Press "Enter" to skip to content

Satu dari 200 Muballig Rekomendasi Kemenag Ternyata Sudah Wafat Tahun 2017 Lalu!

  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
    2
    Shares
Lukman Hakim Saifuddin
Lukman Hakim Saifuddin

Salah satu dari 200 mubalig rekomendasi Kemenag ternyata telah meninggal. Mubalig tersebut adalah Dr. Fathurin Zen. Isu tersebut diangkat oleh ZA Effendy yang mempertanyakan bagaimana sebenarnya sistem rekomendasi tersebut dibuat.

“Rilis 200 mubaligh yang direkomendasikan @Kemenag_RI, menurut @lukmansaifuddin “Dibuat secara alamiah sesuai daftar usulan yang masuk dari pengurus ormas keagamaan, masjid besar, dan lainnya.” > Lihat urut 68 < Benarkah ?! #2019GantiPresiden !!” tulisnya yang memancing ratusan komentar dan retweet.

Fathurin Zen yang juga sempat mengajar di SMAN 55 dan SMAN 37 Jakarta meninggal pada 29 September 2017.

Fakta bahwa seorang mubalig yang telah wafat bisa berada di antara daftar mubalig-mubalig lain yang direkomendasikan Kemenag mampu menguatkan tanda tanya rakyat Indonesia.

Sebetulnya seperti apa mekanisme yang ditempuh oleh Kemenag sehingga dapat merilis nama-nama tersebut?

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengklaim telah menerima banyak pertanyaan dari masyarakat mengenai nama mubalig yang dapat mengisi kegiatan, terutama pada saat Ramadan.

“Belakangan, permintaan itu semakin meningkat sehingga kami merasa perlu untuk merilis daftar nama mubaligh,” ujar Menag Lukman pada siaran pers Jumat (18/05/2018).

Menag mengatakan pemilihan nama-nama tersebut berdasarkan kompetensi ilmu agama yang dimiliki, reputasi serta pengalaman yang baik, dan berkomitmen kebangsaan yang tinggi.

Meskipun Menag mengatakan bahwa itu bukan berarti masyarakat tidak boleh mengikuti mubalig lain, namun standardisasi mengenai terpilihnya 200 mubalig tersebut patut dipertanyakan.

Pasalnya beberapa nama menunjukkan bahwa Kemenag terkesan terburu-buru dan tanpa melalui verifikasi yang jelas. Seperti adanya nama Abdul Moqsith Ghozali yang merupakan koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL). Sontak hal tersebut membuat isu 200 mubalig ini semakin gaduh.

Selain itu, nama yang tertera dalam daftar tidak melalui izin mubalig yang bersangkutan. Kemenag mengatakan bahwa nama-nama tersebut merupakan usulan dari lembaga.

Karenanya, beberapa mubalig merasa gundah bahkan menginginkan namanya dicabut. Aa Gym yang berpendapat bahwa daftar ini seharusnya dievaluasi dengan saksama, dimusyawarahkan dengan MUI, dan melibatkan ara pimpinan ormas Islam.

Adapun Fahmi Salim secara tegas meminta namanya dicabut melalui pernyataannya di akun Instagram @fahmisalimz.

“Intinya dengan berat hati saya tegaskan, saya meminta Sdr Menteri Agama RI untuk mencabut nama saya dari daftar tersebut karena berpotensial menimbulkan syak wasangka, distrust di antara para muballigh dan dai, dan saya tak ingin menjadi bagian dari kegaduhan tersebut yang kontraproduktif bagi dakwah Islam di tanah air,” ujarnya  pada Sabtu (18/05/2018).

Sudah jelas bahwa daftar 200 mubalig rekomendasi ini telah memancing kegaduhan dan memicu perpecahan antarumat. Meskipun masih banyak pula yang pro dan berpasangka baik terhadap Kemenag, namun sebagian lainnya mengkritik langkah Kemenag yang dianggapnya sembrono tanpa sistem seleksi yang jelas.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *