Press "Enter" to skip to content

Pemilu 2019, Angka Golput Bakal Meningkat

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Golput

Mendekati hari H pelaksanaan Pemilu 2019, angka Golput (Golongan Putih) menurut peneliti Pemilu bukannya semakin berkurang, tapi justru semakin meningkat. Bahkan diperkirakan akan melebihi Golput pada Pileg dan Pilpres 2014 yang berkisar antara 28 – 30 persen.

Mantan Koordinator Kontras, Haris Azhar mengatakan, meningkatnya jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama kaarena kedua kandidat masih belum menawarkan program-program yang menyentuh masyarakat secara langsung dan justru hanya saling serang dengan isu-isu yang tidak substantif hanya demi untuk mengatrol elektabilitas. Begitu juga dengan tim sukses dari kedua kubu hanya melemparkan isu-isu yang kurang bermutu.

Penyebab kedua adalah persoalan tekhnis dan administratif yang disebabkan karena calon pemilih tidak mempunyai kesempatan mengurus surat keterangan pemindahan wilayah pemilih serta karena persyaratan digunakannya KTP elektronik.

Penyebab ketiga adalah waktu pelaksanaan Pemilu yang juga berpotensi memicu naiknya angka Golput karena dilaksanakan menjelang libur panjang. Sebagaimana diketahui, Pemilu yang digelar pada Rabo, 17 April 2019 ditetapkan sebagai hari libur nasional, tanggal 18 hari Kamis, masyarakat biasa menyebit “Hari Kejepit” karena pada Jumat 19 April merupakan hari libur Paskah. Sementara Sabtu dan Minggu memang hari libur. Itu sebabnya, masyarakat yang memiliki pikiran pragmatis, lebih memilih berlibur dibandingkan datang ke TPS.

Golput sendiri menurut Haris Azhar merupakan pilihan dan hak masyarakat, jika memang  tidak ada calon pemimpin yang dapat mewakili kepentingan mereka.

“Masyarakat tidak perlu takut.Jika memang capres yang maju orang yang tidak memiliki komitmen, tidak memiliki pengalaman serta tidak pernah berkeringat dan berdarah-darah melawan korupsi, maka tidak perlu kita pilih,” papar Haris yang secara pribadi memutuskan untuk tidak memilih salah satu dari kedua kandidat capres pada Pemilu 2019.

Menanggapi pendapat tentang kemungkinan meningkatnya angka Golput pada Pemilu 2019, Hasyim Asy’ari, Komisioner KPU menyampaikan bahwa untuk mengantisipasi persoalan tersebut perlu dilakukan dua pendekatan, yaitu pendekatan psikologis – sosiologis dan pendekatan lewat desain kelembagaan Pemilu.

“Untuk aspek psikologis dan sosiologis bukan ranah KPU melainkan ranah partai dan calon, karena hal tersebut menyangkut tingkat kepercaan pemilih terhadap calon, baik profil maupun visi-misi dan program mereka dalam berkampanye,” terang Hasyim.

Sedang untuk pendekatan lewat desain kelembagaan Pemilu, Komisioner KPU ini menyampaikan bahwa sebagai KPU, pihaknya akan menjelaskan dan melakukan analisa dengan menggunakan. desain kelembagaan Pemilu.

“Berdasarkan pendekatan yang kedua ini, dalam sistem Pemilu proporsional, partisipasi pemilih biasanya tencerung tinggi dibanding single member constituency atau sistem Pemilu kursi tunggal.  Sehingga kami yakin desain Pemilu serentak 2019 ini dapat mendorong partisipasi yang tinggi atau sekitar 77,5 persen,” pungkas Hasyim Asy’ari. (AGK)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DaimcaNews © 2018-2019.