Press "Enter" to skip to content

Gelar Annual Meeting IMF – WB, Pemerintah Dituduh Hamburkan Rp.800 Milyar

  • 19
  •  
  •  
  •  
  •  
    19
    Shares
Luhut Binsar Pandjaitan

Rencana digelarnya International IMF –WB (Monetary Fund – World Bank) Annual Meeting 2018 di Bali pada bulan Oktober 2018 nanti, menuai protes dari sejumlah kalangan. Tuduhan yang dilontarkan kepada pemrintah nyaris seragam, yaitu menghambur-hamburkan uang rakyat, karena untuk pelaksanaan acara tersebut butuh anggaran lebih dari Rp.800 milyar yang diambilkan dari APBN.

Refrizal, anggota Komisi XI DPR mengungkapkan bahwa anggaran yang tidak sedikit tersebut seharusnya digunakan untuk pos-pos lain yang lebih bermanfaat, terlebih kondisi keuangan negara saat ini tengah mengkhawatirkan.

“Logika berpikir pemerintah, membuat saya bingung, karena kondisi bangsa kita saat ini sedang sulit, sementara anggaran yang harus dikeluarkan untuk menggelar acara tersebut besar sekali,” kata Refrizal.

Karena itulah dia meminta agar pemerintah memerinci penggunaan anggaran serta menyampaikannya ke publik secara transparan, mengingat dana yang digunakan adalah uang APBN. “Selain itu masyarakat juga harus tahu, apa manfaat dari pertemuan tersebut,” tandas Refrizal.

Senada dengan Refrizal, Ketua Presidium Persatuan Pergerakan, Andrianto, juga mengungkapkan hal yang sama. Bahkan, kalimat yang disampaikannya lebih tajam karena meminta kepada Komisi Pemberantasan Korupsi dan Badan Pemeriksa Kuangan untuk mengusut dana Rp.800 miliar lebih yang digunakan untuk menggelar pertemuan tersebut.

“Karena ini sudah menggunakan APBN, maka KPK dan BPK harus bertindak!” ungkapnya.

Andrianto merasa prihatin atas sikap pemerintah karena menurutnya telah menghambur-hamburkan uang disaat ekonomi dalam keadaan susah. Terlebih posisi Indonesia bertindak selaku tuan rumah, sementara Indonesia hanya sebagai deebitur atau peminjam uang.

“Kelihatannya tidak ada sense of crisis. Padahal ekonomi saat ini sedang memburuk, nilai tukar rupiah makin loyo, sektor retail ambruk dan utang semakin menggunung,” sesal Andriyanto.

Ditambah lagi, dampak dari utang pinjaman Indonesia kepada dua lembaga tersebut tidak memberikan dampak yang signifikan bagi perekonomian Indonesia. “WB dan IMF itu jelas rentenir dunia, as th big riba. Sehingga sangat aneh jika kita justru menghamba sementara negara-negara lain sudah berpaling dari WB dan IMF,” kata Andriyanto.

Baca juga: Sudah Banyak Bukti Buruh Kasar China Masuk Indonesia!

Menanggapi pandangan negatif dari sejumlah pihak, Luhut Binsar Pandjaitan yang menjadi Ketua Panitia Nasional Annual Meeting menyampaikan bahwa apa yang mereka sampaikan tersebut tidak beralasan. Karena dana sebesar Rp.800 milliar lebih yang diambil dari APBN untuk penyelenggaraan Annual Meeting justru akan menguntuntungkan Indonesia.

“Dengan dana tersebut, kita juga akan memanfaatkannya untuk memperbaiki tourist destination,” kata Jenderal yang menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman tersebut.

Memperbaiki tourist destination yang dimaksud Luhut diantaranya adalah perbaikan bandara di Banyuwangi, Jawa Timur yang menelan anggaran sebesar Rp.82 milliar, perbaikan infrastruktur di Labuan Bajo, Nusatenggara Timur, termasuk membenahi bandara, perhotelan serta tempat-tempat wisata kuliner, penataan pembuangan sampah bagi penduduk setempatm dan berbagai proyek lainnya.

Terhadap mereka yang memiliki penilaian negatif terhadap pemerintah dan menuduh pemerintah telah menghambur-hamburkan uang, Luhut menantang untuk berhadapan langsung dengannya.

“Biar clear, sini, ngomong langsung ke saya. Saya mempertanggungjawabkah semuanya,” kata Luhut Binsar Pandjaitan. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *