Press "Enter" to skip to content

Fenomena Etika Pemilu 2019, “Strategi Labelisasi Hoax dan Pesimistik”

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Strategi menyebar hoax ditengah pesta demokrasi Pemilu 2019

Strategi Labelisasi Hoax dan Pesimistik

Oleh: Hadiwijaya

Pertarungan antara pasangan Jokowi-Maruf dan Prabowo-Sandi semakin memanas.

Posisi Jokowi-Maruf dalam kondisi yang sangat sulit dalam pilpres 2019 saat ini, karena banyak janji2 yang disampaikan saat kampanye 2014 yang tidak dapat dipenuhi. Beberapa janji bahkan terkesan memang diingkari, seperti import bahan pangan yang dijanjikan akan dihentikan, menyusun kabinet yang ramping, dan tidak bagi2 kursi menteri ke partai pendukung.

Tentu saja pengingkaran janji serta kegagalan memenuhi janji ini sangat berpengaruh besar terhadap menurunnya elektabilitas dan dukungan terhadap Jokowi.

Baca juga: Politik Para Hipokrit

Strategi yang dilakukan agar elektabilitas dan dukungan tidak semakin merosot, adalah kubu Jokowi membangun opini bahwa kubu PAS adalah sumber hoax. Hal ini bertujuan jelas, jika persepsi bahwa kubu PAS adalah produsen hoax maka semua fakta-fakta kegagalan pemenuhan janji dan pengingkaran janji akan menyebabkan rakyat awam tidak mempercayainya.

Itu sebabnya dalam pilpres kali ini miskin ide dan gagasan. Diskusi hanya berkutat diseputar masalah2 kecil yang dibesar2kan, data yang dikesankan tidak valid dan selanjutnya dilabelkan sebagai hoax.

Lihatlah bagaimana pada saat mengomentari pidato kebangsaan Prabowo. Kubu Jokowi sama sekali tidak tertarik mengkritisi ide dan gagasan, tetapi lebih fokus pada mengangkat issue “gaji dokter yang lebih rendah daripada tukang parkir”, yang dipersepsikan sebagai data yang tidak valid dan hoax. Namun ketika dari IDI menyampaikan data bahwa banyak dokter yang bergaji rendah issue ini lenyap begitu saja.

Demikian pula dalam debat pertama capres/cawapres tanggal 17 Januari 2019, kubu Jokowi hanya mempersoalkan besar Malaysia versus Jawa Tengah yang didefinisikan sebagai luas. Sama sekali tidak ada diskusi terkait ide dan gagasan. Arah tujuannya jelas: membuat data Prabowo dikesankan tidak valid lalu dilabelisasi hoax.

Strategi kedua untuk mencegah elektabilitas yang semakin tergerus adalah dengan menstigma bahwa Prabowo-Sandi sebagai pesimistik, sedangkan Jokowi-Maruf optimistik. Kata “sontoloyo” dan “gunderuwo” mengemuka terkait hal ini.

Nampaknya hal ini seperti sederhana. Namun sesungguhnya tidak. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar rakyat yang awam tidak menyadari potensi2 permasalahan yang terjadi di masa depan akibat kesalahan pengelolaan pemerintahan yang terjadi pada saat ini.

Dapat dibayangkan jika rakyat awam menyadari bahwa akibat hutang2 yang semakin besar, defisit neraca perdagangan, import bahan pangan yang berlebihan terhadap bangsa ini di masa depan, pastilah mereka tidak akan mau memilih Jokowi kembali.

Jadi bisa terpahami, kenapa pada pilpres kali ini masyarakat hanya ribut hal2 yang remeh dan tidak substansial. Karena memang hal tersebut adalah bagian dari strategi yang direncanakan dengan masak.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.