Press "Enter" to skip to content

Jokowi Semakin Agresif, Bukti Elektabilitas Prabowo Salip Petahana

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Joko Widodo

Memasuki bulan Pebruari 2019, capres nomor urut 01 beserta kubunya terlihat ngotot dalam mengklarifikasi isu-isu yang menyerang pemerintah dan semakin agresif dalam menyerang kubu lawan. Gaya ngegas yang ditunjukkan oleh Jokowi tersebut salah satunya dengan menyebut tim sukses lawan politiknya memakai tenaga konsultan asing serta menggunakan “Propaganda Rusia” dalam berkampanye. Perubahan gaya Jokowi dalam berkampanye tersebut justru disambut gembira oleh kubu Prabowo, karena hal tersebut menunjukkan bahwa hasil survey internal yang dilakukan salah satu partai pendukung Prabowo – Sandi benar, yakni terjadinya penurunan elektabilitas petahana hingga dibawah 50 persen sepanjang bulan Desember 2019 – Januari 2019.

“Saya sempat ragu, apakah benar elektabilitas Pak Jokowi menurun hingga dibawah 50 persen pada bulan Desember – Januari? Kalau memang turun, kenapa tidak ada perubahan taktik dan strategi dalam berkampanye? Sebab, calon yang elektabilitasnya turun, biasanya akan lebih agresif dalam menyerang lawannya,” ungkap Anggota Dewan Pakar BPN (Badan Pemenangan Nasional) Prabowo – Sandi, Dradjad Wibowo pada 04/02/2019.

Pertanyaan tersebut, tambah politisi PAN ini akhirnya terungkap begitu memasuki bulan Februari, seiring dengan terjadinya perubahan gaya Jokowi dalam berkampanye yang terkesan lebih agresif dibanding waktu-waktu sebelumnya.

“Sekarang serangan yang dilontarkan semakin gencar. Artinya sudah terjadi perubahan  taktik dan strategi sekaligus mengkonfirmasi hasil survey,” kata Dradjad.

Pendapat senada juga disampaikan Jubir BPN, Dahnil Anzar Simanjuntak yang mengatakan bahwa agresifitas yang ditunjukkan Jokowi dalam berpolitik menunjukkan bahwa elektabilitasnya terus merosot. Dahnil bahkan mengklaim kalau elektabilitas Prabowo saat ini sudah menyalip Jokowi.

“Elektabilitas sudah mulai crossing. Kami yakin, dalam dua bulan ini Jokowi akan tertinggal jauh,” ungkap Dahnil dengan nada optimis.

Perubahan gaya Jokowi dalam berpolitik sebagaimana disampaikan kubu Prabowo – Sandi, tidak disangkal oleh TKN (Tim Kampanye Nasional) Jokowi – Ma’ruf. Namun perubahan tersebut bukan disebabkan karena elektabilitas Jokowi yang menurun melainkan karena alasan yang lain.

“Memang benar, kalau dulu beliau banyak diam, sekarang gaspol dengan gaya yang lebih lugas dan lebih tegas dalam menjawab isu-isu tidak benar yang ditujukan kepada beliau. Ini sebenarnya bukan strategi, namun akan menjadi gaya beliau hingga akhir masa kampanye,” terang Jubir TKN, Meutya Hafid.

Perubahan gaya berpolitik Jokowi tersebut, tambah Meutya, dimaksudkan untuk meraih undecided voters atau suara pemilih yang masih belum menentukan sikap dan pemilih yang masih belum menentukan sikap pada umumnya bersikap rasional yang tidak dapat didekati secara emosional.

“Kami melihat, hingga April nanti, penentu utama dari undecided voters saat ini adalah bagaimana bisa menjelaskan sejelas-jelasnya kepada mereka,” kata Meutya.

Itu sebabnya TKN tidak khawatir terhadap perubahan gaya Jokowi dalam berkomunikasi yang terlihat semakin agresif, karena perubahan gaya tersebut diyakini tidak akan membuat pendukung Jokowi berbalik tidak suka, karena para pendukung Jokowi sudah solid. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.