Press "Enter" to skip to content

Lawan Kapitalisme dan Terorisme dengan Semangat Hari Kebangkitan Nasional (1)

  • 12
  •  
  •  
  •  
  •  
    12
    Shares
Lawan Kapitalisme dan Terorisme dengan Semangat Hari Kebangkitan Nasional

“Pembangunan Sumber Daya Manusia Memperkuat Pondasi Kebangkitan Nasional Indonesia di Era Digital”, tema itulah yang diusung pemerintah dalam peringatan 110 Tahun Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2018.

Sebuah tema yang mengajak generasi sekarang untuk sadar bahwa saat ini mereka tengah hidup di era digital yang memiliki tantangan berbeda, terlebih jika dibandingkan dengan masa lahirnya organisasi modern pertama di Indonesia yaitu “Budi Utomo” yang merupakan cikal bakal pergerakan nasional untuk mewujudkan cita-cita kebangsaan yakni terlepas dari belenggu penjajahan.

Meski tantangan yang harus dihadapi berbeda, namun musuh yang harus dilawan bisa dibilang hampir sama antara saat sekarang dengan 110 tahun yang lalu, yaitu teror senjata dan keserakahan kaum kapitalis.

Teror senjata pada saat sekarang sebagaimana yang marak diberitakan dalam beberapa minggu terakhir adalah tindakan radikal dari kelompok teroris yang menghancurkan tempat-tempat beribadah serta menyerang kantor kepolisian dan bukan tidak mungkin akan disusul dengan tindakan-tindakan radikal yang lain.

Sedang keserakahan kaum kapitalis bisa dirasakan dari lemahnya Undang-Undang yang mengatur ketenagakerjaan, sehingga Tenaga Kerja Asing membanjiri negeri ini, mengambil alih peran dan pekerjaan yang semestinya bisa dikerjakan oleh tenaga kerja lokal. Tidak hanya itu, sejumlah aturan yang merugikan kaum buruh tetap saja diberlakukan karena pemerintah tidak memiliki kekuatan untuk melawan kaum pemilik modal.

Apa yang terjadi saat sekarang sebenarnya merupakan refleksi dari kondisi yang terjadi pada 110 tahun yang lalu. Saat itu bangsa Indonesia diteror oleh senjata dari pasukan kompeni yang ingin menanamkan kekuasaannya di Indonesia dan memonopoli perdagangan. Sehingga dari perlawanan yang dilakukan di berbagai daerah menimbulkan banyak korban nyawa.

Sedang keserakahan kaum kapitalis pada masa itu tercermin dari kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang menerapkan Cultuur Stelsel alias program tanam paksa untuk mengatasi kekosongan kas Belanda.

Baca juga: Lawan Kapitalisme dan Terorisme dengan Semangat Hari Kebangkitan Nasional (2)

Dampak dari Cultuur Stelsel tersebut, perekonomian negeri Belanda yang semula hancur, terutama karena tersedot untuk membiayai Perang Diponegoro (1825 – 1830), berangsur pulih kembali. Namun disisi lain, rakyat Indonesia kehidupannya semakin menderita.

Beruntung Van Deventer mengingatkan pemerintah Belanda bahwa pulihnya perekonomian Belanda disebabkan karena jasa orang Indonesia, sehingga kebaikan budi tersebut harus dibalas dengan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia yang dikenal dengan politik balas budi atau politik etis.

Untuk merealisasikan program Politik Etis tersebut, pemerintah kolonial Belanda mengawalinya dalam bidang edukasi. Melalui bidang pendidikan itulah selanjutnya muncul kaum intelektual pribumi yang membentuk pergerakan modern yang kemudian dikenal dengan sebutan Pergerakan Nasional dan menjadi pembaharu dalam mewujudkan cita-cita kebangsaan.

Sayangnya, usaha untuk memajukan generasi muda Indonesia melalui bidang pendidikan dan pengajaran terkendala oleh keterbatasan anggaran. Hal tersebut membuat dr. Wahidin Sudirohusodo merasa prihatin sehingga sepanjang tahun 1906 melakukan propaganda berkeliling Pulau Jawa guna menghimpun dana untuk menggerakkan bidang pendidikan.

Tidak hanya itu saja yang dilakukan oleh dr. Wahidin Sudirohusodo untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Dia juga membangkitkan kesadaran kaum priyayi untuk menyadari status priyayi yang mereka sandang agar lebih perduli terhadap nasib kaum pribumi melalui majalah berbahasa Jawa dan Melayu yang dia terbitkan dengan nama Retnodhoemilah.

Lulusan Sekolah Dokter Jawa di Weltvrreden ini juga getol memperbaiki pola berpikir penduduk pibumi lewat pendidikan ala Barat serta mendirikan Yayasan Beasiswa atau Studie Fonds bagi golongan priyayi agar dapat mengenyam pendidikan modern.

Berbagai upaya yang dilakukan dr. Wahidin Sudirohusodo itulah yang menginspirasi kaum muda utamanya kaum intelektual pribumi untuk bangkit dan bersatu melalui pola strategi perjuangan yang baru dalam memperjuangkan cita-cita kebangsaan. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *