Press "Enter" to skip to content

Anak-Anak Palestina, Diantara Serangan Rudal Dan Keterbelakangan Mental

  • 22
  •  
  •  
  •  
  •  
    22
    Shares
Anak-anak Palestina
Anak-anak Palestina hidup diantara kepungan dan desingan rudal

Satu generasi anak-anak Palestina di daerah sepanjang Jalur Gaza yang terkepung pendudukan Israel saat ini berada di ambang krisis kesehatan mental, demikian laporan kelompok pelindung hak anak, Save The Children.

“Satu generasi anak-anak di Gaza menghadapi dilema hidup. Satu sisi mereka harus hidup dihadapan ancaman kematian, sementara sisi lain mereka berhadapan dengan ancaman kerusakan kesehatan mental sepanjang umur hidup mereka,” tutur Marcia Brophy, penasihat kesehatan senior di Save the Children, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Minggu, awal Juni lalu.

Save the Children, yang mensurvei 150 remaja berusia rata-rata 14 tahun, dan 150 pengasuh yang tinggal di daerah kantong pantai, menemukan bahwa 95 persen anak-anak yang diwawancarai menunjukkan gejala seperti perasaan depresi, hiperaktif, preferensi untuk sendirian, dan agresif.

Anak-anak disana tumbuh dalam perang dan kerusakan. Setidak-tidaknya mereka menyaksikan tiga serangan Israel pada perioda 2008 hingga 2009, 2012, dan 2014 – yang menghancurkan daerah tersebut.

Lebih jauh, blokade 11 tahun Mesir-Israel telah sangat membatasi kualitas hidup di Gaza, di mana pengangguran kaum muda sekarang mencapai 60 persen dan tingkat kemiskinan meningkat dari 30 hingga 50 persen.

Setidaknya 68 persen anak-anak mengatakan mereka mengalami kesulitan tidur, dan 78 persen menganggap satu sumber ketakutan terbesar bagi mereka adalah suara pesawat tempur.

Namun penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak ini mengungkapkan kekuatan ketahanan, dengan 80 persen mengatakan mereka dapat secara terbuka berbicara tentang masalah mereka kepada keluarga dan teman-teman mereka, dan 90 persen mengatakan mereka merasa didukung oleh orang tua mereka.

Brophy mengatakan bahwa kekuatan sebagian besar anak-anak tersebut adalah keberadaan dan kehadiran keluarga mereka. Gangguan keamanan hingga hilangnya anggota keluarga adalah “salah satu pemicu utama” anak-anak tersebut mengalami depresi dan gangguan kesehatan mental.

Penyebab Utama adalah Blokade Di Jalur Gaza

Jennifer Moorehead, Direktur Save the Children untuk wilayah Palestina yang diduduki, telah melaporkan kepada Al Jazeera bahwa sedikitnya sumber daya pendukung kehidupan yang ada pada daerah Jalur Gaza, adalah tanggung jawab bersama. Dunia memiliki tanggung jawab untuk meringankan penderitaan anak-anak di sana.

“Masyarakat internasional harus melibatkan diri mereka dan menginvestasikan sumber daya dan waktu mereka untuk mengatasi pengurungan, pengepungan, blokade, sebagai akar penyebab dari hal ini,” kata Moorehead, menambahkan.

“Bahwa kenyataan yang terjadi saat ini menyebabkan anak-anak tersebut terbatas perkembangannya, tanpa layanan dan dukungan yang mereka butuhkan”. Hal ini diperburuk dengan ancaman serangan yang datang tanpa kenal waktu.

“Masyarakat internasional perlu meningkatkan bantuannya dan memperkenalkan lebih banyak dukungan kesehatan mental dan psiko-sosial ke sekolah-sekolah, kegiatan ekstrakurikuler dan rumah,” katanya.

Keterbatasan sumber daya hidup, ancaman ketakutan, dan masa depan yang tidak pasti

“Hanya dengan melakukan langkah langsung ini, serta berfokus pada mengakhiri blokade dan mencari solusi yang tahan lama dan adil, anak-anak akan memiliki masa depan yang lebih penuh harapan.”

Pada hari Jumat 1 Juni 2018 lalu, Amerika Serikat memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang diusung Kuwait untuk menyerukan perlindungan warga sipil Palestina.

Setidaknya 120 warga Palestina, termasuk 14 anak-anak, telah tewas dan lebih dari 13.000 orang terluka oleh pasukan Israel selama protes damai selama berminggu-minggu di Jalur Gaza dekat pagar dengan Israel.

Rasa takut ini mencengkeram saya dan banyak anak-anak

Seorang remaja muda yang diwawancarai dalam laporan itu, yang hanya dikenal sebagai Samar berusia 15 tahun, mengatakan bahwa dia selalu khawatir apakah dia akan menjadi sasaran serangan rudal selanjutnya.

“Ketakutan ini mencekam saya dan banyak anak-anak,” kata Samar. “Kadang-kadang di siang hari, aku akan berpikir tentang mimpi buruk yang aku miliki sepanjang waktu.”

“Blokade, serangan udara, dan perang semuanya memengaruhi mimpi, ambisi, dan kepribadian saya. Saya takut apa yang akan terjadi di masa depan.”

Situasi saat ini, kata Moorehead, di mana anak-anak terperangkap dalam lingkaran perampasan, tidak bisa dibiarkan.

“Ini bukan pilihan bahwa anak-anak ini akan terus tumbuh dalam lingkungan seperti ini,” tambahnya. “Mereka hidup dalam lingkungan tidak memiliki cakrawala masa depan yang pasti.”

“Anak-anak berhak mendapatkan hal yang jauh lebih baik dari apa yang mereka dapati sekarang.”

Sumber: Aljazeera

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *