Press "Enter" to skip to content

“Ini Uneg-Uneg Kami (TNI), Jendral!”

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Tentara Nasional Indonesia (Photo: Illustrasi)

Sebuah ungkapan yang dituliskan secara anonym tersebar di dunia maya. Menyikapi pengeroyokan yang dilakukan sekelompok preman terhadap anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyentak masyarakat, rakyat Indonesia yang selama ini mempercayai TNI sebagai benteng  dan tembok kokoh penjaga negeri ini. Belum hilang dari ingatan, pada 15 Februari 2017 lalu, kasus Iwan Bopeng (Fredy Tuhenay) yang meremehkan keberadaan TNI dengan berani mengatakan ‘memotong-motong’ tentara.

Hal tersebut diucapkan Iwan Bopeng dengan nada tinggi saat berupaya menerobos dan berupaya melakukan intimidasi pada sebuah TPS saat pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 lalu. Meski kasus tersebut berdasarkan laporan media Merdeka,  dianggap telah selesai oleh pihak kepolisian, namun banyak respond yang bermunculan di dunia maya yang pada umumnya berasal dari prajurit TNI yang merasa dilecehkan oleh Iwan Bopeng. Meski demikian, secara resmi TNI saat tersebut tetap tenang dan tidak melakukan reaksi apa-apa.

Peristiwa pengeroyokan terhadap anggota TNI beberapa hari lalu mau-tak mau membuka lagi luka lama. Ungkapan hati berikut, bisa saja dituliskan oleh prajurit-prajurit TNI yang merasa perlu mengeluarkan uneg-unegnya. Sebuah curahan hati  barangkali juga mewakili nurani banyak prajurit yang selama ini terpendam oleh lautan kesabaran.


Rakyat sudah SANGAT MUAK

*Ijin…*
*Bpk Jendral Suryo Prabowo.*
*Dan bpk2 jendral lainya yg aktip/yg sdh purna, yg skrg berada di lingkaran Rezim ORSON*

*_Uneg2 kami TNI selama ini._*
Yang menjadi titik krusial disini bukan *”pengroyokannya”*
Bahkan kami (TNI) selama ini dihina, dicibir, dilecehkan dan di keroyok bahkan bunuh dan di tembak rekans sebelah, kami (TNI) tetap patuh pada hukum militer dan hukum pimpinan TNI.
Dan selama ini tdk ada pimpinan yg tegas membela kami, walaupun kami benar/salah.
Justru kalau kami (TNI) salah, seakan2 tdk ada ampun dan dianggap binatang/sampah.

*_Sekali lagi kami tegaskan disini…_* Yang menjadi titik krusial disini bukan *”pengroyokannya”* akan tetapi, *”Uniform/Baju Loreng kami”*
Seandainya saat terjadi pengroyokan tsb, rekans kami tidak menggunakan baju Loreng, mungkin kami (TNI) tidak akan sampai seperti ini. Dimanapun yg namanya Tentara, Baju Loreng adalah… *”Sakral”* Ketika seseorang mengenakan baju Loreng… artinya kental dgn *”jiwa korsa”* dan itu semua Bpk2 jendral yg menanamkan pd jiwa kami (TNI)
Dan semangat persaudaraan yg tinggi *(brotherhood)*

Begitu ratusan ribu tentara melihat seorang saudaranya yg menggunakan baju Loreng dikeroyok *(baik langsung maupun melalui video)* rasa persaudaraan jiwa korsa dan amarah pun timbul.
*Sebegitu rendahnya Engkau semua memandang baju Loreng kami…???*
*Sebegitu hinanya Engkau memperlakukan kami…???* Padahal selama ini… Kami diam dan mengalah.
Rasa.., itu pasti muncul di sanubari kami (TNI)
Dan Dampak dari itu semua yg ditimbulkan serta inilah yg bisa berakibat fatal.
Disitulah letak kesalahan seseorang ataupun sekelompok orang memandang “Loreng kami” dgn hina dan sebelah mata..
*Intinya cuma satu jendral… tentara itu sllu legowo* di apakan saja, kmi (TNI) selalu siaaap….
Ingat… Jendral… Rekans kami (TNI) berseragam Loreng dikeroyok dan lecehkan mereka preman/tukang parkir,
Kami (TNI) hanya minta kpd aparat penegak hukum utk menangkap pelaku pengeroyokan rekan kami 1X24 jam.
Setelah hukum tumpul dan dipermainkan….
Maka…. Loreng yg lain nya bangkit dan menggigit.

*_Hanya uneg uneg aja Jendraaalll_*

Baca juga: Mardani Ali Sera, “Kita butuh kekuatan besar di Parlement untuk realisasi RUU Pro-Umat!”

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *