Press "Enter" to skip to content

Gulgine Tashmemet , Wanita Uyghur Yang Belajar di Malaysia Dilaporkan Hilang!

  • 10
  •  
  •  
  •  
  •  
    10
    Shares
Gulgine Tashmemet diduga diculik dan dikirim ke Kamp Konsentrasi Khusus Uyghur

Seorang wanita muda bernama Gulgine Tashmemet yang menempuh pendidikan di Malaysia telah dilaporkan hilang setelah mengunjungi rumahnya di daerah Otonomi Xinjiang Uyghur (XUAR), Cina. Saudara perempuannya yang tinggal di Jerman meyakini bahwa Gulgine telah ditahan di kamp ‘pendidikan ulang’.

Menurut penuturan saudaranya yang bernama Gulzire, Gulgine pulang pada 26 Desember 2017 setelah menyelesaikan gelar masternya di Universitas Teknologi Johor Malaysia.

“Ketika dia berada di Malaysia, dia kehilangan kontak sepenuhnya dengan keluarga… jadi dia memutuskan untuk pulang melihat orang tua dan saudara laki-laki kami karena dia sangat khawatir,” ujar Gulzire seperti diwartakan Radio Free Asia (29/05/2018).


“Saya berulang kali menyuruh dia untuk tidak pulang, tapi dia tidak mendengarkan. Dia berkata, ‘Saya harus pulang dan mencari tahu apa yang terjadi pada orang tua kita sebelum saya melanjutkan studi.'” Gulgine telah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan doktornya di Malaysia.

Gulzire berkata bahwa Gulgine harus menghapusnya dari kontak WeChat supaya tidak menarik perhatian otoritas lokal karena bertukar pesan. Satu-satunya cara adalah Gulgine harus mengubah foto profilnya menjadi foto ibu mereka supaya Gulzire tahu bahwa saudaranya telah tiba di rumah.

Dia juga meminta Gulgine untuk mengganti profil seminggu sekali agar dia tahu saudaranya masih bebas. Namun foto profil itu tak berubah lagi.

“Ketika saya menghubungi seorang teman untuk menanyakan kabar keluarga saya, dia memberi tahu saya kalau saudara saya telah ditangkap untuk ditahan di kamp.”

Sebelumnya Gulgine pulang ke rumahnya dari Malaysia pada Maret 2017 saat liburan musim semi. Saat pulang ia diselidiki oleh pihak berwenang setempat.

“Dia mengatakan pada saat itu suasana politik sangat tegang, dan bahwa dia hanya diizinkan untuk meninggalkan Cina apabila telah menandatangani janji untuk kembali,” ungkap Gulzire.

Dia menyebutkan bahwa Malaysia adalah satu negara yang dinyatakan oleh pemerintah Cina terlarang bagi warga Uyghur karena risiko ideologi Muslim “ektremis”.

Gulgine pernah berpesan padanya untuk tidak terlibat jika terjadi apa-apa, dia meyakinannya bahwa  jikapun ditahan dia akan bebas bersama keluarganya tidak dalam waktu lama.

“Saya berharap mendapatkan kabar sekarang, tetapi sudah lebih dari enam bulan dan tidak menemukan jawaban, jadi saya memutuskan untuk berbicara dengan media dan organisasi HAM, karena tidak ada gunanya lagi untuk diam,” tegasnya.

Pemerintah Cina belum mengakui secara terbuka mengenai keberadaan kamp-kamp yang menahan banyak warga muslim minoritas. Organisasi Human Rights Watch menyebutkan pada Januari bahwa ada sekitar 800.000 orang yang telah menghabiskan waktunya sebagai tahanan di kamp konsentrasi.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *