Press "Enter" to skip to content

China Hancurkan Bangsa Uighurs Lewat Kerja Paksa dan Cuci Otak!

  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
    2
    Shares
Bukan di Israel, Bangsa Uighur harus hidup dalam pengawasan militer Beijing

China pernah melewati masa suram pada perioda 1957 hingga 2013, dimana pada saat itu kamp pendidikan ulang diperkenalkan untuk menangkap, memenjarakan, dan menghukum penjahat-penjahat kecil, pencuri, pemakai narkoba, prostitusi dan semua jenis pembangkang termasuk para politisi tanpa melalui prosedur hukum.

Hukuman selama di kamp pendidikan ulang biasanya berjalan selama satu hingga tiga tahun dengan kemungkinan penambahan satu tahun. Selama periode 1957-2013 tersebut, tercatat sekitar 190-000 hingga 2 juta warga China yang menjadi tahanan. Sebelum secara resmi melakukan penutupan pada 2013 lalu, setidaknya terdapat sejumlah 350 kamp pendidikan ulang yang tersebar di China.

Penutupan tersebut karena banyaknya tekanan terutama dari Amnesty Internasional yang menduga keras adanya pelanggaran hak asasi manusia di kamp pendidikan ulang tersebut, berupa penyiksaan, kerja paksa, dan pencucian otak.

Baca juga: Kanada harus bersuara atas perlakuan Beijing ke minoritas Uighur!

Namun, China ternyata telah menghidupkan kembali kamp pendidikan ulang yang di khususkan untuk bangsa Uighur. Hanya dalam waktu singkat, semenjak 2017 ketika isu adanya penangkapan masyarakat yang tinggal di daerah yang dulunya bernama Turkistan Timur ini bergulir, setidaknya jumlah tahanan di kamp pendidikan ulang telah mencapai lebih dari 1 juta jiwa.

Angka ini setidak-tidaknya menunjukkan bahwa sekitar 11.5 persen penduduk Uighur antara usia 20 hingga 79 tahun ditahan.

Pada awalnya China membantah adanya penangkapan dan penahanan serta keberadaan kamp pendidikan ulang tersebut. Namun melalui bukti-bukti yang ada, China mengakuinya namun menyatakan bahwa aksi penangkapan penduduk Uighur tersebut sejalan dengan aksi kontra-terrorisme yang secara global telah diperkenalkan.

Bagi mereka yang berhasil keluar dari kamp pendidikan ulang, disebutkan bahwa didalamnya mereka secara sistematis dicuci otak untuk meninggalkan dan membenci bahasa, budaya, dan tradisi dari budaya Uighur. Mereka juga dipaksa untuk berbahasa mandarin dan mengakui ideologi komunis China.

Baru-baru ini New York Times melaporkan bahwa China telah membangun pabrik di kamp-kamp dan memaksa para tahanan Uighurs bekerja selama ditahanan. China tampaknya berupaya memanfaatkan potensi keberadaan jumlah tahanan yang besar untuk dipekerjapaksakan di pabrik-pabrik tekstil, mie dan percetakan.

Berdasarkan laporan yang dikutip dari keluarga para tahanan, para tahanan tersebut bekerja dengan upah yang sangat minimum da bahkan tidak dibayar apa-apa. Komunikasi dengan keluarga dibatasi dan diawasi secara ketat.

Apa yang dialaami bangsa Uighur ini merupakan sebuah krisis kemanusiaan yang luar biasa setelah dunia juga bungkam dengan krisis kemanusiaan yang terjadi di Palestina dan Rohingya. Masyarakat global harus mengambil tindakan jika tidak ingin terjadi genosida peradaban dan kebudayaan Uighur melalui kerja paksa dan pencucian otak di kamp pendidikan ulang.

Referensi: www.washingtonpost.com

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.