Press "Enter" to skip to content

Menelusuri Jejak Sejarah Hancurnya Kerajaan Singasari dan Berdirinya Kerajaan Majapahit (1)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Raja Kertanegara dan Lahirnya Embrio Gagasan Nusantara

Candi Singasari, Sisa-sisa Peninggalan Kerajaan Singhasari di Malang

Diantara sekian banyak catatan sejarah yang bercerita tentang kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara pada masa lampau, Nama Kerajaan Singasari dengan rajanya Abhiseka Sri Kertanegara (1254 – 1292) menjadi salah satu cataatan yang layak untuk diroreh dengan tinta emas.

Karena pada masa pemerintahan Kertanegara inilah banyak terjadi peristiwa bersejarah seperti lahirnya embrio gagasan Nusantara dalam bentuk perluasan cakrawala mandala yang direaliasasikan dalam ekspedisi Pamalayu, perlawanan terhadap hegemoni Kerajaan Yuan – Mongol yang melakukan invasi ke Jawadwipa (Pulau Jawa), serta yang lain.

Kertanegara membawa Kerajaan Singhasari pada masa-masa kejayaannya, namun dia pula yang menjadi raja terakhir dari kerajaan yang pemerintahannya berpusat di Malang, Jawa Timur ini.

Merujuk pada Kitab Nagarakretagama/Desawarnana, Kitab Pararaton, naskah Yuan shi, Kidung Panji-Wijayakrama, Prasasti Mula-Malurung, Kidung Harasawijaya dan beberapa bahan pusataka yang lain, inilah jejak sejarah masa-masa keemasan dan kehancuran Kerajaan Singhasari serta berdirinya Kerajaan Majapahit.

Menurut Nagarakretagama pupuh 41/3, Kertanegara dinobatkan sebagai Raja Muda di Daha oleh ayahnya Wisnuwardhana pada tahun 1176 saka (1254 M). Sebagai putra mahkota, dia berhak mewarisi tahta ayahandanya. Itu sebabnya, setelah Wisnuwardhana meninggal pada tahun 1270, dia dinobatkan sebagai Raja Agung yang membawahi Singhasari, Jenggala, dan Tumapel.

Arca Bairawa yang dipercaya sebagai Perwujudan Raja Kertanegara

Kertanegara adalah seorang raja yanag cerdas, berpikiran luas dan memiliki pengetahuan yang mendalam tentang ajaran Hindu aliran Syiwa serta agama Buddha aliran Tantrayana, sehingga dalam Kitab Pararaton, dia disebut Batara Syiwa Buddha.

Selain itu dia juga seorang yang ambisius, merasa dirinya paling kuat dan paling benar, sehingga tidak boleh ada satu orangpun yang berbeda pendapat dengan dirinya dan tidak ada satu orangpun yang bisa memberikan masukan kepada dirinya.

Sifat ambisius itulah yang melahirkan embrio untuk melakukan ekspansi dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan lain di wilayah Nusantara serta menjadikan kerajaan-kerajaan tersebut sebagai bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Singhasari.

Sementara sifatnya yang angkuh, merasa diri paling benar dan paling kuat, memakan banyak korban di dalam tubuh kerajaan. Orang-orang baik, jujur dan pemberani, oleh Kertanegara disingkirkan hanya karena berbeda pendapat dengan dirinya atau memiliki pemikiran yang berseberangan dengan dirinya.

Mereka yang menjadi korban dari sifat buruk Kertanegara tersebut diantaranya adalah Mahamenteri atau Patih Amangkubhumi Raganata yang diturunkan dari jabatannya menjadi Ramadhyaksa dan ditempatkan di Tumapel, Patih Wiraraja diturunkan kedudukannya menjadi Adipati dan ditempatkan di Madura  Timur, Tumenggung Wirekreti dilorot jabatannya untuk dijadikan mantri angabhaya atau menteri pembantu, serta beberapa pejabat kerajaan yang lain.

Ilustrasi Pemberontakan di Singhasari

Diturunkannya dan juga dipecatnya sejumlah wreddha mantri serta diangkatnya yuwa mantri atau mantri muda membuat rakyat mulai tidak menyukai kepemimpinan Kertanegara. Selain itu juga muncul kesenjangan antara generasi tua atau pejabat pada masa Wisnuwardhana dengan generasi muda atau pejabat di masa Kertanegara yang antusias mendukung gagasan Kertanegara dalam melakukan ekspansi atau perluasan cakrawala mandala.

Selain mengganti pejabat-pejabat lama kerajaan, Kertanegara juga melakukan perombakan  besar-besaran di bidang administrasi sehingga para pejabat lama yang mengabdi sejak jaman Wisnuwardhana harus tersingkir dan diganti dengan pejabat-pejabat baru apabila tidak sejalan dengan politik ekspansi yang akan dijalankan  oleh Kertanegara. Perombakan besar-besaran tersebut membuat suasana di Singhasari semakin memanas.

Kekecewaan rakyat Singhasari itulah yang berbuntut pada terjadinya pemberontakan bersenjata, dua diantaranya adalah pemberontakan Kelana Bhayangkara dan pemberontakan Cayaraja. Meski pada akhirnya pemberontakan tersebut berhasil ditumpas, namun telah menghambat gagasan Kertanegara untuk memperluas wilayah hingga ke tanah Melayu. (bersambung) (AGK)

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.