Press "Enter" to skip to content

Rizal Ramli: Impor Semakin Ugal-ugalan & Melebihi Kebutuhan

  • 1
  •  
  •  
  •  
    1
    Share
rizal ramli

Rencana dilakukannya tambahan impor gula sebanyak 1,1 juta ton pada  Januari –  Mei 2019 ditanggapi dengan sinis oleh pakar ekonomi, Rizal Ramli dalam sebuah acara talkshow di salah satu televisi swasta pada 24/1/2019.

“Dulu saya kagum pada Mas Jokowi, karena saat kampanye menyebut ‘kita harus menolak impor pangan’. Tapi, apa yang terjadi saat ini, menterinya justru doyan impor dan tidak sesuai Trisakti.”

Kekecewaan mantan Menteri koordinator Bidang Kemaritiman ini dipicu oleh meningkatnya impor gula sepanjang tahun 2018 sebesar 4,63 juta ton, ditambah rencana penambahan impor sebesar 1,1 juta ton.

Lewat impor yang dilakukan tersebut, Indonesiapun menempati posisi pertama sebagai negara pengimpor gula terbesar di dunia untuk periode 2017 – 2018, disusul Tiongkok serta Amerika Serikat.

Rizal  sebenarnya tidak anti terhadap impor. Tapi jika impor dilakukan secara ugal-ugalan serta melebihi kebutuhan, maka yang dirugikan adalah petani. Karena disaat petani memproduksi tebu lebih banyak, kemudian pada saat panen harga gula lokal kalah dengan gula impor, maka dampaknya harga tebu akan merosot.

“Impor gula sebenarnya sah-sah saja apabila memang dibutuhkan.Tapi saat ini yang terjadi, kita justru kelebihan impor gula!” ungkap Rizal.

Terkait dengan impor gula, yaitu perizinan impor raw sugar atau gula industri oleh Kementrian Perdagangan, ada kecurigaan dari Wakil Ketua DPP Gerindra, Arief Poyuono bahwa ada konspirasi busuk antar dua kementrian yang bertujuan untuk mencari dana Pilpres dan Pileg melalui impor raw sugar.

“Industri makanan dan minuman seolah butuh raw sugar sehingga menteri perindustrian mengeluarkan rekomendasi impor gula industri kemudian menteri perdagangan mengeluarkan izin impornya,” ungkap Arief yang mengaku mengantongi informasi bahwa yang akan mendapat ijin melakukan impor raw sugar adalah perusahaan milik dua petinggi parpol.

“Modusnya, impor nanti hanya berisi 30 persen raw sugar dan 70 persen white sugar (gula konsumsi), karena keuntungannya lebih besar menjual white sugar dibanding raw sugar,” tambah Arief.

Sebelumnya, Ketua DPR, Bambang Soesatyo juga meminta, agar Kemendag mengkaji ulang keputusan penambahan impor gula agar dapat menyerap hasil gula dari para petani dalam negeri.

“Agar secara psikologis para petani tebu merasa mendapat perlindungan dari pemerintah serta memberikan motivasi kepada mereka dalam menggarap lahan,” papar Bamsoet sambil  meminta Kemendag untuk mencari data pembanding ke BPS sebagai bahan pertimbangan sebelum melakukan penambahan impor gula. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.