Press "Enter" to skip to content

Kemenangan Mahathir Jadi Pertanda Lengsernya Jokowi?

  • 39
  •  
  •  
  •  
  •  
    39
    Shares
Mahathir dan Jokowi

Menyusul kemenangan Mahathir Muhammad pada Pemilihan Umum Malaysia yang digelar hari Rabo, 9 Mei 2018, Wakil Ketua DPR-RI Fadli Zon melalui akun twitternya @fadlizon langsung mengunggah sebuah cuitan disertai tagar #2019GantiPresiden.

“Tanda-tanda zaman, Selamat pd Mahathir Muhammad yg menang dlm Pemilu n jd Perdana Menteri dlm usia 92 th. Semakin yakin.” Demikian isi kalimat yang ditulis Fadli Zon dalam akun twitternya.

Kata “Semakin yakin” yang ditulis di penghujung kalimat tersebut, menunjukkan keyakinannya bahwa capres yang dia usung bersama Partai Gerindra, yaitu Prabowo Subianto bakal dapat mengalahkan petahana.

Banyak dimensi yang terkandung dari kalimat singkat yang ditulis Fadli. Pertama dari sisi usia Mahathir yang sudah 92 tahun seolah dibandingkan dengan usia Prabowo yang juga sudah tidak muda lagi, yaitu 66 tahun.

Dengan kata lain, jika Mahathir yang sudah udzur mampu mengalahkan kompetitornya yang usianya jauh lebih muda, begitu juga dengan Prabowo yang akan bersaing dengan petahana yang usianya lebih muda, yaitu 56 tahun.

Keyakinan kedua yang muncul pada diri Fadli terkait dengan sosok kompetitor dan partai yang mengusung. Sebagaimana diketahui, Mahathir Muhammad maju dalam pemilihan umum lewat bendera partai oposisi, sementara lawannya adalah sang petahana, Najib Razak yang diusung Barisan Nasional dan UMNO yang sudah berkuasa selama lebih dari 60 tahun.

Itu sebabnya, tidak berlebihan jika Fadli Zon memiliki keyakinan akan dapat membawa Prabowo Subianto mnduduki jabatan RI-1, meskipun harus melawan petahana dan bersaing dengan beberapa partai termasuk partai besar seperti PDI-P dan Golkar yang dipastikan akan berpihak ke Jokowi.

Terlepas dari keyakinan Wakil Ketua DPR-RI ini, terdapat pula sejumlah fenomena atau lebih tepat disebut persoalan yang hampir sama antara Malaysia dan Indonesia terkait dengan investasi dan tenaga kerja asing.

Mahathir selama ini dikenal getol dalam mengkritik kebijakan pemerintah terkait masalah investasi China yang menurutnya sangat membahayakan Malaysia. Bahkan dia pernah digelandang dan diinterogasi oleh polisi diraja Malaysia saat berpidato dan diliput media massa karena melontarkan kritikan tajam kepada pemerintah tentang persoalan investasi China.

Baca juga: Jusuf Kalla, “Investor China Harus Prioritaskan Pekerja Indonesia”

Kebijakan yang diambil Pemerintah Malaysia dibawah kepemimpinan Najib Razak tersebut banyak yang menghubungkannya dengan langkah Presiden Jokowi yang memberi peluang besar kepada China untuk menanamkan investasinya ke Indonesia sekaligus membuka kran selebar-lebarnya bagi masuknya tenaga kerja asing utamanya dari negeri China.

Masuknya sejumlah investasi tersebut dinilai oleh sejumlah pihak sebagai upaya untuk menumpuk hutang. Karena selama dibawah kepmimpinan Jokowi, hingga akhir Januari 2018 hutang Indonesia mncapai Rp.4.985 trilliun dan saat ini hutang tersebut diperkirakan membngkak menjadi Rp.5.200 trilliun setlah terjadinya pelemahan nilai rupiah.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang menembus level Rp.14.085 tersebut diluar prediksi para ekonom, yang semula memperkirakan dollar AS akan dapat menembus level Rp.10.000 jika Jokowi menang.

Celakanya, pembangunan infrastruktur yang membuat hutang Indonesia semakin menggunung tersebut dinilai tidak begitu memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, karena rerata pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 5% sedang rerata prftumbuhan hutang pertahun mencapai 14%.

Belum lagi ditambah dengan pertumbuhan perdagangan serta ekspor-impor Indonesia yang masih dibawah negara-negara Asean lainnya, seperti Singapura, Thailand, Malaysia, Filiphina serta Vietnam.

Mungkinkah fenomena politik yang berkembang di Malaysia akan menjadi tsunami politik di Indonesia? Dan terpilihnya Mahathir Muhammad menjadi pertanda lengsernya Joko Widodo? (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *