Press "Enter" to skip to content

Orang Tua dan Murid Muslim Uyghur Dipaksa Tandatangani Perjanjian Tak Puasa Ramadan

  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares
Kisah Muslim Uyghur
Muslim Uyghur Dipaksa Berjanji Tidak Berpuasa

Pemerintah Cina melarang murid dan orang tuanya berpuasa di bulan Ramadan. Tak tanggung lagi, mereka dipaksa menandatangani perjanjian. Hal ini dilakukan guna menghilangkan tradisi agama dari kelompok etnis yang sebagian besar adalah muslim.

Seorang siswa di Kashgar baru-baru ini memberi tahu Radio Free Asia bahwa pihak sekolah memaksa ia dan teman-temannya untuk menandatangani perjanjian bersama oang tua mereka untuk tidak berpuasa Ramadan.

Laporan tersebut menandakan bahwa pihak berwenang telah melakukan penyerangan baru untuk menghilangkan apa yang mereka sebut sebagai tanda-tanda “ekstremisme” agama.

“Karena kami pelajar, kami tidak berpuasa,” ujar siswa tersebut seperti dikutip Radio Free Asia (21/05/2018).

Siswa itu berkata orang tuanya tidak berpuasa selama Ramadan karena pihak berwenang tidak mengizinkan mereka melatih hal-hal seperti itu di depan anak-anak mereka.

Semua kader dan anggota partai politik daerah Peyziwat dipanggil ke kantor daerah saat menjelang Ramadan, diberi perintah supaya ‘lebih waspada’ dan ‘memberi perhatian khusus’ kepada siapa saja yang mengkritik kebijakan pemerintah mengenai tradisi agama ini.

Masyarakat muslim Uyghur ‘dididik’ oleh para pejabat mengenai kesalahan puasa. Mereka diyakinkan bahwa puasa menyebabkan dampak-dampak negatif.

Ramadan ini organisasi Kongres Uyghur Dunia yang baada di Munich mendesak pemerintah Cina untuk memberlakukan kebebasan beragama bagi warga Uyghur, dan tidak membatasi kegiatan mereka di bulan suci.

Baca juga: China Melarang Muslim Uyghur Berpuasa!

“Setiap tahun, bulan Ramadan jadi sebuah ketakutan dan kecemasan karena pembatasan yang semakin ketat telah menyebabkan rasa terganggu yang tak teruangkapkan dalam kehidupan sehari-hari warga Uyghur,” ujar presiden Kongres  Uyghur Dunia.

Cina telah melakukan pembatasan yang ketat secara kontinu di Xinjiang, termasuk penggerebegan polisi ke rumah-rumah muslim Uyghur, pembatasan praktik Islam, budaya, dan bahasa orang-orang Uyghur, termasuk video dan materi lainnya.

Sementara itu Cina menyalahkan muslim Uyghur sebagai ‘teoris’ dan menyimpan pandangan ekstremisme yang berbahaya. Pengamat dari luar Cina berkata bahwa Beijing telah membesar-besarkan ancaman dai Uyghur, dan bahwa kebijakan lokal yang diterapkannya bertanggung jawab atas meningkatnya kekerasan di sana beserta tewasnya ratusan orang sejak 2009.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *