Press "Enter" to skip to content

Bung Tomo, Bara Api Semangat Juang Arek-Arek Suroboyo (2)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Bung Tomo Saat Berpidato di Hadapan Masyarakatr Surabaya pada Tahun 1950an

Pasca kemerdekaan, tepatnya sekitar tahun 1950an, perjuangan yang dilakukan Bung Tomo beralih, dari semula berjuang di medan perang menuju ke medan politik. Ada perbedaan yang menyolok antara medan perang dengan medan politik. Jika di medan perang antara lawan dan kawan tampak jelas, berbeda halnya dengan medan politik yang sulit untuk membedakan antara kawan dengan lawan. Hal itulah salah satu penyebab yang membuat Bung Tomo tidak betah berkecimpung terlalu lama di dunia politik.

Pandangannya yang kritis bahkan tidak segan-segan dia ungkapkan secara keras dan terbuka meskipun berseberangan dengan kebijakan pemerintah dan mengancam keselamatan pribadi serta keluarganya. Sama halnya dengan saat berjuang di medan perang melawan penjajah, pada saat memperjuangkan keadilan dan kemakmuran bangsa di bawah pemerintah Indonesiapun tidak ada yang dia takutkan, sepanjang yang dia sampaikan merupakan kebenaran dan memberikan maslahat bagi rakyat Indonesia.

Bung Tomo Saat Dijamu Makan Siang oleh Presiden Soekarno

Pendapatnya yang keras dan berseberangan dengan kebijakan pemerintah itulah yang membuat Bung Tomo pada 11 April 1978 ditangkap dan ditahan oleh rezim Orde Baru. Soeharto yang memimpin Indonesia pada saat itu merasa khawatir kritikan-kritikan pedas yang dilontarkan Bung Tomo dapat mengganggu kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.  Akhirnya orator ulung inipun harus mendekam di dalam penjara selama setahun sebelum akhirnya dibebaskan.

Sekitar 2 tahun setelah bebas dari penjara, Bung Tomo berangkat ke tanah suci untuk menjalankan ibadah haji. Saat menjalankan ibadah haji itulah tepatnya pada 7 Oktober 1981, Bung Tomo wafat di Padang Arafah.

Berbeda dengan kebiasaan yang selama ini berlaku yakni memakamkan jasad mereka yang meninggal saat melaksanakan ibadah haji di Mekkah, jasad Bung Tomo dibawa pulang ke tanah air. Beliau tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, namun disemayamkan di Tempat Pemakaman Umum yang ada di Ngagel Surabaya.

Makam Bung Tomo

Setelah 62 tahun menjadi salah satu pemimpin perjuangan arek-arek Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan, pada tanggal 10 November 2008, Bung Tomo akhirnya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Gelar Pahlawan Nasional bagi Bung Tomo tersebut diumumkan untuk pertama kalinya pada 10 Nopember 2008 oleh Mohammad Nuh yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika pada Kabinet Indonesia Bersatu. (*)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *