Press "Enter" to skip to content

Pengaruh Perang Tagar dalam Mendongkrak Elektabilitas Capres

  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares
Pengaruh Perang Tagar dalam Mendongkrak Elektabilitas Capres

Maraknya perang tagar di sosial media yang dikampanyekan oleh dua kubu yang berseberangan pilihan, menimbulkan sebuah pertanyaan, “Seberapa besar pengaruh dari perang tagar dalam mendongkrak elektabilitas capres, sehingga para pendukung dan simpatisan salah satu capres begitu gigih mengkampanyekan hashtag masing-masing?”

Perang tagar di sosial media, menurut Denny JA. Ardian Sopa, Peneliti LSI (Singkaran Survei Indonesia), tidak begitu signifikan dalam mendongkrak elektabilitas capres. Meski perang tagar tersebut dibangun partai-partai politik, namun elektabilitas dari capres dan parpol yang mendukungnya lebih ditentukan oleh tiga faktor.

“Ketiga faktor tersebut adalah partai yang terasosiasi kuat ke salah satu capres yang memiliki elektabilitas tinggi, kedua program dari parpol tersebut populer dan dikenal luas dan ketiga tidak terkait dengan skandal,” ungkap Denny di kantor LSI, Rawamangun, Jakarta. Salah satu skandal yang berpengaruh besar terhadap elektabilitas, menurut Denny adalah kasus korupsi.

Hal yang sama juga disampaikan pegiat media sosial, Enda Nasution yang mengatakan bahwa perang tagar hanya gimmick, karena tagar #2019GantiPresiden maupun tagar #DiaSibukKerja jarang menduduki trending topik. Efektivitas gimmick tersebut dinilai sangat minim. Terlebih di Twitter yang muncul adalah jumlah akun dan jumlah tweet yang belum tentu riil user atau pengguna.

“Jika dibandingkan dengan populasi masyarakat Indonesia, perang tagar tersebut sebenarnya hanya diramaikan tidak lebih dari 5 persen masyarakat. Hanya saja, efek dari perang tagar tersebut terkesan begitu besar karena disuport oleh media mainstream sehingga menciptakan polemik yang lebih besar,” terang Enda.

Namun begitu, jika tujuannya untuk mempopulerkan, maka apa yang menjadi maksud dari pencetus tagar tersebut sudah kesampaian. Tapi jika tujuannya untuk mengganti presiden, tentu saja masih masih menjadi tanda tanya besar, karena media sosial, bukan jaminan diterimanya kampanye oleh masyarakat luas.

Meski pengaruhnya tidak terlalu signifikan dalam meningkatkan elektabilitas capres maupun parpol, perang tagar menurut pengamat politik, Gungun Heryanto tetap saja menguntungkan parpol dan relawan timses dalam memobilisasi massa dan merupakan ceruk yang sangat potensial, karena relawan timses dapat memobilisasi massa dengan biaya yang murah meriah.

“Tagar merupakan ekspresi simbolik, dan perang tagar di media sosial merupakan fenomena biasa seiring dengan perubahan konteks sosial politik yang saat ini semakin dinamis. Justru dengan munculnya perang tagar, warga akan merasa menjadi bagian dari proses demokrasi, dalam hal ini Pemilu,” ungkap Gungun dalam diskusi bertajuk “Politik Tagar Bikin Gempar” pada 6/5/2018 di Warung Daun, Jakarta Pusat.

Meski memberikan sejumlah dampak positif, Gungun juga mengingatkan bahwa media sosial ibarat pisau bermata dua. Disatu sisi dapat memberikan manfaat yang baik, namun di sisi lain juga dapat menimbulkan dampak buruk, seperti black campaign, black propaganda, character assasination, persekusi dan intimidasi. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.