Press "Enter" to skip to content

Lulusan S3, Bertahan saja di luar negeri, Jangan pulang!!

  • 7
  •  
  •  
  •  
    7
    Shares
Lulusan PhD Indonesia, tetap di luar negeri atau pulang kampung?

Sebuah pertanyaan yang jamak bagi setiap mahasiswa Indonesia yang berada di ambang pintu kelulusan. Khususnya bagi mereka yang kebetulan berkuliah di luar negeri tanpa sponsor dari Universitas/Institusi yang mengharuskan mereka pulang kembali untuk mengabdi ke tanah air.

“Pulang.. terus apa?”
Rata-rata mereka yang sudah hampir lulus, biasanya kebingungan menghadapi pertanyaan ini. Pulang ke tanah air, paling-paling jadi dosen. Tapi, menjadi dosen dimana? Tentu sebagai lulusan S3 luar negeri, inginnya menjadi tenaga pendidik di institusi pendidikan tinggi terkenal, misal: ITB, UI, IPB, ITS, dan UGM. Mungkin bisa saja bekerja di salah satu lembaga penelitian di Indonesia. Tapi pertanyaan berikutnya, bagaimana dengan sumber dana untuk membiayai riset-riset yang berkelanjutan? Implementasi risetnya kemana? Apakah ada industri yang bisa menggunakan bidang keilmuan mereka?

Seorang calon PhD, sebut saja misalnya (bukan nama asli): Aditya, memiliki orang tua berlatar belakang pegawai biasa, tidak memiliki channel banyak di instusi-institusi bonafit di Indonesia. Kemampuannyalah yang membawanya berhasil memenangkan persaingan memperoleh beasiswa dan bahkan mendapatkan beasiswa kerja selama di luar negeri hingga PhD. Cita-citanya yang ingin mengabdikan diri membagi pengalaman dan ilmunya di tanah air terhalang oleh beberapa faktor, dan salah satu faktor yang utama tentu saja masalah gaji.

Pengabdian dan idealisme penting, tapi perut perlu asupan. Aditya, sang calon PhD juga perlu berumah tangga dan menghidupi keluarganya. Idealisme saja tidak cukup. Apalagi, ditengah kondisi tanah air yang masih belum bisa memberikan penghargaan bagi cendikiawan-cendikiawan muda secara proporsional.

“Solusinya apa?”
Tidak susah. Kita tidak perlu malu untuk belajar dari India. Ada banyak orang India di Amerika Serikat, UK, Canada, dan bahkan di negara-negara Eropa yang menduduki posisi-posisi strategis di dunia akademis maupun industri. Mereka pada umumnya setelah selesai kuliah, jarang yang pulang. Mereka ingin bertahan dan bekerja di luar. Bagaimana bisa? Syaratnya cuma gigih, ulet, tidak gampang menyerah mencari pekerjaan hingga tetes darah terakhir.

So, bagi mahasiswa Indonesia yang mau lulus, bertahanlah di luar negeri! Dan jangan takut dengan isu “nasionalisme”. Semua akan redam dengan sendirinya, nah apa saja kiat-kiat bisa bertahan di luar negeri?

Ambil PostDoc Program
Ini cara yang paling realistis dan bisa menjadi jembatan sebelum berangkat ke jenjang industri. Biasanya di setiap universitas, mereka punya program postdoct program. Bahkan bukan tidak mungkin supervisor selama PhD juga memiliki proyek-proyek post-doctoral. Kejar kesempatan ini dan bangun jaringan dengan professor di dalam universitas ataupun di universitas lain yang dikenal lewat, misalnya, konferensi-konferensi yang diikuti.
Ada banyak sisi positifnya dengan mengambil program post-doc ini. Anda tetap berada di lingkungan kampus yang nyaman, namun memiliki waktu untuk belajar menjadi seorang manajer project yang membawahi beberapa mahasiswa sebagai pekerja-pekerja anda. Anda bukan lagi dituntut melakukan riset namun juga belajar menjadi seorang manajer tangguh, berhubungan dengan industri-industri terkemuka yang melempar isu dan permasalahan mereka ke dunia kampus.

Satu hal yang tetap harus ada di benak anda. Tetap awasi, peluang-peluang untuk lompat karir ke jenjang berikutnya. PostDoc bukanlah tujuan akhir!

Baca juga: Ini Kiat Mencari Kerja di Jerman!

Cari peluang bekerja sebagai Professor di luar negeri!
PhD sudah, PostDoc sudah. Jaringan pun sudah ada. Suatu ketika ada lowongan sebagai Professor/Dosen di universitas di negara tempat anda saat ini beraktifitas. So? Jangan pikir panjang. Selama itu sesuai dengan latar belakang pendidikan anda, kirimkan lamaran! Cantumkan sebagai referensi professor-professor dan rekan-rekan dari dunia akademisi yang anda kenal di resume anda!

Jika anda berhasil bekerja sebagai seorang professor di universitas di luar negeri, disinilah saatnya nasionalisme anda dibutuhkan. Seorang professor ibarat direktur perusahaan. Ia punya anggaran, punya proyek penelitian. Disini anda berkesempatan mengundang dan bahkan mempermudah jalan anak-anak Indonesia yang bertalenta yang sedang membutuhkan tempat untuk praktikum, tugas akhir, bahkan butuh bimbingan anda sebagai supervisornya.

Sering-sering cari Post Graduate Program dari Industri!

Industri yang berbasiskan riset akan selalu haus talenta-talenta muda berbakat. Biasanya mereka punya program untuk post graduate dan mengkhususkan diri untuk menyedot talenta-talenta mumpuni sebelum direbut kompetitor. Ini kesempatan anda. Silakan masuk ke situs-situs perusahaan yang anda inginkan, dan rajin-rajin browsing untuk mencari apakah disana ada post-graduate/graduate program. Sekali anda masuk, selanjutnya terserah anda. Disana akan ditawarkan banyak training dalam bidang apapun.  Umumnya pada tahap awal akan ada masa perkenalan perusahaan  sebelum anda memasuki secara detail, apa yang saat itu diinginkan perusahaan dari keahlian anda.

Baca juga: 2019, IGMetall usulkan kenaikan gaji 6%!

Bekerja sebagai Riset Engineer di Kampus atau Lompat ke Industri!

Yup, ini yang biasanya banyak dilakukan. Baik itu lulusan master ataupun PhD. Tidak usah takut dan ragu! Anda cuma harus rajin-rajin browsing di internet untuk mencari lowongan apa yang sedang ada saat ini. Rencakan jauh-jauh hari, sebelum anda lulus jika memang berniat untuk bertahan dan bekerja di luar negeri. Satu trik yang biasanya berhasil, dekati professor anda, gunakan jaringan dia untuk bisa mempromosikan anda bekerja di perusahaan yang ia kenal. Atau, buat profile di LinkedIn, dan aktifkan asisten pencari kerja sesuai dengan latar belakang anda di situs tersebut. Jangan lupa baca tautan ini mengenai strategi mengejar peluang bekerja di negeri Hittler serta kiat mengatur lamaran kerja!

Nah, sekali lagi ketika kita bicara nasionalisme. Jika anda telah bekerja dan berpenghasilan di luar negeri. Ada banyak cara untuk menunjukkan nasionalisme anda. Keluarga adalah negara dalam bentuk paling kecil. Bantu orang tua dan sanak famili yang telah terus menerus mendoakan keberhasilan anda selama di luar negeri. Syukur-syukur, anda bisa memberikan beasiswa buat saudara-saudara yang berotak cerdas untuk berkuliah di luar negeri dan menempuh jejak yang sama dengan anda!

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.