Press "Enter" to skip to content

Antara Kapal Van der Wijck dan Benteng Van der Wijck (I)

  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares
Kapal Van der Wijck
Kapal Van der Wijck -illustrasi

Kapal Van der Wijck merupakan kapal penumpang yang dibuat oleh Maatschappij Fijenoord N.V. pabrik galangan kapal di Feyenoord, Rotterdam di tahun 1921.

Tak banyak yang tahu bahwa nama kapal Belanda yang tenggelam di laut Jawa tersebut sering dikaitkan dengan Benteng Van der Wijck yang berlokasi di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.

Nama kapal ini diambil dari nama seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jonkheer Carel Herman Aart van der Wijck sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap semua jasanya. Carel Herman merupakan seorang Belanda yang lahir di Ambon pada 29 Maret 1840 dan meninggal di Baarn, 8 Juli 1914.

Semasa hidupnya, Carel Herman pernah melaksanakan tugas dan operasi “Pengendalian Lombok” di bawah perintah Ratu Emma van Waldeck-Pymont. Dalam operasi tersebut, Belanda tercatat membantu Lombok melakukan penyerangan terhadap istana Cakranegara di Ampenan. Setelah istana tersebut dikuasai, Belanda mengklaim Lombok sebagai salah satu wilayahnya.

Berkat operasi ini, Kakawin Nagarakertagama karya Empu Prapanca dapat diselamatkan dari kebakaran istana Cakranegara dan dibawa ke Belanda. Selain Lombok Pacificatie, Carel Herman pun terlibat dalam operasi pendudukan kerajaan Atjeh.

Kapal Van der Wijck memiliki panjang sekitar 97.5 meter dengan lebar 13.4 meter dan tinggi 8.5 meter. Kapal ini terbagi menjadi tiga kelas, yakni kelas pertama dengan kapasitas 60 penumpang, kelas dua sebanyak 34 penumpang, dan geladak dengan daya tampung 999 penumpang.

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Kapal Van der Wijck tenggelam di kawasan Westgat, selat di antara Pulau Madura dan Surabaya pada 20 Oktober 1936. Kala itu, kapal hendak berlayar menuju Semarang ini dinahkodai oleh B.C. Akkerman, nahkoda senior dengan pengalaman selama 25 tahun.

Kabarnya saat kecelakaan terjadi, Kapal Van der Wijck membawa sekitar 250 penumpang. Di samping penumpang, kapal ini pun membawa muatan kayu besi yang rencananya akan dibongkar di pelabuhan Tanjung Priok dan dibawa ke Afrika.

Tenggelamnya kapal yang baru 15 tahun beroperasi ini sempat membuat heboh. Di mana delapan pesawat udara Dornier dikirim untuk menyelamatkan penumpang. Kapal biasa dan perahu nelayan pun turut membantu mengevakuasi korban.

Tercatat 153 penumpang selamat, 58 penumpang tewas, dan 42 lainnya hilang. Namun, sebenarnya tidak ada angka pasti karena pencatatan tidak sesuai. Hingga puluhan tahun berlalu, kasus tenggelamnya kapal Van der Wijck masih diselubungi misteri.

Tugu Peringatan Tragedi Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Tragedi tenggelamnya kapal Van der Wijck menyisakan duka yang mendalam. Untuk menghormati korban yang tewas, pemerintah Belanda mendirikan sebuah tugu peringatan di Lamongan.

Tugu setinggi 15 meter tersebut memiliki dua buah prasasti yang di dalamnya tertulis ungkapan terima kasih pada semua pihak yang turut membantu menyelamatkan penumpang saat kejadian.

Kaitan Kapal Van der Wijck dengan Novel Buya Hamka

Kebanyakan orang mengaitkan kisah tentang cinta antara Zainudin dan Hayati dengan tenggelamnya kapal Van der Wijck. Padahal sebenarnya, novel yang ditulis oleh Buya Hamka ini jauh berbeda dengan tragedi kapal Van der Wijck sesungguhnya.

Novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” mengusung konsep cerita melayu klasik. Tokoh utama dari cerita roman ini adalah Zainudin dan Hayati. Karena perbedaan kasta, kedua insan yang saling mencintai ini terpaksa berpisah.

Kapal Van der Wijck
Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Buya Hamka

Hayati harus rela menikah dengan orang lain. Sementara Zainudin yang gagal meminang wanita pujaan hatinya hampir gila karena patah hati. Ia pun memutuskan untuk merantau ke Jakarta.

Di tempat rantau, Zainudin menuangkan kisah cintanya yang kandal ke dalam sebuah novel. Tak disangka, novel tersebut menjadi best seller di masanya. Lingkaran hidup pun berputar, ketika kondisi keuangan suami Hayati semakin memburuk dan bangkrut, ia memilih mengakhiri hidupnya.

Hayati  yang berstatus janda dan masih menyimpan cinta pada Zainudin ingin kembali merajut kasih. Namun, rasa sakit hati Zainudin masih mengakar kuat ke dalam jiwa. Hayati pun kembali ke kampung halaman dengan menaiki kapal Van der Wijck.

Nasib rupanya tak mengizinkan mereka bersama. Ketika Zainudin berubah pikiran dan menjemput Hayati, kapal Van der Wijck mengalami kecelakaan. Tenggelamnya kapal Van der Wijck menjadi saksi bisu kandasnya kisah cinta Zainudin dan Hayati.

Meski tidak serupa, tetapi tenggelamnya kapal Van der Wijck telah menginspirasi Buya Hamka untuk menuliskan cerita dengan konsep berbeda. Namun, sama-sama berakhir dengan tragedi yang memilukan.  (bersambung/efs)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *