Press "Enter" to skip to content

Parliamentary Threshold 4% Bikin Pemlilu 2019 Makin Kompetitif

  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares
Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini

Pelaksanaan Pemilu 2019 dipastikan akan berlangsung dengan sengit selain karena parliamentary threshold yang lebih besar dibanding pemilu-pemilu yaitu sebesar 4 persen, juga karena partai politik yang menjadi peserta  pemilu semakin banyak.

Jika pada pemilu 2009 terdapat 38 parpol yang menjadi kontestan dan hanya 9 parpol yang lolos dengan ambang batas 2,5 persen, disusul pemilu 2014 yang diikuti 12 parpol, 10 diantaranya lolos di parlemen dengan ambang batas 3,5 persen, maka pada pemilu 2019 nanti sebanyak 16 parpol akan berebut suara dengan ambang batas 4 persen.

“Terdistribusinya suara ke 16 parpol ditambah parliamentary threshold yang meningkat menjadi 4 persen akan membuat pemilu 2019 semakin sengit dan kompetitif,” ungkap Direktur Perludem (Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi), Titi Anggraini.

Persaingan untuk dapat mencapai parliamentary threshold 4 persen tersebut, tambah Titi, bukan persoalan yang mudah, bahkan untuk partai lama yang sudah masuk ke dalam parlemen sekalipun. Sehingga naiknya ambang batas menjadi 4 persen merupakan cara yang efektif untuk mengurangi jumlah parpol di parlemen.

Sisi negatifnya menurut Titi,”Masyarakat yang sudah capek-capek datang ke TPS, suaranya bisa terbuang atau tidak terhitung disebabkan karena parpol yang mereka pilih tidak lolos.” Hal tersebut sesuai dengan ketentuan pada Undang-Undang No.7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

Untuk dapat mencapai ambang batas tersebut, menurut Direktur Eksekutif Perludem ini, parpol harus memiliki caleg-caleg yang solid antar sesama caleg dan mereka mau bekerja serta turun ke lapangan. Soliditas antas sesama caleg dalam satu partai sangat diperlukan karena tantangan dari pemilu proporsional daftar terbuka adalah terjadinya persaingan, tidak hanya antara caleg yang berbeda partai tapi juga antar caleg dalam satu partai.

“Karena itu, parpol harus menegaskan kepada para calegnya bahwa yang menjadi prioritas adalah kemenangan partai dan bukan kemenangan per-individu caleg. Jangan sampai terjadi, caleg dari satu partai bersaing secara ketat,” ungkap Titi.

Besarnya parliamentary threshold itulah yang membuat partai yang saat ini duduk di parlemen sebagian dimungkinkan tidak akan mampu mencapai ambang batas tersebut. Parpol-parpol lama yang terancam tidak memiliki kursi di parlemen menurut hasil survey LSI (Lingkaran Survey Indonesia) sebanyak 5 parpol, yaitu PAN, Nasdem, PKS, PPP dan Hanura yang menurut hasil survey untuk pemilu 2019, suara yang  mereka raih kurang dari 4 persen.

“Terlebih Hanura yang suaranya tidak mencapai 1 persen, harus bekerja keras agar tidak tersingkir dari parlemen. Sedangkan PAN, PKS, Nasdem dan PPP masih dimungkinkan menembus ambang batas 4 persen karena margin of error dari survey sebesar 2,9 persen dan masih banyak responden swing voters atau belum menentukan pilihan yaitu sebesar 23,5 persen,” terang peneliti LSI, Denny JA Ardian Sopa. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *