Press "Enter" to skip to content

Kisah Relawan Bernama “Razan Al Najjar”

  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares
Razan al-Najjar, “Siapa yang membantu jika wanita yang terluka?”

Razan al-Najjar. Seorang perempuan Palestina berumur 20 tahun. Hanya 20. Dia adalah salah seorang relawan medis Palestina. Dia membantu para demonstran yang terluka selama demonstrasi damai ‘Great March of Return,’ yang dimulai oleh warga Gaza 10 minggu lalu.

Namun tentara Israel menanggapi aksi damai tersebut dengan senjata mematikan. Sekitar 118 demonstran Palestina menjadi martir dan ratusan lainnya terluka selama sepuluh minggu protes. Razan al-Najjar, seorang perawat berusia 20 tahun yang cantik, lincah dan cerdas, secara sukarela membantu para demonstran yang terluka sepanjang aksi demo.

Sekitar sebulan lalu, dalam sebuah wawancara, dia berkata, “Saya melakukan pekerjaan ini secara sukarela. Saya melakukan ini untuk Allah, untuk kemanusiaan. Saya akan membantu orang sampai saya mati, dan saya bangga dengan ini. ”

Pada hari Jumat, 1 Juni, Razan sedang bertugas selama demonstrasi di Khan Yunis. Dia mengenakan jas putihnya. Sangat jelas bahwa dia seorang tenaga medis, bahwa dia adalah seorang pekerja perawatan kesehatan. Dia berlari menuju seorang demonstran yang terluka.

Satu jam sebelum berbuka puasa  dan satu bulan sebelum pertunangannya, dia tiba-tiba terjatuh di punggungnya. Mungkin dia bahkan tidak menyadari bahwa peluru telah menembus dadanya. Mantel salju putihnya ditutupi kain merah.

Hati ibunya hancur lebur. Sang Ayah pun larut dalam sedih. Tunangannya tidak bisa berkata sepatahpun. Mereka, bersama ribuan rakyat Palestina mengubur sang martir dengan upacara di Gaza. Demikianlah, Razan menjadi martir ke-119 “Great March of Return”.

Para saksi mengatakan bahwa peluru ditembak dari jarak 100 meter. Tidak mungkin bahwa bajingan yang menarik pelatuk tidak memperhatikan bahwa Razan adalah seorang dokter dan mengenakan jas putih. Razan dibunuh dengan sengaja dan sewenang-wenang oleh seorang penembak jitu kejam dari tentara Israel yang keji.

Bukan lagi sesuatu yang mengherankan, ketika tidak ada yang peduli terhadap pembunuhan sewenang-wenang seorang petugas medis oleh tentara Israel. Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak melakukan apa-apa selain mempublikasikan deklarasi yang sangat kecil. Organisasi non-pemerintah tampaknya tidak memperhatikan apa yang telah terjadi. Organisasi media internasional Barat seperti The New York Times mempublikasikan kisah itu hampir secara mengejek dengan judul-judul seperti “Wanita Palestina Terbunuh Dalam Protes Gaza.”

Israel, seperti biasa tidak merasakan tekanan apapun dalam insiden ini. Mereka hanya menyatakan, “Kami akan mempelajarinya”, dan menutupi inti permasahalan sebenarnya.

Nurse Razan lahir di Gaza, penjara terbuka yang luas. Dia tumbuh dalam kesulitan, kemiskinan, dan pemboman. Terlepas dari semua keadaan yang sulit, ia mendapat pendidikan dan menjadi perawat. Rupanya keikutsertaannya dalam protes tidak disetujui oleh beberapa orang. Juga, orang-orang sering pergi ke ayahnya untuk mengeluh. Namun dia mengabaikan semua komentar negatif ini. Dia mengungkapkan betapa bangganya ayahnya terhadap dirinya.

“Siapa yang akan membantu jika wanita pemrotes terluka?”

“Wanita lebih kuat daripada pria,” katanya.

Dia telah berpartisipasi dalam protes, bekerja secara sukarela untuk negaranya sejak hari pertama. Nurse Razan adalah salah satu wanita pemberani Palestina yang telah membawa perjuangan Palestina di pundak mereka sejak awal.

Semua yang tersisa dari Nurse Razan adalah beberapa foto dan video. Nurse Razan mendapatkan tempat yang tak terlupakan di Palestina dengan jilbab merah, jas putih, mata cerah dan sikap berani.

Nurse Razan juga meninggalkan kehidupan yang belum selesai dan cincin pertunangan yang tidak akan pernah dia kenakan.

Razan al-Najjar baru berusia 20 tahun. Tentara Israel telah menembaknya secara sadar dan sewenang-wenang. Mereka telah menembak 118 orang sebelumnya, dan tidak ada sanksi apapun yang diperoleh, jadi mereka kan menembak terus yang lainnya. Mereka membunuh seorang perawat berusia 20 tahun yang miskin pada hari Jumat di bulan Ramadhan, 10 menit sebelum berbuka puasa dan satu bulan sebelum pertunangannya.

Semoga Nurse Razan beristirahat dengan damai. Belasungkawa kami yang terdalam adalah untuk keluarganya, untuk Palestina, dan semua orang yang telah mendukung perjuangan Palestina. Kami tidak akan pernah melupakan Nurse Razan dengan wajah tersenyumnya, penuh harapan dan kehidupan, dan semangatnya yang teguh. Semoga Allah memberkati dia …

Tulisan ini merupakan tulisan dari Ayin Ünal yang disadur dari yenisafak.com

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *