Press "Enter" to skip to content

Persoalan Ini yang Akan Dibahas SBY dan Prabowo

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
SBY dan Prabowo

Rencana pertemuan antara Ketua Umum Partai Demokrat dengan Ketua Umum Partai Gerindra pada 18/7/2018 yang tertunda karena SBY mengalami kelelahan sehingga harus menjalani rawat inap di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, akhirnya disepakati untuk diundur pada 24/7/2018 yang akan datang. Rencana penjadwalan ulang pertemuan tersebut disampaikan oleh Ketua DPP Partai Gerindra, Ahmad Riza Patria di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, 20/7/2018.

Setidaknya ada tiga persoalan penting yang akan dibahas dalam pertemuan tersebut, yaitu: membahas tentang kondisi bangsa pada saat sekarang dan ke depan, membahas koalisi antar kedua partai dan membicarakan tentang cawapres, demikian menurut penuturan Riza.

Pembahasan tentang cawapres dilakukan karena saat ini para kandidat cawapres yang akan mendampingi Prabowo sudah mengerucut menjadi 5 nama, yaitu Ketua umum PAN, Zulkifli Hasan, dua dari sembilan nama yang diusulkan oleh PKS yaitu, Ketua Majelis Syuro PKS, Salim Segaf Al Jufri dan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan nama yang digadang-gadang oleh Partai Demokrat, yakni Agus Harimurti Yudhoyono.

“Namun, nantinya bukan Pak Prabowo atau Partai Gerindra yang memutuskan, melainkan forum rapat koalisi yang akan memutuskan siapa yang terbaik untuk diusung secara bersama sebagai cawapres Prabowo,” ungkap Ketua DPP Partai Gerindra ini.

Melalui pertemuan nanti, Ketua Umum Partai Gerindra ingin mendengar berbagai masukan dari SBY tentang format koalisi yang ditawarkan. Disamping itu, Gerindra juga ingin mendengarkan secara langsung dari SBY tentang nilai tambah dari sosok AHY yang ditawarkan sebagai cawapres.

“Sebagaimana kita ketahui bersama, selama ini AHY disebut-sebut memiliki segmen pasar pemilih pemula, pemilih milenial, cerdas, pintar dan ganteng,” ungkap Riza. “Nantinya, di dalam diskusi akan berkembang tentang apa saja nilai plus jika AHY menjadi cawapres.”

Diskusi tersebut tidak hanya akan dilakukan dengan Demokrat, tapi juga dengan calon mitra koalisi yang lain, seperti PAN dan PKS. Sehingga di dalam diskusi tersebut akan dibahas nama-nama dari kandidat yang dicalonkan sebagai cawapres pendamping Prabowo.

Terkait komunikasi intens yang dilakukan Partai Gerindra dengan Ketua Umum Partai Demokrat dan juga partai-partai yang lain, menurut Ketua DPP Partai Gerindra, Nizar Zahro, bukan berarti Gerindra meninggalkan PAN dan PKS yang selama ini hampir dipastikan akan berkoalisi. Komunikasi dengan partai yang lain tersebut dimaksudkan sebagai bentuk usaha guna menggalang kekuatan yang lebih besar agar dapat memenangkan Pilpres 2019.

“Kalau hubungan Gerindra dengan PAN dan PKS tidak bisa disamakan dengan hubungan Gerindra dengan partai-partai yang lain. Gerindra tetap konsisten membangun koalisi dengan PAN dan PKS. Karena kombinasi Gerindra, PAN dan PKS merupakan representasi rakyat dan umat Islam Indonesia. Gerindra merupakan partai yang bercorak nasionalis sementara PAN dan PKS partai yang berbasis agama. Perpaduan dari dua corak berbeda itulah yang diharapkan oleh rakyat dan umat Islam di Indonesia,” terang Nizar. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *