Press "Enter" to skip to content

Caleg dari Kalangan Artis, Jangan Hanya Bermodal Popularitas!

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Sejumlah Artis yang Menjadi Caleg Partai Nasdem

Fenomena yang sama dengan Pemilu 2014, yakni banyaknya nama-nama artis yang maju di panggung politik, kembali dapat ditemui pada Pemilu 2019 yang akan datang. Partai Nasional Demokrat misalnya, untuk Daerah Pemilihan  Jawa barat saja mengusung 10 artis sebagai calon anggota legislatif. Beberapa nama tersebut diantaranya adalah: Syahrul Gunawan, Krisna Mukti, Diana Sastra, Lucky Hakim, Olla Ramlan, Farhan, Conny Dio, Mandra, Della Puspita dan Nurul Qomar.

Sedang nama-nama artis yang diusung oleh partai yang lain diantaranya adalah Farhat Abbas, Tommy Kurniawan, Ivan Seventeen, Sundari Sukoco, Zora Vidyanata, Saleh Said Bajuri dan masih banyak lagi yang lain.

Menanggapi banyaknya parpol yang mengusung para artis untuk menjadi caleg, menurut Ketua DPR, Bambang Soesatyo bertujuan untuk meraih simpati publik. Meski demikian, parpol-parpol yang mengusung nama-nama artis dalam jumlah besar juga mengesankan kalau parpol tersebut malas kerja.

“Karena itulah Golkar tidak banyak mengusung caleg artis. Sebab partai politik juga harus mementingkan kader yang berkualitas agar dapat menyampaikan aspirasi rakyat di DPR,” ungkap Bamsoet. “Jadi, bagi Golkar, pertarungan pileg kedepan itu tidak hanya agar dapat menghasilkan kursi sebanyak-banyaknya, tapi juga harus mengedepankan calon-calon atau kader-kader yang berkualitas”.

Penilaian negatif terhadap adanya beberapa parpol yang mengusung banyak nama artis juga disampaikan Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus. Menurutnya, fenomena tersebut bukannya mendongkrak nama parpol tapi justru memberikan kesan negatif terhadap partai yang bersangkutan.

“Kesan yang muncul, partai politik tersebut memilih untuk bersikap pragmatis dan enggan bekerja keras untuk dapat meraih hasil yang gemilang,” terang Lucius. Meski unsur popularitas  menjadi salah satu strategi pemenangan dalam Pemilu, namun partai politik seharusnya melakukan kerja serius dalam bidang kaderisasi dengan menanamkan idiologi dan program-program partai, tidak terkecuali kepada para tokoh-tokoh populer. Sehingga tidak asal comot.

“Sekarang ini dengan mengenakan topeng sistem pemilu langsung, partai-partai politik merasa tidak bersalah ketika merekrut figur pesohor di last minute untuk menjadi caleg partai,” papar Lucius. Padahal yang akan terkena dampak dari fenomena tersebut adalah pemilih, karena perekrutan secara dadakan hampir bisa dipastikan akan mengabaikan kualitas.

Merekrut caleg secara kilat, tambah Lucius, tidak akan dapat menyentuh persoalan kapasitas, kapabilitas dan integritas. Akibatnya, apabila mereka nanti terpilih, akan berisiko tidak mampu bekerja sesuai dengan harapan dan keinginan dari pemilih dan konstituen.

Terkait dengan banyaknya artis yang mendaftar sebagai caleg, menurut peneliti dari LSI, Denny JA Ardian Sopa, karena mereka telah memiliki modal utama, yaitu popularitas disamping mereka juga kerap dimanfaatkan oleh partai sebagai sarana untuk mengumpulkan suara.

Namun,  popularitas saja menurut Denny masih belum cukup. Karena sebagai anggota parlemen mereka harus dapat berkiprah dengan baik dan untuk itu dibutuhkan intelektualitas.

“Selain intelektualitas juga harus ditambah dengan integritas agar bisa meninggalkan legacy,” papar Denny. Sebab untuk dapat menjadi anggota parlemen yang berhasil, dibutuhkan intelektualitas dan integritas. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *