Press "Enter" to skip to content

Polemik Soal Bentangkan Kaos #2019GantiPresiden Saat Debat Pilkada Jabar

  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares
Polemik Soal Bentangkan Kaos #2019GantiPresiden Saat Debat Pilkada Jabar

Suasana panas mewarnai pelaksanaan Debat Publik Putaran Kedua Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat pada 14/5/2018 di Kampus Universitas Indonesia, Depok,  saat pasangan Sudrajat dan Ahmad Syaikhu membentangkan kaos bertuliskan “2018 Asyik Menang, 2019 Ganti Presiden”.

Aksi yang dilakukan jelang penutupan debat publik tersebut sontak memancing emosi pendukung calon lawan saat keduanya melontarkan kalimat bernada provokatif, “Pilihlah nomor 3. Kalau Asyik menang, Insya Allah 2019 kita akan ganti presiden!”

Meski pada akhirnya kericuhan tersebut dapat diredam dan tidak sampai menimbulkan tindakan anarkis, namun buntut dari aksi membentangkan kaos bertuliskan “2018 Asyik Menang, 2019 Ganti Presiden” tersebut ikut memanaskan suasana Pilkada dan memancing sejumlah tokoh untuk berkomentar dan berpolemik.

Ketua DPP PDI-P, Hendrawan Supratikno salah satu diantaranya yang menilai bahwa aksi membentangkan kaos dan mngucapkan kalimat provokatif tersebut merupakan sebuah blunder dan tidak patut dilakukan dalam acara debat, karena tidak relevan dengan materi debat.

“Kami sempat terkejut, mengapa pasangan ini bisa melakukan rekayasa provokatif dan agitatif yang menyalahi kepatutan dan keadaban publik? Ini bukan kampanye Pilpres, ini forum pilkada,” papar Hendrawan yang sangat mnyayangkan forum debat dirusak oleh hal-hal yang konyol.

Hendrawan juga mempertanyakan posisi Partai Gerindra dan PKS yang mendukung paslon Syaifullah Yusuf – Puti Guntur Soekarno yang diusung PDI-P dan PKB. “Apakah ini berarti di Jawa Timur nanti kalau paslon kami menang, otomatis tema yang diusung ganti presiden? Ini aneh, absurd dan ganjil. Sangat tidak logis,” kata Hendrawan.

Baca juga: Kesepakatan Istimewa Gerindra-PKS Menuju #2019GantiPresiden

Pendapat berbeda disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon. Dia menganggap apa yang dilakukan paslon Sudrajat – Ahmad Syaikhu merupakan tindakan yang brillian dan tidak melanggar aturan yang berlaku.

“Nggak ada masalah. Menurut saya, apa yang mereka lakukan bagus. Kalau ingin ganti presiden pada Pilpres 2019, ya pilih Asyik. Apa salahnya? Itu demokratis dan sangat etis. Bagi saya, ide mereka itu brillian,” ungkap Fadli Zon di kompleks parlemen, Senayan Jakarta.

Justru mereka yang menilai dan mempermasalahkan tindakan membentangkan kaos bertuliskan “2018 Asyik Menang, 2019 Ganti Presiden”, menurut Fadli Zon tidak memahami demokrasi. Kalau mereka paham, tidak akan mempermasalahkannya dan syah-syah saja apabila ada paslon yang mendukung Jokowi menjabat dua periode melakukan hal yang sama.

Fadli membantah jika apa yang dilakukan pasangan Asyik merupakan bentuk kampanye. Tindakan tersebut tidak dapat disebut kampany karena belum ada capres dan cawapres. “Kampanye dini apa? Calon kan belum ada? Kampanye itu kalau sudah ada calon, ini kan belum ada,” papar Fadli.

Meski Fadli Zon bersihkeras bahwa tindakan pasangan Asyik bukan merupakan bentuk kampanye, namun Anggota Bawaslu, Mochammad Afifuddin mempertanyakan, kenapa sampai ada pasangan yang membawa kaos, karena menurut sepengetahuannya, sebelum dilakukan debat biasana dilakukan kesepakatan terkait hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh paslon.

Meski demikian, Afifuddin mengaku bahwa pihak Bawaslu masih belum memikirkan tindakan yang akan diambil sebelum memperoleh laporan lengkap dari Bawaslu Jawa Barat. “Kami akan melihat detailnya, apakah ada ujaran yang mngarah pada provokasi. Untuk itu akan kita cek lagi antara LO (Liaison Officer), penyelenggara dan paslon,” kata Afifuddin. (AGK)

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *