Press "Enter" to skip to content

Ini Pendapat Sejumlah Tokoh Soal Perang Tagar

  • 23
  •  
  •  
  •  
  •  
    23
    Shares

Jelang Pilpres 2019 yang baru akan dilaksanakan sekitar satu tahun ke depan, upaya untuk menggalang massa sudah dilakukan oleh para pendukung dan simpatisan dua poros yang diperkirakan bakal menjadi kontestan, yaitu kubu Joko Widodo dan kubu Prabowo Subianto.

Salah satu upaya untuk menggalang massa yang saat ini tengah ramai-ramainya diperbincangkan adalah Perang Tagar yang diawali hashtag #2019GantiPresiden lalu dibalas oleh pendukung petahana lewat tagar #DiaSibukKerja.

Perang hashtag yang semula hanya berkobar di media sosial tersebut dalam waktu yang relatif singkat menjalar di kehidupan sosial. Sehingga nuansa panas pun semakin terasa, termasuk munculnya sejumlah kasus perselisihan yang merupakan buntut dari perang tagar.

“Saat mencetuskan tagar #2019GantiPresiden, kita tidak sedang menjelek-jelekkan Pak Jokowi. Beliau orang baik. Pemerintah sekarang juga sedang bekerja. Namun dalam penilaian kami dan ini juga menjadi hak konstitusional kami, kami berharap 2019 bisa ganti presiden yang lebih baik,” ungkap Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera yang menjadi pencetus hashtag #2019GantiPresiden.

Gerakan tersebut menurut Mardani bukan untuk menciptakan suasana panas jelang Pilpres 2019, namun bertujuan untuk merumuskan agenda “Menuju Indonesia Berkah, yaitu Indonesia yang maju, adil dan makmur sebagaimana yang tercantum dalam konstitusi.

Meski menurut sang pencetus tidak bertujuan untuk memanaskan suasana, namun situasi yang berkembang justru sebaliknya. Menurut Ketua DPR. Bambang Soesatyo (Bamsoet), perang tagar yang berlangsung saat ini sudah memasuki fase mengkhawatirkan, karena dukungan ekstrim dari kedua kubu sudah memasuki ranah memecah kedamaian di tengah-tengah masyarakat.

“Situasi yang berkembang sudah tidak menggembirakan dan menimbulkan kekhawatiran terutama bagi kelangsungan kehidupan yang damai di tengah masyarakat,” kata Bamsoet di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta.

Untuk itulah politisi dari Partai Golkar ini menghimbau, agar para pendukung Jokowi dan Prabowo dapat bersikap lebih dewasa dalam brpolitik, dan tidak ada aksi provokasi diantara kedua belah pihak dalam menyampaikan sikap politiknya.

Selain itu, Bamsoet juga mengharap aparat keamanan dapat menjalankan tugas dengan maksimal serta tidak pilih kasih dalam melakukan penindakan terhadap siapapun yang dalam memberikan dukungan politik mengandung dugaan pelanggaran,

“Aparat keamanan harus bertindak tegas tanpa pandang bulu.  Jika besuk ada yang melakukan aksi ganti presiden dibatasi atau dilarang, maka perlakuan yang diberikan kepada yang pro presiden juga harus equal, harus sama,” tegas Bamsoet.

Upaya untuk mendinginkan suasana juga disampaikan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan saat menghadiri Rakernas dan Tasyakuran Milad IPEMI (Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia) di Hotel Yasmin Bogor pada 7/6/2018.

Zulkifli Hasan mengajak kedua belah pihak yang mengusung tagar berbeda dapat bersaing secara sehat dengan mengutamakan ide, gagasan serta visi untuk Indonesia yang lebih baik.

“Kalau yang 2019 Ganti Presiden dan yang Tetap 2 Periode, foto bersama, kan bagus. Berbeda itu bukan saling cela, berbeda itu bisa jadi gembira,” ungkap Ketua Umum PAN ini.

Untuk memperkuat persatuan di tahun politik itulah, Zulkifli Hasan bermaksud untuk mengeluarkan T-Shirt yang juga beratribut tagar dengan hashtag #PemiluDamai.

“Mau #2019Ganti Presiden atau #Tetap2Periode, silahkan saja. Yang penting tetap damai dan menjaga persaudaraan dan jangan saling ribut,” harap Zulkifli Hasan. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.