Press "Enter" to skip to content

Medsos Percepat Proses Radikalisasi

  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares
Diskusi Bertajuk Cegah dan Perangi Aksi Teroris di Gedung Kominfo, Jakarta

Tingginya pengguna Media Sosial (Medsos) di Indonesia menjadi ancaman tersendiri karena dimanfaatkan oleh kelompok teroris dalam menyebarkan paham radikalisme. Hal tersebut terungkap dalam diskusi bertajuk “Cegah dan Perangi Teroris” yang digelar di Kantor Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada 16/5/2018.

Solahudin, Pengamat Terorisme dari Universitas Indonesia (UI) menyebutkan, banyak pola yang digunakan kelompok ekstremis dengan menggunakan media sosial, baik di Indonesia maupun di dunia, salah satu diantaranya sebagaimana yang terjadi pada kerusuhan di Mako Brimob, napi teroris menyiarkan secara live, aksi kerusuhan yang mereka lakukan lewat Instagram serta media resmi ISIS.

Peran medsos yang lain menurut hasil studi akademisi, dimanfaatkan untuk proses rekrutmen dan proses radikalisasi, meski secara faktual statement tersebut belum terbukti sepenuhnya. Selain itu juga untuk menyampaikan pesan-pesan yang terkait dengan paham radikal.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan Solahudin, sepanjang tahun 2017, chanl Telegram yang dibuat kelompok ISIS di Indonesia sebanyak 60 chanel berbahasa Indonesia serta 30 lebih forum diskusi berbahasa Indonesia. Sedang pesan atau berita yang didisbrusikan sebanyak 50 – 150 pesan perchanel dalam sehari.

“Artinya, dalam waktu 1 x 24 jam, ribuan pesan kekerasan disebarkan melalui media sosial. Intensifnya pesan kekerasan dalam membuat orang terpapar, menjadikan proses radikalisasi berlangsung lebih cepat,” terang Solahudin.

Pengamat Teroris ini memberikan contoh, dari 75 terpidana teroris yang diwawancarai, sebanyak 85 persen mengaku melakukan aksi teror setelah mengenal paham radikal kurang dari setahun.

“Kondisi tersebut jauh lebih cepat dibandingkan dengan profiling narapidana teroris yang melakukan teror sepanjang tahun 2002 – 2012, ketika media sosial belum marak seperti sekarang. Saat itu, butuh waktu antara 5 – 10 tahun, bagi seseorang yang terpapar paham radikal sebelum terlibat aksi teror,” ungkap Solahudin.

Apa yang disampaikan Solahudin tersebut senada dengan pendapat Dana M Janbek dan Philip Seib yang mengatakan bahwa penggunaan media sosial merupakan fnomena terorisme global yang lahir pasca Alqaidah. Teroris tidak hanya menggunakan kekuaran jaringan lokal, tapi juga memanfaatkan network media yang terkoneksi secara global. Sehingga kehadiran media sosial yang kala itu merupakan media baru di dunia maya memberikan keuntungan tersendiri bagi teroris.

Penggunaan medsos oleh kelompok teroris ini menurut pakar Sosiolog, Manuel Castells dapat merefleksikan tujuan inti dari terorisme, yaitu teror dan politik media. Aksi teror digunakan untuk menggugah kesadaran sedang pemberitaan di medsos merupakan cara untuk membentuk opini publik.

Menurut Pakar Komunikasi, Gabriel Weimann, salah satu alasan yang membuat kelompok teroris menyukai medsos sebagai media propaganda, disebabkan karena media ini secara demografis banyak dihuni kalangan muda yang notabene merupakan target serta sasaran rekrutmen dan radikalisasi yang paling potensial.

Sementara itu, proses radikalisasi di dunia maya yang semakin masif, sulit untuk diidentifikasi dan dikontrol, sehingga dengan mudah dapat menyusup di sela-sela aktifitas dan waktu senggang kaum remaja.

Dilain pihak, belum ada regulasi yang dapat memayungi secara komprehensif program-program dan kegiatan pencegahan yang terkait penyebaran ajaran, paham serta ajakan radikalisme di dunia maya. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *