Press "Enter" to skip to content

Muslim Uyghur Disebut Gulma di Tanah Air Sendiri

  • 12
  •  
  •  
  •  
  •  
    12
    Shares
Polisi China Patroli di Pasar Malam dekat Mesjid Id Kah, Kashgar, Uyghur Xinjiang

Banyak dari warga etnis Uyghur yang saat ini dikurung di pusat-pusat penahanan kamp ‘pendidikan ulang’. Jumlahnya tidak dapat diverifikasi secara pasti. Human Rights Watch mengklaim bahwa korban muslim Uyghur yang pernah ditahan sebanyak 800 ribu, namun kelompok pengasingan Uyghur memperkirakan telah ada 1 juta warga Uyghur yang diseret dan ditahan ke dalam kamp-kamp tersebut.

Di daerah Moyu saja, sekitar 40% orang dewasa telah menghilang tanpa diketahui keluarga di mana mereka berada. Disebutkan bahwa satu dari sepuluh orang Uyghur di Xinjiang telah ditahan. Belum lagi ketika kedua orang tua ditahan, anak mereka dikirim ke panti asuhan yang membludak dan seringnya berlokasi jauh dari rumah mereka.


Cina tengah menyelimuti Xinjiang dengan tindakan kejamnya yang mencoba dirahasiakan. Para pejabat Cina tetap bergeming dan tak mengakui keberadaan kamp pendidikan ulang. Bahkan Kementrian Luar Negeri Cina berseloroh bahwa dirinya “tidak mendengar” adanya kamp semacam itu.

Akan tetapi Radio Free Asia mengutip pernyataan resmi pada Januari lalu: “Anda tidak dapat mencabut semua gulma yang tersembunyi di antara tanaman di kebun satu per satu – Anda perlu menyemprotkan pestisida untuk membunuh mereka semua. Mendidik ulang orang-orang ini bagaikan menyemprotkan pestisida pada tanaman. Itulah mengapa pendidikan ulang bersifat umum, tak memandang bulu.”

Adrian Zenz dari European School of Culture and Theology menulis bahwa ada tiga jenis ‘fasilitas’ resmi pada pendidikan ulang tersebut. Transformasi terpusat melalui pusat pelatihan pendidikan, sekolah sistem hukum, dan pusat koreksi rehabilitasi.

Baca juga: Uyghur akan kehilangan generasi Muslimnya!

Diperkirakan kelompok pertama berisi seperti petani buta huruf yang tak bersalah apa-apa kecuali tidak bisa berbahasa Mandarin, kelompok kedua mungkin yang taat agama atau yang dicurigai memiliki pandangan separatis, lalu kelompok terburuk adalah mereka yang pernah belajar agama di luar negeri atau yang memiliki hubungan dengan orang asing.

Jangka waktu penahanan berbeda-beda. Seharusnya lima belas hari, dua atau tiga bulan, namun praktiknya bisa jauh lebih lama dari itu yaitu sampai bertahun-tahun. Adapun beberapa orang dari kelompok pertama bisa mendapatkan kamp terbuka, yakni waktu belajar ditentukan siang atau sore hari, lalu pulang saat malam hari.

Zenz mengatakan bahwa masyarakat muslim di Xinjiang dibuat secara sistematis tunduk pada ‘pengobatan’ pendidikan ulang untuk menghilangkan ideologi mereka. Karena sebagai ‘pengobatan’, maka tak seperti hukum pidana biasa, pendidikan ulang yang digagas Cina tidak terikat pada prosedur hukum yang berlaku pada umumnya sehingga sulit untuk dikatakan sebagai pelanggaran hukum.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.