Press "Enter" to skip to content

Kesepakatan Istimewa Gerindra-PKS, Menuju #2019GantiPresiden

  • 31
  •  
  •  
  •  
  •  
    31
    Shares
Konsistensi Gerindra-PKS
Menguji Konsistensi Gerindra-PKS Menuju #2019GantiPresiden

Oleh: DIKI DAMAR

Baru-baru ini, politik nasional diguncang oleh closing statement pasangan Asyik di debat Pilkada Jabar. Sesuatu yg baru pertama kali terjadi, sebuah pernyataan “sikap perang” bernuansa pilpres 2019. Kejadian serupa memang terasa di Pilkada DKI, tapi tak ada pernyataan yg keluar dari kandidat oposisi. Apalagi disampaikan di depan televisi, yg disaksikan langsung oleh rakyat Indonesia di berbagai daerah.

Masyarakat kembali terhentak dan kaget luar biasa, pesan apa yg sebenarnya ingin disampaikan oleh pasangan Asyik? Benarkah itu sebuah acara spontanitas? Ataukah sudah direncanakan secara matang oleh koalisi? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memayungi pikiran dan analisa berbagai pihak tanpa terkecuali. Tapi saya berasumsi untuk memastikan, bahwa itu terencana dan terkonsolidasi dengan tim pemenangan.

Karena kaos yg disiapkan oleh Syaikhu selama duduk di panggung, tentu bukan kebetulan ada di kursi. Namun demikian, mari kita bedah secara objektif: Elektabilitas Asyik di Pilkada 2018 dan Prabowo menuju Pilpres 2019 Bercermin dari pesta demokrasi spektakuler Ibukota, sungguh tak ada satupun suvey yg berani menjagokan Anies-Sandi menduduki kursi Gubernur dan wakil Gubernur.

Hal itupun dialami oleh pasangan Asyik di Jabar. Bagaikan misi yg mustahil untuk bisa melakukan loncatan dahsyat elektabilitas, untuk melewati kedigdayaan pasangan Rindu dan duo Dedi. Tapi perihal itu tdk berlaku bagi seorang tokoh politik nasional, yaitu seorang king maker yg handal dalam melakukan manuver berbagai Pilkada.

Baca juga: Dilema Sri Mulyani, Antara Omongan dan Praktik!

Beliau tiada lain adalah Prabowo Subianto. Kenapa dikaitkan dgn 08? Ingatlah kilas balik beliau dalam memenangkan berbagai pertempuran. Olah data & fakta strategi, meningkatkan spirit perwira plus prajurit, serta pemetaan wilayah konflik menjadi simbol beliau di berbagai misi untuk negeri tercinta yaitu NKRI. Pengalaman ialah guru paling berharga, dan disinilah 08 berhasil menempatkan pengalaman secara efektif dan efisien.

Beliau terjun dgn berbagai gebrakan dahsyat selama tour Jabar. Dan ada 1 tokoh yg selalu menempel bersama 08 yaitu Ahmad Heryawan (kandidat cawapres terkuat dari PKS). Dalam sebuah kesempatan Prabowo berkata, bahwa Jabar merupakan kunci kemenangan pilpres 2019. Disinilah angin segar bagi PKS, bahwa kader terbaiknya punya peluang emas yg akan dipilih menuju gelanggang nasional.

Tentunya sebuah impian yg belum pernah terwujud bagi partai dakwah tersebut selama berkecimpung di Pilpres selama era Reformasi. Tapi jangan terlalu berbahagia dulu, ada syarat mutlak yg wajib dilakukan sebelumnya! Ingatlah, makan nasi goreng bersama 08, beda dgn makan siang ala Dilan.

Seorang Jendral, tak terlalu suka basa-basi politik gincu. Seorang jendral butuh bukti nyata bahwa anda memang pantas dikatakan terbaik, dan layak mendampingi saya menuju Istana pada pilpres 2019. Siapakah yang dimaksud anda ini? Tentu akan mengarah khusus dan special kepada Ahmad Heryawan, dan umumnya kepada seluruh kader PKS.

Jabar merupakan basis utama partai dakwah selama partai itu berdiri. Bahkan calon-calon yang jadi pesaing seperti Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar, tidak lepas dari sentuhan karya seni politik PKS, ketika dulu membingkai mereka jadi pemenang di kontestasi politik di tahun-tahun sebelumnya. Sudahkah terlihat benang merahnya? Sangat jelas sekali dalam uraian diatas. Sekiranya PKS tak mampu alias gagal memberikan kemenangan bagi Asyik di Jabar, maka lebih arif dan bijaksana jika anda mundur dari egoisme medan laga yg lebih besar! Tapi jika anda mampu membuktikan “mission Imposible” dari kepungan 3 kandidat pro incumbent, maka sungguh kehormatan besar menyambut anda dengan tangan terbuka dan dekapan hangat.

Dalam tulisan ini, sebenarnya cukup juga memberikan gambaran mengapa Asyik memberikan kejutan. Bukan semata-mata mereka memiliki tugas sendiri yg super berat, tapi mereka pun punya “tugas sakti” memegang janji pada tokoh sentral yaitu Jendral Prabowo Subianto. Perlu dicatat, ada “kontrak politik” antara Gerindra dan PKS yang bernilai konsistensi sampai 2019. Tapi rasanya naïf bila Gerindra memberikan cek kosong pada kontrak tersebut, melainkan ada syarat & tugas yg harus bisa diwujudkan sebelumnya.

Karena untuk mencapai puncak, tetaplah menapaki anak tangga secara bertahap dengan meminimalisir kesalahan dalam melangkah! Sebagai penutup, maka saya ringkas secara sederhana. Bahwa Sudrajat memegang pena dan Syaikhu memegang kontrak. Pena itu akan menggores serta mengukir tanda tangan, jika Ahmad Heryawan beserta mesin politiknya, berhasil menjalankan peran istimewa yang diamanatkan!

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *