Press "Enter" to skip to content

Pemilu 2019, Pemilu Terumit di Dunia!

  • 6
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares
Jusuf Kalla

Berbicara di hadapan peserta apel Kasatwil (Kepala Satuan Wilayah) Kepolisian RI di Auditorium PTIK, Jakarta, Wakil Presiden, Jusuf Kalla menyampaikan bahwa Pemilu 2019 nanti, merupakan pemilu paling rumit di dunia!

Pendapat JK tersebut mengacu pada pelaksanaan Pemilu 2019 nanti yang hampir bisa dipastikan setiap pemilih dalam satu waktu akan mencoblos 5 kali untuk memilih calon anggota legislatif yang duduk di DPD, DPRD I, DPRD II dan DPR-RI, serta capres/cawapres.

Kerumitan menjadi semakin bertambah disebabkan dalam satu lembar surat suara terdapat sekitar 25 nama calon. Belum lagi untuk pemilihan DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten.

Dengan banyaknya parpol yang menjadi peserta pemilu dan masing-masing parpol mengusung beberapa nama caleg, membuat lembar kertas suara nantinya tidak diberi gambar logo parpol maupun foto caleg.

Kerumitan masih belum usai, karena sejumlah masyarakat masih menyandang buta aksara, seperti masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dan mereka yang sudah lanjut usia.

Bahkan, menurut Jusuf Kalla, kerumitan tidak hanya terjadi pada saat pencoblosan, tapi berlanjut sampai dengan penghitungan suara, mengingat penghitungan suara menggunakan sistem terbuka.

“Kalau menggunakan sistem tertutup paling gampang. Mana partai yang menang, ya itu yang mendapatkan suara. Dengan sistem tertutup, penghitungan tidak hanya sebatas pada suara yang diperoleh partai, tapi juga menghitung suara yang diperoleh calon. Sehingga dapat diibaratkan jeruk makan jeruk. Artinya, calon yang berasal dari satu partai bisa saling berkelahi sendiri,” ungkap JK.

Rumitnya pelaksanaan Pemilu 2019 membuat Wakil Presiden ini memprediksi jalannya penghitungan suara akan berlangsung sampai dengan keesukan harinya, sehingga dibutuhkan pengamanan yang ekstra dari pihak kepolisian. Karena jika keamanan tidak terjamin,dapat menimbulkan persoalan yang serius.

Kepada peserta apel Kasatwil, JK berpesan untuk melakukan penjagaan yang ketat, baik pada saat pencoblosan maupun saat pnghitungan suara. Karena permasalahan yang timbul selama ini, justru lebih banyak terjadi pada saat dilakukannya penghitungan suara.

Apa yang disampaikan Jusuf Kalla tentang rumitnya pelaksanaan Pemilu 2019, dibenarkan oleh Ketua DPR, Bambang Soesatyo. Menurutnya, banyaknya parpol yang menjadi kontestan Pemilu menjadi salah satu persoalan yang harus dicarikan jalan keluarnya.

Salah satu solusi yang ditawarkan Bamsoet adalah dengan penyederhanaan parpol pada pelaksanaan pemilu-pemilu berikutnya. “Jadi, jika sekarang ambangnya 4 persen, ke depan bisa dinaikkan menjadi 6 persen. Sehingga dari 19 partai yang mengikuti Pemilu 2019, nantinya akan terus berkurang,” ungkap Bamsoet.

Ketua DPR ini juga menggarisbawahi bahwa jika jumlah parpol sedikit maka akan dapat menekan konflik, perpecahan sampai dengan anggaran. Sedang dampak langsung yang dirasakan oleh masyarakat, mereka tidak bingung dalam memberikan hak suaranya. “Bagi saya, kesatuan bangsa jauh lebih penting dibandingkan demokrasi,” pungkas Ketua DPR ini. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.