengungsi ke Jehol.

Perang Candu II baru dapat diakhiri setelah Pemerintah Cina pada bulan Juni 1858 menandatangani Perjanjian Tianjin yang isinya terdiri atas 5 butir, yaitu: 1). Inggris, Amerika, Prancis dan Rusia diberi ijin untuk membuka kedutaan di Bijing, yang sebelumnya merupakan wilayah yang tertutup bagi warga asing, 2). Pelabuhan baru yang dibuka bagi bangsa Barat bertambah menjadi 10 pelabuhan, termasuk Nanjing, Hankou, Danshui dan Niuzhuang, 3). Bangsa asing diberi ijin untuk melakukan kunjungan ke pedalaman China, baik sebagai misionaris maupun untuk kepentingan dagang, 4). Kerugian perang yang harus dibayar oleh China sebesar 4 juta tail perak untuk Inggris dan 2 juta tail perak untuk Perancis, dan 5). Adanya larangan menyebut bangsa Barat dengan sebutan yi atau barbar.

Meski perjanjian telah ditandatangani, Pemerintah China tetap tidak memberikan ijin pendirian kedutaan di Beijing. Itu sebabnya gabungan tentara Inggris dan Prancis pada 6 Oktober 1860 melancarkan serangan, sehingga Beijing berhasil ditaklukkan. Serangan tersebut membuat Kaisar Xiangfeng kembali mengungsi ke Chngde dan memerintah Pangeran Gong melakukan negosiasi dengan pihak Barat.

Karena tentara Inggris dan Prancis semakin membabibuta dengan membakar istana dan menjarah isinya, Pangeran Gong pun berusaha meredam tindakan anarkis tersebut lewat negosiasi dengan berjanji untuk mematuhi seluruh isi Perjanjian Tianjin lewat Konvensi Beijing.

Konvensi yang diratifikasi pada 18 Oktober 1860 tersebut isinya terdiri atas 4 butir, yaitu: 1). Diakuinya kembali Perjanjian Tianjin oleh Pemerintah China, 2). Tianjin menjadi pelabuhan terbuka, 3). Ganti rugi perang yang harus dibayar China kepada Inggris dan Prancis bertambah besar menjadi 8 juta tail perak, dan 4). Dilegalkannya perdagangan candu.

Dengan dikeluarkannya Konvensi Beijing tersebut, Perang Candu yang telah memakan banyak korban memang benar-benar berakhir, namun sejak saat itu pula candu menjadi barang yang diperdagangkan secara legal di daratan China. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.