Press "Enter" to skip to content

Daerah-daerah yang Menjadi Basis Teroris di Indonesia

  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares
Jenderal Polisi, Tito Karnavian

Teror bom yang terjadi di lima titik di Surabaya dan Sidoarjo membuat sebagian masyarakat merasa cemas, teror yang sama akan terjadi di sekitar tempat tinggal mereka. Terlebih sejak Senin, 14/5/2018, Polri menetapkan status Siaga Satu kepada personil keamanan meski masyarakat masih bisa melakukan aktifitas seperti biasa.

Selain menetapkan status Siaga Satu bagi aparat kepolisian, Polri melalui Kepala Humas Mabes Polri, Irjen Setyo Wasisto juga mengungkapkan tiga wilayah yang perlu diwaspadai karena diduga menjadi basis jaringan Jemaah Ansharut Daulah (JAD).

“Sebagaimana yang telah disampaikan Bapak Kapolri tentang bangkitnya sel-sel JAD, daerah yang menjadi basis terbesar JAD adalah Jawa Barat, Jabodetabek dan Jawa Timur,” kata Setyo Wasisto.

Meski demikian peningkatan pengawasan tidak hanya dilakukan ditiga wilayah itu saja, karena sebaran dari anggota JAD meluas ke beberapa wilayah, diantaranya adalah Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Bima dan di Poso.

Untuk itu, menurut Kepala Humas Mabes Polri ini, pihak kepolisian akan memanfaatkan database yang ada guna memantau jaringan teroris maupun keberadaan anggota teroris dari kelompok ISIS ini. “Akan terus kita pantau karena selama ini sel-sel tidur dan mereka pintar ngeles,” kata Setyo.

Tersebarnya kelompok JAD di beberapa wilayah di tanah air, dibenarkan oleh Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Pol. Zulkarnain Adinegara. Menurutnya, di wilayah hukumnya, saat ini terdapat enam anggota JAD yang menjadi buronan Densus 88 Anti-Teror, setelah berhasil kabur saat dilakukan penangkapan terhadap 13 anggota JAD pada bulan Desember 2017 di Muara Enim.

“Sel-selnya memang masih ada di sini. Setidaknya ada enam orang. Tapi kita tidak tahu, dimana tempat persembunyian mereka,” kata Kapolda Sumsel ini. “Kita masih akan terus selidiki, dimana keberadaan keenam anggota JAD tersebut. Mereka jangan sampai mnjadi serigala yang mencari mangsanya.”

Terkait dengan teror beruntun yang dilakukan oleh teroris, Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian sebelumnya mengungkapkan bahwa teror bom di Surabaya tidak hanya sebatas aksi teror ISIS di tingkat global, melainkan juga pembalasan atas terjadinya peristiwa di tingkat nasional.

Pembalasan yang dimaksud adalah tertangkapnya Pimpinan JAD dan JAT (Jamaah Ansharut Tauhid) yaitu Zainal Anshori dan Aman Abdurrahman, dimana kedua kelompok tersebut merupakan affiliasi ISIS.

Baca juga: AA Gym “Tidak Ada Agama Manapun yang Membenarkan Teroris”

Penangkapan kedua pimpinan JAD dan JAT itulah yang membuat kawanan teroris melakukan aksi pembalasan, mulai dari kerusuhan di Mako Brimob sampai dengan rentetan bom yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo.

“Mereka memanas dan ingin melakukan pembalasan. Jadi, kerusuhan yang terjadi di Mako Brimob, bukan semata-mata karena makanan yang tidak boleh masuk, tetapi merupakan dinamika internasional serta upaya kekerasan untuk pembalasan,” papar Tito Karnavian pada 14/5/2018 di Mapolda Jawa Timur, Surabaya. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *