Press "Enter" to skip to content

Bung Tomo, Bara Api Semangat Juang Arek-Arek Suroboyo (1)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Bung Tomo

Peringatan Hari Pahlawan identik dengan semangat juang arek-arek Surabaya saat melawan Sekutu dalam peristiwa Agresi Militer II pada 10 November 1945. Aksi heroik tersebut dipicu oleh banyak faktor, salah satu diantaranya adalah pidato Bung Tomo yang berkobar-kobar dalam membangkitkan rasa Nasionalisme para pejuang.

Tidak heran jika Bung Tomo yang memiliki nama asli Sutomo ini kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasioanl pada 9 November 2007 dan dijadikan sebagai nama stadion terbesar di Surabaya yang sebelumnya bernama Stadion Gelora 10 Nopember.

Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran yang terletak di pusat Kota Surabaya pada 3 Oktober 1920. Ayahnya yang bernama Kartawan Tjiptowidjojo merupakan keturunan dari para pendamping dekat Pangeran Diponegoro. Sedang ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Madura dan Sunda.

Keluarganya yang sangat perduli terhadap pendidikan membuat Sutomo sempat mengenyam pendidikan di MULO meski akhirnya harus berhenti karena dampak depresi perekonomian dunia yang membuat ayahnya harus melepaskan pekerjaannya di perusahaan ekspor – impor Belanda.

Sejak saat itu Sutomo ikut bekerja untuk membantu perekonomian keluarga sebelum akhirnya melanjutkan pendidikannya di HBS lewat korespondensi walau akhirnya tidak pernah lulus.

Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato

Minatnya yang besar terhadap aktifitas kepanduan membuat Sutomo sempat bergabung di KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia) dan dari organisasi itulah kesadaran nasionalismenya terbentuk disamping dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh kakeknya.

Prestasinya di bidang kepanduan membuat Sutomo di usia 17 tahun menjadi orang kedua di wilayah Hindia Belanda yang mendapat peringkat Pandu Garuda.

Pada tahun 1937, Sutomo bekerja sebagai seorang jurnalis di Harian Soeara Oemoem di Surabaya. Karirnya di dunia jurnalistik semakin berkembang dengan menjadi redaktur di Mingguan Pembela Rakyat setahun kemudian. Tidak hanya itu, dia juga menjadi wartawan sekaligus penulis pojok di media berbahasa Jawa “Ekspres”.

Pada saat Indonesia dikuasai Jepang, Sutomo direkrut menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru pada tahun 1944. Selanjutnya saat terjadi Agresi Militer II dan Belanda mencoba untuk menguasai kembali Indonesia dengan membonceng Tentara Sekutu yang melabuhkan kapal perangnya di Tanjung Perak, Sutomo menjadi salah satu pemimpin yang ikut mengobarkan bara api perjuangan arek-arek Surabaya untuk melawan Tentara Sekutu.

Dengan menggunakan senjata seadanya serta beberapa pucuk senjata hasil rampasan dari Tentara Jepang, rakyat Surabaya melakukan pertempuran habis-habisan melawan Tentara Sekutu yang digawangi pasukan Inggris dan Tentara Gurkha.

Pertempuran Surabaya sendiri berawal dari seruan Bung Karno pada 31 Agustus 1945 yang memaklumatkan agar bendera merah putih dikibarkan di seluruh wilayah Indonesia. Seruan tersebut membuat rumah-rumah penduduk, gedung-gedung pemerintahan, perkantoran, hotel dan berbagai tempat lainnya di Surabaya diwarnai oleh bendera merah putih.

Pertempuran Surabaya

Melihat kondisi tersebut, Belanda yang menganggap Surabaya merupakan wilayahnya menjadi berang dan dengan diam-diam mengibarkan bendera merah putih biru di atas Hotel Yamato. Pengibaran bendera Belanda itulah yang memantik konflik berkepanjangan dan mengobarkan api eperangan.

Akibat tindakan yang dilakukan Belanda dengan mengibarkan benderanya, terjadi aksi penyobekan bendera di atas Hotel Yamato. Aksi tersebut menjadi awal dari konflik berkepanjangan hingga kemudian Pemimpin Tentara Inggris, Jenderal Mallaby tewas dalam salah satu insiden.

Tewasnya Jenderal Mallaby membuat pihak Sekutu memasang pamflet dan menyebarkan selebaran yang isinya meminta agar rakyat Surabaya menyerah dan tidak melakukan perlawanan terhadap Sekutu serta menyerahkan seluruh senjata yang mereka rampas dari Jepang.

Namun ancaman tersebut tidak membuat masyarakat Surabaya takut. Meski dengan persenjataan yang sangat terbatas, mereka tidak mau menyerah dan terus melakukan perlawanan. Bergeloranya semangat juang arek-arek Surabaya tersebut salah satunya dipicu oleh pidato Bung Tomo lewat corong radio. Pidato yang berkobar-kobar tersebut membuat bara api perjuangan semakin berkobar dan jiwa nasionalisme masyarakat Surabaya semakin kental.

Pada akhirnya Pertempuran 10 November memang dimenangkan oleh Pasukan Sekutu. Namun peristiwa tersebut tercatat dalam sejarah Kemerdekaan Indonesia dan nama Bung Tomo dikenang sebagai salah satu tokoh yang ikut mengobarkan semangat juang arek-arek Surabaya. (*)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *