Press "Enter" to skip to content

Lawan Kapitalisme dan Terorisme dengan Semangat Hari Kebangkitan Nasional (2)

  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares
Lawan Kapitalisme dan Terorisme dengan Semangat Hari Kebangkitan Nasional

Sepak terjang dr. Wahidin Sudirohusodo dalam memajukan pendidikan kaum muda pribumi, rupanya menarik perhatian dan menginspirasi salah seorang mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Arsten) yang bernama Sutomo. Sehingga pemuda inipun menggalang mahasiswa STOVIA untuk bersama-sama mendirikan organisasi modern pertama di Indonesia.

Corak dari organisasi tersebut adalah kesadaran lokal yang diwadahi struktur organisasi modern sehingga memiliki ideologi dan struktur kepengurusan yang jelas. Organisasi tersebut selanjutnya diberi nama Budi Utomo yang jika diterjemahkan secara bebas memiliki arti budi pekerti yang mulia.

Organisasi ini dibentuk di ruang anatomi gedung STOVIA tepat pada 20 Mei 1908. Tanggal serta bulan dibentuknya Budi Utomo, oleh bangsa Indonesia selanjutnya diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Diantara berbagai program yang diusung Budi Utomo, program utamanya adalah perbaikan pendidikan dan pengajaran. Program tersebut baru bersifat sosial, karena selain pemerintah Hindia Belanda kala itu tengah melaksanakan program edukasi yang mnjadi bagian dari Politik Etis juga karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk mendirikan organisasi politik.

Sedang ruang lingkup gerakan Budi Utomo, awalnya hanya menjangkau Jawa dan Madura yang tercermin dari salah satu programnya yang berbunyi “de harmonische ontwikkeling van land en volk van Jawa en Madura”(kemajuan yang harmonis bagi Jawa dan Madura). Dengan melihat salah satu program tersebut dapat diketahui bahwa awalnya Budi Utomo merupakan organisasi yang bersifat kedaerahan.

Kongres pertama Budi Utomo diselenggarakan di Yogyakarta pada 5 Oktober 1908. Melalui kongres tersebut ditetapkan tujuan dari organisasi, yaitu: Kemajuan yang harmonis antara bangsa dan negara, terutama dalam memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, tekhnik, industri serta kebudayaan.

Dalam kongres pertama tersebut Bupati Karanganyar, R.T. Tirtokusumo, terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar dengan anggota pengurus didominasi pegawai atau mantan pegawai pemerintahan. Sedang pusat organisasi bertempat di Yogyakarta.

Pada saat pelaksanaan kongres pertama, terjadi sebuah persaingan tatkala kelompok minoritas yang dipimpin dr. Cipto Mangunkusumo berusaha membawa Budi Utomo menjadi partai politik serta mengikutsertakan rakyat jelata dalam berbagai kegiatan sehingga tidak sebatas golongan priyayi, serta mmperluas wilayah kegiatan hingga mencakup seluruh Indonesia.

Namun, usulan dari dr. Cipto Mangunkusumo tersebut tidak memproleh dukungan. Karena merasa kecewa, diapun mengundurkan diri dari Budi Utomo dan bergabung dengan Indische Partij.

Asas perjuangan kembali ditambahkan oleh Budi Utomo pada tahun 1928, yaitu “Ikut berusaha melaksanakan cita-cita Bangsa Indonesia”. Melalui penambahan asas tersebut, gerakan Budi Utomo tidak lagi menciptakan kehidupan yang harmonis bagi Jawa dan Madura tapi sudah melingkupi seluruh wilayah Indonesia.

Sebelum menambahkan asas tersebut, 13 tahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 1915, Budi Utomo merubah haluan organisasi dari semula lebih bersifat organisasi sosial menjadi organisasi politik yang ditandai dengan ikut aktif dalam “Inlandsche Militie” serta tergabung dalam “Radicale Concentratic” atau aliran yang dicap kiri dalam Volksraad.

Hal inilah yang menjadikan pemerintah mengurangi anggaran pendidikan secara drastis bagi Budi Utomo yang membuat terjadinya perpecahan di tubuh organisasi tersebut antara golongan moderat dengan golongan radikal.

Buntut dari perpecahan itu, dr. Sutomo yang tidak puas keluar dari Budi Utomo pada tahun 1924 dan mendirikan Indonesische Studieclub di Surabaya yang dalam perkembangannya berubah menjadi Persatuan Bangsa Indonesia.

Saat Ir. Soekarno mempelopori berdirinya PPPKI (Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) pada tahun 1927, diantara beberapa organisasi yang masuk di dalamnya, salah satu diantaranya adalah Budi Utomo.

Organisasi modern pertama di Indonesia ini selanjutnya melakukan fusi dengan PBI (Persatuan Bangsa Indonesia) yang dipimpin dr. Sutomo pada tahun 1935. Hasil dari fusi tersebut melahirkan Partai Indonesia Raya (Parindra). Dengan berdirinya Parindra maka berakhir pula riwayat Budi Utomo.

Baca juga: Lawan Kapitalisme dan Terorisme dengan Semangat Hari Kebangkitan Nasional (1)

Sejarah panjang dari organisasi pergerakan pertama di Indonesia ini menjadi cermin dari semangat anak bangsa dalam melawan penjajahan, kesewenang-wenangan, ketidakadilan serta teror bersenjata.

Karena itu, tepat kiranya jika menjadikan Semangat Hari Kebangkitan Nasional sebagai inspirasi dan pemacu semangat untuk melawan kapitalisme serta terorisme yang masih kita rasakan hingga saat ini. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *