Press "Enter" to skip to content

Muslim Palestina Tolak Bantuan Menu Berbuka dari Uni Emirat Arab

  •  
  •  
  •  
  •  
Hidangan Berbuka di Palestina – illustrasi

Muslim Palestina menolak sumbangan menu berbuka puasa Ramadan yang diberikan oleh Uni Emirat Arab (UAE) di masjid Al-Aqsa. Para aktivis Yerusalem menggencarkan tagar #KamiTidakLapar di Twitter sebagai bagian dari kampanye itu.

Mereka melakukan hal tersebut karena negara-negara bagian teluk mendukung keberadaan Israel sebagai negara di tanah Palestina. Pasalnya UEA mengirimkan tim balap sepeda pada tur internasional Goro d’Italia yang melintasi Yerusalem. Tur tersebut berlangsung tepat pada perayaan ke-70 tahun berdirinya negara Israel atau juga sebagai hari Nakbah (Bencana) bagi penduduk Palestina.

Atas hal tersebut, Komite Olimpiade Palestina mengutuk keras. Mereka menganggap bahwasaannya keterlibatan itu adalah sebuah bentuk pengkhianatan pada perjuangan rakyat Palestina dalam mempertahankan wilayahnya. Sebagai bentuk perlawanan, mereka menolak menu berbuka puasa Ramadan yang disediakan Uni Emirat Arab.

Berdasarkan radio Israel yang dikutip dari middleeastmonitor.com (19/05/2018), hubungan diplomatik antara Uni Emirat Arab dan Israel telah membaik.

Hal ini ditandai dengan undangan resmi yang ditujukan pada Menteri Komunikasi Israel, Ayub Kara, untuk berkunjung ke Uni Emirat Arab. Selain itu, Ayub Kara juga menyampaikan harapannya supaya pejabat Uni Emirat Arab bersedia untuk segera membalas kunjungan ke Israel.

Dilaporkan pula oleh kantor berita Associated Press dan Washington Post bahwa Yusuf Al-Otaibi dan Abdullah Bin Rashed Al-Khalifa selaku duta besar UEA dan Bahrain, telah melakukan pertemuan dengan Perdana Mentri Israel Benjamin Netanyahu di sebuah restoran di Washington.

Sebagaimana UEA, Bahrain juga ikut mengirimkan tim balap sepeda pada tur internasional Giro d’Italia. Abdullah Bin Rashed Al-Khalifa bahkan bertutur bahwa pengakuan Amerika melalui Donald Trump pada Yerusalem sebagai ibu kota Israel di Desember tahun lalu hanyalah isu “samping”.

“Tidak berguna untuk terlibat isu-isu sampingan dalam pertempuran dengan Amerika Serikat,” ujarnya pada akun Twitter, menandakan bahwa Abdullah tidak peduli dengan masalah warga Palestina yang selama ini memperjuangkan haknya.

Warga Palestina menganggap pernyataan duta besar Bahrain tersebut sebagai model Yudaisasi budaya yang telah menulari orang-orang sesat dan zionis.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.