Press "Enter" to skip to content

Sejarah Kebangkitan Nasional Indonesia, Pergerakan Menuju Merdeka (1)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Dr. Soetomo

Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati bangsa Indonesia setiap tanggal 20 Mei, merupakan momen untuk menumbuhkan kembali rasa nasionalisme, karena peristiwa yang melatarbelakangi peringatan Harkitnas tidak dapat dilepaskan dari sejarah bangkitnya bangsa Indonesia dari keterpurukan dan ketidakmampuan untuk dapat merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Bangkitnya rasa persatuan dan kesatuan dari anak-anak bangsa tersebut, dilatarbelakangi oleh peristiwa global pada abad XVIII, yakni perkembangan tekhnologi yang sedemikian pesat akibat dari Revolusi Industri.

Ketika itu tenaga kerja manusia digantikan oleh mesin-mesin industri yang membuat PHK terjadi dimana-mana. Disisi lain, tenaga kerja manusia masih tetap diperlukan, namun hanya terbatas bagi kalangan terdidik yang bekerja sebagai operator mesin industri.

Dampak dari Revolusi Industri tersebut tidaka hanya dirasakan oleh Inggris, melainkan juga Belanda yang telah menancapkan kekuasaannya di Indonesia. Kebutuhan bahan baku industri yang meningkat pesat akibat digunakannya mesin-mesin industri, dimanfaatkan oleh Belanda untuk meningkatkan kas negara berkali-kali lipat lewat ekspor tanaman industri yang sebenarnya ditanam oleh oleh rakyat Indonesia.

Besarnya permintaan pasar terhadap bahan baku industri, membuat Pemerintah Belanda di Indonesia semakin serakah dengan mengeksploitasi bangsa Indonesia lewat Tanam Paksa. Dampaknya, rakyat Indonesia harus menjalani hidup yang sangat berat, kualitas hidup semakin menurun, kemiskinan, kesengsaraan dan wabah penyakit tersebar dimana-mana.

Dr. Soetomo dan Para Pelajar di STOVIA yang Mendirikan Boedi Oetomo

Meluasnya wabah penyakit utamanya yang diderita para pekerja rodi itulah yang membuat Pemerintah Belanda Khawatir, akan terjadi penurunan produktifitas pekerja, sementara dokter-dokter yang memberikan layanan kesehatan, pada saat itu jumlahnya sangat terbatas.

Guna memenuhi kebutuhan tenaga  kesehatan itulah pada tahun 1849, Pemerintah Belanda mendirikan semacam kursus tenaga kesehatan bagi anak-anak Pribumi di daerah Gambir, tepatnya di Military Hospital (saat ini RSPAD Gatot Subroto).

Baca juga: Sejarah Kebangkitan Nasional Indonesia, Pergerakan Menuju Merdeka Bagian 2

Setelah berjalan selama 4 tahun, kursus tersebut ditingkatkan menjadi Sekolah Dokter Djawa yang lulusannya berhak menyandang gelar Dokter Djawa. Sekolah ini pada tahun 1889 selanjutnya berubah nama menjadi STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen).

Selain STOVIA, “Politik Balas Budi” yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda adalah dengan mendirikan berbagai macam sekolah dengan harapan dapat melahirkan generasi pekerja terdidik yang bisa digaji dengan murah.

Baca juga: Ini 5 Teknik Menulis Artikel Buat Kamu Pelajar dan Mahasiswa!

Ternyata, strategi yang dijalankan oleh Pemerintah Belanda tersebut tidak sepenuhnya memberikan hasil yang positif, karena buah dari “Politik Etis” tersebut justru melahirkan sosok-sosok yang berempati terhadap bangsanya, seperti HOS Tjokroaminoto, Soetomo, Soewardi Soerjaningrat, Agus Salim, Dr. Tjipto Mangunkusumo, RA Kartini, Dewi Sartika dan masih banyak lagi yang lain.

Berbekal pendidikan yang mereka peroleh, sosok-sosok yang memiliki keperdulian terhadap nasib bangsanya tersebut berjuang dengan melakukan pergerakan yang muaranya pada “Kemerdekaan Indonesia”. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.