Press "Enter" to skip to content

Kronologi Berdarah di Acara Pembagian Sembako

  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares
Kronologi Berdarah Pembagian Sembako
Peristiwa Berdarah Pembagian Sembako

Pembagian sembako yang digelar oleh Forum Untukmu Indonesia pada 28 April 2018 di Monas telah mengakibatkan dua orang anak tewas. Dugaan sementara, keduanya tewas lantaran kekurangan pasokan oksigen dan dehidrasi.

Mahesa Junaedi (12) dan Adinda Rizki meregang nyawa setelah berdesakan dengan pengunjung lain saat mengantri sembako. Keduanya sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak dapat tertolong.

Kronologi Tewasnya Dua Anak di Acara Pembagian Sembako

Muhammad Fayyadh selaku kuasa hukum keluarga korban mengatakan bahwa ibu korban, Komariah mendapatkan kupon gratis sembako dari seorang warga Pademangan Barat, Sri. Sri berhalangan hadir karena harus berdagang di kawasan Ancol.

Komariah akhirnya bersedia menggantikan Sri dan mendapatkan 3 kupon, yakni kupon makan gratis, sembako, dan hadiah dari panitia. Komariah dan anaknya kemudian berangkat ke lokasi dengan menggunakan bus Mayasari Bakti.

Saat itu ada dua orang panitia, Putri dan Eni yang ikut serta di dalam bus. Kondisi bus yang ditumpangi Komariah dan korban penuh sesak. Bus berhenti sekitar 500 meter dari pintu masuk Monas.

Sebelum menukarkan kupon sembako, Komariah dan korban sempat berkeliling di sekitar tempat pembagian sembako. Hingga pada pukul 11.30 WIB, Komariah memutuskan untuk ikut mengantri sembako.

Dari pengakuan Komariah, kala itu antrian tidak begitu panjang, hanya ada tujuh atau delapan orang saja. Namun, tiba-tiba tubuhnya terdorong dari arah belakang. Saat itu, ia masih mengenggam erat tangan buah hatinya. Nahas, genggaman tangan tersebut terlepas ketika ada dorongan massa dari arah depan.

Korban yang berada di tengah-tengah massa terinjak-injak. Sementara Komariah terus berusaha mengamankan korban dengan mendorong massa agar dirinya dapat keluar dari kerumunan tersebut.

Usaha Komariah tak sia-sia, ia berhasil meloloskan diri dan menepi di bawah pohon. Keadaan korban sangat memprihatinkan, muntah-muntah dan mengalami kejang. Ia sempat meminta bantuan pada sejumlah pengunjung lain. Namun, ia tak mendapat pertolongan.

Barulah setelah seorang perempuan mendekati Komariah, ia bisa meminta bantuan. Hingga korban kemudian di bawa ke posko kesehatan. Lantaran membutuhkan penanganan lebih lanjut, sekitar pukul 13.30 WIB salah satu dokter merujuk korban ke RSUD Tarakan Jakarta.

Setengah jam kemudian, korban sampai di RSUD Tarakan dan langsung mendapatkan penanganan serius. Pukul 02.00 WIB, korban dipindahkan ke ruang PICU. Tidak ada perkembangan berarti. Pukul 04.45 WIB, dokter menyatakan korban meninggal dunia.

Polisi Sebut Kedua Korban Pembagian Sembako Tewas Karena Sakit

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono menyebut bahwa kedua korban meninggal bukan karena mengantri sembako, melainkan karena sakit.

“Buka karena antrian. Untuk Mahesa Junaedi, menurut keterangan dokter dinyatakan meninggal karena persistensi hiperpireksia, suhu badan di atas 40 derajat dan heat stroke, dehidrasi,” kata Argo dalam keterangannya, Selasa, (01/05/2018).

Berdasarkan hasil pemeriksaan, korban Rizki diduga meninggal karena suhu panasa yang terlampau tinggi. Menurut keterangan dari pihak keluarga, Rizki memiliki riwayat penyakit sebelumnya.

“Berdasarkan keterangan dokter sebab kematian dikarenakan panas suhu badan yang sangat tinggi,” ujar Argo.

Hingga kini acara pembagian sembako yang digelar secara ilegal oleh Forum Untukmu Indonesia masih terus diusut oleh pihak kepolisian untuk menemukan titik terang. (efs)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.