Press "Enter" to skip to content

Sembilan Imigran yang Sebagian Besar Anak-Anak Tenggelam di Laut Tengah

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Kapal Cepat Pembawa Pengungsi Tenggelam di Kawasan Pantai Turki

Sembilan imigran termasuk enam anak-anak yang berusaha menyeberang ke Eropa menggunakan speedboat ditemukan tenggelam pada hari Minggu di pantai Laut Tengah, Turki, seperti yang dilaporkan media pemerintah.

Perahu motor tersebut mengalami masalah di distrik Demre provinsi Mediterania yang merupakan tempat wisata popular. Menurut kantor berita Anadolu, korban yang berhasil diselamatkan ada lima orang sedangkan satu orang lagi masih dalam pencarian.

Dua orang dewasa yang tak teridentifikasi, satu orang wanita dan enam orang anak kehilangan nyawanya.

Diwartakan kantor berita Dogan bahwa mereka sedang berusaha melarikan diri ke Eropa secara ilegal, akan tetapi rute yang dipersiapkan tidak jelas. Wilayah Uni Eropa paling dekat adalah pulau kecil di Yunani.

Status kewarganegaraan mereka masih belum diketahui dengan jelas.

Selama ini telah banyak orang yang melarikan diri dari perang Suriah untuk mendapatkan tempat hidup yang lebih baik. Angkanya mencapai lebih dari satu juta orang. Mereka menyeberang ke negara-negara Eropa dari Turki sejak tahun 2015 saat terjadinya krisis migrasi terburuk setelah Perang Dunia II.

Turki dan Uni Eropa mencapai kesepakatan untuk membendung aliran imigran ke Eropa dan setuju untuk mengambil kembali imigran ilegal dengan imbalan insentif termasuk bantuan finansial.

Kesepakatan yang memancing protes dari kelompok-kelompok pejuang hak asasi manusia itu berhasil mengurangi jumlah imigran yang berusaha menyeberangi Laut Aegea dan Laut Tengah dari Turki ke Yunani.

Namun demikian, pengamat mengatakan bahwa dalam bulan-bulan terakhir angka orang yang berusaha menyeberang melalui rute ini meningkat lagi.

Menurut International Organization of Migration (IOM), hingga per tanggal 30 Mei telah ada 10.948 orang yang menyeberang ke Yunani. Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang di periode sama di tahun 2017. Sejauh tahun 2018 IOM menyebutkan bahwa telah ada lima puluh orang yang melalui rute ini kehilangan nyawanya.

Selain digunakan oleh imigran dari negara-negara seperti Suriah, Eritrea, Irak, dan Afghanistan, rute ini juga dimanfaatkan oleh warga Turki yang melarikan diri dari kekerasan pada saat percobaan kudeta di tahun 2016 yang menimbulkan banyak kekacauan.

Sumber: english.alarabiya.net

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *